Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Cemburu.


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan kemudian..


Hari ini adalah hari ke 2 minggu dimana Vanya tengah menjalani masa PKL nya.


Sesuai dengan apa yang pihak sekolah katakan, peringkat 1-10 di bebaskan untuk memilih di mana mereka akan menjalani masa PKL. Dan seperti apa yang di katakan sebelumnya, Vanya memilih untuk menghabiskan masa PKL nya di PT. Rumah Linux, dengan Haidar yang juga akan menghabiskan masa PKLnya di tempat yang sama seperti Vanya.


Awalnya, Vanya tidak mengijinkan Haidar untuk menghabiskan masa PKL di tempat yang sama dengannya. Selain karena jarak rumah Haidar yang terlalu jauh, juga karena mereka yang kini memiliki hubungan.


Bukannya Vanya tidak senang akan keinginan Haidar. Hanya saja, Vanya tidak ingin ada konflik jika mereka harus menghabiskan masa PKL di tempat yang sama.


Tapi, bukan Haidar namanya jika pria itu tidak bisa mendapatkan apa yang di inginkannya. Pria itu memohon pada Vanya dengan berbagai cara agar Vanya mengijinkannya untuk menghabiskan masa PKL di tempat yang sama. Hingga mau tidak mau, Vanya pun akhirnya mengijinkan Haidar untuk menghabiskan masa PKLnya di tempat yang sama.


Dan ya, di sini lah mereka sekarang, tengah berkutat dengan pekerjaan yang selama 2 minggu terakhir ini menjadi rutinitas mereka.


Haidar yang sudah menyelesaikan pekerjaannya pun melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Setelah melihat jam yang menunjukkan pukul 12.05 siang, Haidar pun beranjak dari duduknya kemudian melangkah menuju ruangan tempat di mana Vanya menghabiskan masa PKLnya.


Karena ya, setelah mereka masuk ke PT. Rumah Linux, mereka di tempatkan di bagian yang berbeda. Di mana Haidar di tempatkan di bagian pengoperasian aplikasi, dan Vanya yang di tempatkan di bagian pemrograman aplikasi.


Namun, ketika Haidar akan masuk ke dalam ruang Vanya, pria itu menaikkan sebelah alisnya tat kala melihat *Heru yang kini tengah melihat komputer Vanya.


Namun, bukan itu yang membuat Haidar menaikkan sebelah alisnya. Melainkan posisi pria itu yang terlihat seolah-olah tengah merangkul Vanya. Di mana tangan tangan Heru yang bertumpu pada sandaran kursi belakang tempat Vanya duduk dengan tubuh Heru yang sedikit membungkuk.


*Heru : Salah satu murid PKL


Katakanlah Haidar cemburu.. Tapi, siapa yang tidak cemburu jika melihat pacarmu sedang dalam posisi sedikit intim dengan seorang pria?


Setelah menghela nafas guna meredam perasaan cemburunya, Haidar lantas masuk ke dalam ruangan itu tanpa menghiraukan tatapan dari beberapa orang yang menjadi rekan kerja Vanya.


"Va.." Haidar memanggil Vanya dengan suara rendahnya.

__ADS_1


Heru yang mendengar itu pun segera menegakkan tubuhnya lalu berkata. "Eh elu Dar, kirain siapa.. Ngagetin aja.."


Namun, Haidar sama sekali tidak menghiraukan perkataan Heru, bahkan untuk melirik saja tidak. Pria itu lebih memilih untuk menatap Vanya yang kini juga tengah menatapnya.


"Ayo makan siang.." Haidar berkata dengan suara yang terdengar sedikit menggeram.


Yang mana, hal itu seketika membuat Heru mengusap tengkuknya canggung lalu memilih untuk kembali ke mejanya.


Vanya yang menyadari perubahan suara Haidar pun segera beranjak dari duduknya, lalu menggandeng tangan Haidar menuju kantin tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Sesampainya di kantin, Vanya dan Haidar segera memesan makanan kemudian duduk di salah satu meja yang tersedia di sana.


Setelah mereka menghabiskan makan siang mereka, Vanya lantas menatap Haidar yang kini tengah menatapnya dengan sangat tajam.


"Tatapan mata Lu aneh.. Kenapa?" Vanya bertanya kemudian meneguk minumannya.


"Tadi si Heru ngapain?" Haidar langsung bertanya ke inti permasalahannya tanpa berbasa basi lagi.


Vanya mengangkat bahunya acuh. "Tadi katanya dia udah 4x ngeprogam tapi salah terus. Udah minta di ajarin ke *Kak Wulan, tapi kak wulannya lagi ngerjain laporan, jadi di suruh buat minta di ajarin ke yang udah bisa dulu. Terus ya gitu, dia minta gua buat ngajarin dia.."


"Emang harus ya posisinya kaya gitu? Terus fungsinya kursi buat apa kalo ga di pake buat duduk.. Dia emang niat banget kayanya pengen ngerangkul-rangkul elu.." Haidar berceloteh seraya bersedekap dada.


Haidar menganggukkan kepalanya tanpa ragu. "Gua kan udah bilang kalo gua orang yang cemburuan.."


Vanya lantas menaikkan sebelah alisnya kemudian mengulum senyumnya.


"Lu ngapain senyum-senyum? Cowoknya lagi cemburu bukannya di hibur atau gimana kok malah senyum-senyum.." Haidar kembali berceloteh dengan alis yang sedikit menukik.


Vanya menggelengkan kepalanya kemudian berkata. "Lu lucu kalo lagi cemburu.."


"Tcih.." Pria itu bedecih lalu memalingkan wajahnya.


Vanya menghela nafasnya kemudian tersenyum kecil. "Yaudah iya sih.. Nanti lagi gua suruh dia buat duduk di kursi.."


Haidar kembali menatap Vanya dengan sedikit memicingkan matanya. "Kenapa ga ngomong aja sih kalo kita pacaran. Atau Lu emang mau nutupin hubungan kita?"

__ADS_1


Vanya yang mendengar hal itu pun seketika terkekeh geli. "Ya orang ga ada yang nanya, mana ada gua niat buat nutup-nutipin hubungan kita.. Masa iya gua harus tiba-tiba ngomong gini (eh, gua udah punya pacar), atau (Eh, gua pacaran sama si Haidar). Gitu kan ga lucu Dar.. Kecuali kalo ada orang yang nanya, ya gua jawab kalo gua udah punya pacar, pacarnya elu.."


"Gitu?" Haidar bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya.


"He, em.." Gadis itu berguman seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Haidar pun mengedikkan bahunya. "Yaudah kalo gitu.."


"Yudah senyum.." Vanya berkata seraya tersenyum simpul.


Haidar lantas mengembangkan senyum manisnya kemudian melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Yok masuk lagi, udah abis jam istirahatnya."


Vanya menganggukkan kepalanya.


Mereka pun beranjak kemudian segera berlalu pergi dari sana.


Namun, ketika mereka masuk ke dalam kantor. Haidar sedikit bingung tat kala melihat Vanya yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Pria itu lantas menoleh untuk menatap Vanya yang hanya terdiam kaku.


"Va.. Lu kenapa?" Haidar bertanya seraya menyentuh bahu Vanya.


Namun, Vanya sama sekali tidak memberikan merespon apapun.. Pandangan mata gadis itu terus terpaku pada seorang pria yang tengah duduk berbincang bersama dengan atasannya di sofa yang tersedia di lobby kantor.


Wajah gadis itu kini mulai memucat tat kala tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata pria itu. Mata seorang pria yang sangat di kenali oleh Vanya, juga seorang pria yang telah menorehkan luka terbesar di dalam hati Vanya.


Ya.. Pria itu adalah Bagas..


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2