
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Gumaya Hotel and Resto..
"Jadi, kapan kalian nikah?"
"Uhuk!!" Vanya seketika saja tersedak makanan yang sedang dia kunyah.
Haidar dengan sigap memberikan segelas air untuk Vanya.
"Kamu ga papa?"
Vanya mengangguk kecil. "Aku ga papa."
Haidar lantas menoleh pada kakeknya yang duduk di hadapannya.
"Kek.."
"Apa? Bukannya kemarin kamu nyuruh kakek dateng kesini buat bahas pernikahan?"
"Ya maksudku engga dalam waktu dekat ini juga kek. Ini kecepetan.. Aku ga minta kakek buat dateng hari ini kek.."
"Loh, apa salahnya? Justru lebih cepat itu lebih baik. Kalian juga umurnya udah mau 22 kan. Nikah muda ga ada salahnya. Kakek dulu juga nikah muda. Mamah sama papahmu juga nikah muda. Kita semua nikah di bawah umur 25 tahun. Dan pernikahan kita pun baik-baik aja."
"Dengerin kakek Haidar.. Yang utama itu bukan umur, tapi komitmen kalian buat ngejalaninnya. Apa lagi yang harus kalian pikirin? Uang, udah ada. Rumah, udah punya. Kendaraan juga udah jelas ada. Kalo kalian masih mau bebas pacaran, ya pacaran setelah nikah, ga usah buru-buru buat punya anak. Yang penting kalian kemana-mana tu statusnya udah jelas. Sebenernya, di dalam ajaran agama apa pun, pacaran itu di larang."
"Ga baik bawa anak gadis dalam status pacaran terlalu lama. Kalo kamu emang serius, yaudah nikahin. Jangan kayak yang lainnya, pacaran sampe bertahun-tahun tapi ga jadi nikah. Kamu enak, di umur berapa pun kamu nikah, ga akan jadi omongan. Lain halnya kalo cewek, dia belum nikah di umur 25 aja udah di sebut perawan tua."
"Lagian juga nih ya, Kakek yakin seratus persen, cowok yang pengen nikahin Vanya tu banyak, ga cuma kamu doang. Kamu mau Vanya keburu di nikahin sama cowok lain?"
Vanya terdiam, dia tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Sungguh, dia tidak menyangka kalau pertemuan pertama dengan kakek Haidar akan menjadi seperti ini. Topik pembicaraan ini benar-benar di luar dari apa yang Vanya dan Haidar rencanakan.
Ya walaupun sebenarnya sedikit banyaknya Vanya menyetujui apa yang kakek Haidar katakan. Tapi tetap saja kan, Vanya merasa pembahasan mengenai pernikahan ini terlalu cepat.
Sedangkan Haidar, dia melirik Ayahnya. Namun Andi hanya menanggapi Haidar dengan mengangkat bahunya acuh. Karena ya, mau bagaimana pun juga, apa yang di katakan oleh kakek Haidar memang benar adanya.
Haidar lantas melirik Vanya yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Tapi Vanya masih pengen kerja kek.."
Haidar masih mencoba mencari alasan. Bukan karena dia tidak ingin segera menikahi Vanya, tapi karena dia sama sekali belum membahas masalah pernikahan dengan Vanya.
__ADS_1
Sejujurnya, Haidar sangat ingin menikahi Vanya. Haidar bahkan bisa saja langsung menentukan tanggal pernikahan saat ini juga. Hanya saja, Haidar ingin membahas masalah ini dengan Vanya terlebih dahulu. Haidar tidak ingin menjadi pria egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.
"Kerja ya tinggal kerja. Dulu nenekmu juga, setelah nikah masih tetep kerja. Itu tergantung kamunya Haidar. Setelah nikah, kamu ngijinin Vanya buat kerja apa engga?"
Haidar mengusap tengkuknya, dia melirik Vanya sekilas. "Ya sebenernya sih ngijinin aja.. Selama Vanya nyaman, ya itu sih terserah dia. Yang penting dia ga lupa sama kewajibannya dia sebagai seorang istri."
"Sekarang tinggal kamunya Va.. Kamu mau ga nikah sama cucu kakek? Kehidupan kamu pasti terjamin. Ya meskipun cucu kakek ga cakep cakep banget, tapi setidaknya hidup dia udah mapan dan bisa menjamin kehidupan kamu."
"A, ha ha.." Vanya seketika saja tertawa canggung, suasana tegang yang di rasakan Vanya tiba-tiba saja mencair.
Sedangkan Haidar, dia memutar bola matanya. Bisa-bisanya kakeknya berkata seperti itu di saat tegang seperti tadi.
"Kek, kakek sebenernya nyangjung Haidar atau ngejatuhin Haidar sih. Kalo Haidar ga cakep, mana mungkin Vanya mau sama Haidar."
"Ya siapa tau Vanya khilaf sampe sekarang."
"Paaah.. Astaga.." Haidar menatap Andi dengan sangat sengit.
"Kakek kasih kalian waktu sampe sebelum kakek pulang ke California buat mikirin hal ini. Sebelum kakek pulang ke California, kakek mau kalian udah nentuin tanggal pernikahan kalian."
Haidar menjatuhkan rahangnya. "Seminggu?"
Kakek Haidar menganggukkan kepalanya.
"Ga bahas pertunangan dulu aja kek?"
Haidar menggenggam tangan Vanya di bawah meja.
Vanya lantas menoleh pada Haidar kemudian menyunggingkan senyum kecilnya, gadis itu seolah memberikan isyarat kalau dia tidak ada masalah dengan hal itu.
"Yaudah, Haidar bakalan ngasih tanggalnya sebelum kakek pulang ke California."
Kakek Haidar dan Andi menyunggingkan senyumnya.
"Bagus.. Itu baru cucu kakek.."
.......
.......
.......
Apartment Haidar...
"Va, lu beneran mau nikah sama gua? Lu tadi kayak gitu engga cuma buat nyenengin hati kakek gua doang kan?"
__ADS_1
Vanya menatap Haidar dengan tatapan jahilnya. "Kalo guanya engga mau, gimana?"
"Vaaaa.. Gua serius.." Haidar menatap Vanya dengan tatapan lesu.
"Bercanda ih.. Gua mau nikah sama lu.. Ya kalo gua ga mau, ga mungkin dong gua masih sama lu sampe sekarang. Bahkan setelah lu ngilang tanpa kabar selama hampir 4 tahun."
"Kan gua udah jelasin alesannya.. Masa lu masih dendam aja sih sama gua?"
Vanya seketika saja terkekeh geli. "Yaudah iya, maap.."
"Terus lu mau nikah kapan? Tanggal berapa? Bulan apa?"
Vanya menghela nafasnya untuk sejenak, ada beberapa hal yang menjadi beban pikirannya.
"Gua ga tau.. Gua sih terserah lu aja, tapi.."
Haidar menaikkan sebelah alisnya. "Tapi?"
"Bukannya kita tetep harus minta ijin dulu sama bokap nyokap gua ya? Mereka masih idup, ga mungkin kan gua nikah tanpa ngasih tau mereka. Tapi.. Gua ga bisa nebak, rekasi mereka bakalan kayak gimana. Gua takut kalo mereka justru ngusir gua dari rumah mereka.. Gua takut.."
Haidar menarik Vanya untuk masuk ke dalam pelukannya. Jujur saja, Haidar sempat melupakan hal ini.
"Ga usah takut.. Ada gua.. Gua bakalan nememin lu buat minta ijin. Toh, kalau pun respon mereka ga baik. Gua tetep bakalan nikahin lu, gimana pun caranya."
"Tapi.."
"Udah, ga usah ada tapi lagi.. Yang penting sekarang lu mau nikah sama gua aja itu udah cukup kok.. Yang lainny, kita bisa pikirin sambil jalan. Gua yakin, orang tua lu pasti nyambut lu dengan baik kok. Ga mungkin kan mereka ngusir anaknya yang mau minta ijin buat nikah."
Vanya menghela nafasnya, dia mengangguk dengan lesu.
Ya meskipun sebenarnya Vanya merasa takut, tapi setidaknya Haidar ada bersamanya. Vanya akan mencoba untuk mempercayakan semuanya pada Haidar.
Karena selain itu, apa lagi yang bisa Vanya lakukan? Toh, untuk nanti kedepannya pun, hidup Vanya tetap akan bergantung pada Haidar.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..