
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ck, haiiissssh..."
Vanya menyingkap selimut yang di kenakannya karena merasa tidak nyaman. Sungguh, semakin gadis itu berusaha untuk tertidur, semakin sulit pula untuk dia benar-benar terlelap. Karena entah kenapa.. Gadis itu benar-benar merasakan kegundahan di dalam hatinya.
"Kok perasaan gua ga enak ya.." Gadis itu bergumam seraya menatap langit-langit kamar.
Vanya lantas menoleh pada teman 1 kamarnya yang sudah terlelap. Gadis itu kemudian memutuskan untuk beranjak dari tidurnya, dia berniat untuk berjalan-jalan di sekitar pinggir pantai guna mencari udara segar.
Vanya berharap, dengan berjalan-jalan, setidaknya dia akan merasakan sedikit kantuk.
Setelah mengenakan jaketnya, Vanya pun membuka pintu kamar dengan perlahan, dia takut membangunkan temannya yang sudah terlelap.
Namun, saat Vanya sedikit menyembulkan kepalanya keluar pintu, dia terdiam tat kala melihat seorang gadis yang naik ke lantai 2 melalui tangga.
Vanya yang merasa penasaran pun kini merubah tujuannya menjadi mengikuti gadis itu.
Setelah memastikan gadis itu benar-benar naik ke lantai 2, Vanya pun keluar dari kamarnya kemudian melangkah dengan tanpa suara untuk menyusul gadis itu.
Vanya benar-benar penasaran tentang siapa gadis itu. Dan juga, untuk apa gadis itu naik ke lantai 2 di saat tengah malam seperti ini.
Tapi, saat Vanya hendak menginjakkan kakinya pada anak tangga pertama, gadis itu mengurungkan niatnya. Karena dia pikir, untuk apa dia ikut campur dengan urusan orang lain. Toh apa pun yang akan di lakukan gadis itu juga tidak akan merugikannya.
Vanya pun memilih untuk mengurungkan niatnya, gadis itu lantas kembali berbalik arah menuju keluar dari penginapan itu.
Namun, saat Vanya hendak melewati kamar bernomor 4, gadis itu kembali menghentikan langkahnya karena pintu kamar itu sedikit terbuka.
"Bentar deh, bukannya itu kamarnya Wulan ya?" Gadis itu bergumam seraya mendekati kamar no 4.
Vanya lantas membuka kamar itu, di mana di dalam sana hanya ada *Sasa yang tengah bermain ponsel.
__ADS_1
*Sasa : Salah satu siswa magang yang di tempatkan di bagian yang sama dengan Vanya.
Melihat Vanya yang berdiri di ambang pintu, seketika membuat Sasa mengembangkan senyum kecilnya. "Ada apa Va?"
Vanya menggelengkan kepalanya. "Ga papa, cuma ga bisa tidur aja.. Lu sendirian?"
"He em.." Sasa menganggukkan kepalanya. "Kak Wulan lagi keluar, mau cari angin katanya."
Mendengar apa yang di katakan oleh Sasa, seketika membuat Vanya mengerutkan keningnya. "Emang dia kapan keluarnya?"
"Barusan kok, belum ada 5 menit kalo ga salah." Sasa menyahut dengan cepat.
Yang mana, perkataan yang di ucapkan Sasa tiba-tiba saja membuat jantung Vanya berdegup dengan sangat cepat. Vanya tiba-tiba saja terpikirkan oleh gadis yang baru saja menaiki tangga.
"Jangan-jangan??" Vanya bergumam di dalam hatinya.
Dan tanpa berpikir panjang lagi, Vanya lantas segera berlari untuk naik ke lantai 2. Dengan harapan apa yang dipikirkannya tidak menjadi kenyataan. Meninggalkan Sasa yang merasa sedikit bingung melihat tingkah Vanya.
Saat Vanya sudah berada di lantai 2, gadis itu terlihat sedikit bingung karena dia tidak tahu kamar mana yang di tempati oleh Haidar.
Sampai akhirnya, Vanya memutuskan untuk mendekati kamar yang lampunya masih menyala terang. Gadis itu berdiri di depan pintu kamar bernomor 24 dengan jantung yang terus saja berdetak dengan sangat cepat.
Vanya kemudian mendorong pintu kamar itu hingga terbuka dengan lebar. Yang mana, apa yang ada di dalam sana benar-benar membuatnya merasa sangat terkejut setengah mati.
Di mana Wulan terlihat tengah duduk di atas tubuh Haidar yang terlihat tidak sadarkan diri.
Wulan yang melihat kedatangan Vanya pun juga merasa terkejut. "Bodoh, kenapa gua lupa ngunci pintu!!" Gadis itu menggerutu di dalam hatinya.
Dengan langkah panjang, Vanya lantas mendekati Wulan kemudian menjambak rambut gadis itu.
"Anj..ing lu ya!!" Vanya mengeret rambut Wulan agar turun dari atas tubuh Haidar.
"Yak, yaakkk, yaaaaaakkkk.. Assshhhh.. Sakiiiittt.. Vanyaaaaa, lepasin!!! Itu sakiiiittt!!!" Wulan berusaha melepaskan tangan Vanya dari rambutnya.
Namun, Vanya tidak menghiraukan Wulan, gadis itu tetap menggeret Wulan hingga keluar dari kamar. Vanya kemudian menghempaskan Wulan dengan sangat kasar hingga membuat Wulan tersungkur ke atas lantai keramik penginapan itu.
__ADS_1
Wulan yang merasa tidak terima akan perlakukan Vanya pun hendak beranjak untuk membalas perlakuan Vanya. Namun, Vanya sudah lebih dulu mencengkram rahang Wulan menggunakan tangan kirinya.
Vanya menatap Wulan dengan sangat tajam. "Dasar ***..*** ga tau diri!!" Gadis itu berkata dengan sangat sarkas seraya menatap Wulan dengan sangat nyalang.
Merasa terhina atas apa yang di katakan oleh Vanya, membuat Wulan seketika meludah tepat di wajah Vanya. Yang mana, apa yang di lakukan oleh Wulan itu mendapatkan tamparan keras yang di layangkan oleh tangan kanan Vanya. Tamparan keras yang berhasil menghasilkan cap 5 jari yang tercetak sempurna di pipi Wulan.
"Arghh.. Sialan!! Anjiiiing lu ya!!!" Wulan berteriak dengan sangat nyaring.
Yang mana keributan yang di lakukan oleh Wulan dan Vanya berhasil mengundang perhatian beberapa penghuni penginapan tersebut. Termasuk mereka-mereka yang tengah melakukan rekreasi. Para gadis yang ada di lantai bawah pun juga segera naik ke lantai 2 untuk melihat keributan apa yang tengah terjadi.
Tapi beruntungnya, tidak banyak yang menginap di tempat itu selain dari para staf kantor dan para siswa magang. Sehingga tidak terlalu banyak yang menonton keributan yang tengah di lakukan Wulan dan Vanya.
"Kalian kenapa sih malem-malem gini kok pada ribut?" Sasa bertanya seraya mendekati Vanya yang terlihat sangat emosi.
Wulan yang kini berada di dalam pelukan Irwan pun mulai terisak kecil. "Dia nampar gua, padahal gua ga tau salah gua apa."
Mendengar apa yang di katakan Wulan, seketika membuat Vanya menampilkan ekspresi tidak percayanya.
"Lu bilang ga tau apa-apa? Heh ***..***, apa yang udah lu kasih ke Haidar sampe dia ga sadar kalo lu lagi duduk di atas badannya? Gua ga mungkin ngasih lu pelajaran kalo apa yang lu lakuin itu engga ngelewatin batas. Gua masih maafin lu meskipun lu udah nyosor-nyosor Haidar di tempat parkir kantor!! Tapi apa yang lu lakuin kali ini bener-bener udah ngelewatin batas!!!" Vanya berkata dengan suara rendahnya, gadis itu masih berusaha untuk mengontrol emosinya.
Mendengar apa yang di katakan oleh Vanya, seketika membuat mereka yang ada di sana merasa terkejut setengah mati.
Mereka yang kebetulan ada di depan pintu kamar Haidar pun melongokkan kepalanya untuk melihat keadaan Haidar. Dan benar saja, apa yang di katakan oleh Vanya benar adanya. Karena meskipun ada keributan keributan yang dapat di dengar oleh seluruh penghuni penginapan pun, Haidar sama sekali tidak membuka matanya.
Mereka yang sudah melihat kondisi Haidar pun kini menatap Wulan dengan sangat sinis.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..