
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Bandara International Jogjakarta..
"Gua bakal kangen banget sama luuu..."
Nisa memeluk Vanya dengan sangat erat, dia tak kuasa menahan isak tangisnya.
"Gua juga bakal kangen sama lu.."
Vanya membalas pelukan Nisa dengan tak kalah eratnya. Bedanya, gadis itu tidak menangis, kedua matanya hanya terlihat berkacak.
Bukannya tidak merasa sedih, hanya saja.. Vanya bisa lebih kuat menahan air matanya di bandingkan dengan Nisa.
"Udahan pelukannya.. Keburu telat entar.."
"Bentar-bentar, 5 menit lagi aja.."
"Uhuk! Niisss.. Gua ga bisa nafas!"
Vanya menepuk punggung Nisa beberapa kali.
"Ck! Ah, jahat elu mah.."
Nisa melepas pelukan mereka dengan sedikit enggan, tangisannya sudah berhenti.
"Jahat gimana, yang ada elu tu yang jahat sama gua. Meluk kok kayak orang nyekek, lu mau perpisahan sama gua buat yang selama-lamanya?"
Nisa seketika saja mencomot bibir Vanya, dia menatap Vanya dengan sangat sinis.
"Huus!! Mulutnya.. Tiati lu kalo ngomong!"
"Yaudah yaudah.. Sana lu ah.."
Vanya mendorong Nisa agar segera masuk ke dalam bandara.
"Yaudah, bye."
Nisa berlalu pergi dari sana dengan langkah yang sedikit lunglai.
"Bye.." Lirih Vanya.
Tapi sedetik kemudian, Nisa membalikkan tubuhnya ke arah Vanya. Dia berjalan mundur menuju ke dalam bandara.
"Aa, bye Vanya.. Kesayangan Nisa.."
Nia melambaikan tangannya pada Vanya.
Vanya seketika saja terkekeh geli, dia membalas lambaian tangan Nisa.
"Bye Nisa.. Kesayangan Vanya.."
Lalu, Nisa pun kembali berjalan dengan benar.
Setelah memastikan Nisa menghilang dari jarak pandangnya, Vanya pun segera pergi dari sana.
Sedih memang rasanya harus kembali berpisah dengan sahabat terkasihnya. Tapi, mau bagaimana lagi? Mereka sudah menentukan jalan mereka masing-masing.
Ya meskipun mereka kini tinggal berjauhan, tapi setidaknya mereka masih bisa berkomunikasi lewat panggilan suata atau pun panggilan Vidio.
Setidaknya, mereka juga masih bisa bertemu walau pun dalam waktu yang tidak tentu.
Setelah ini, Vanya akan mencari kerja.
Dia akan menabung untuk bergantian mengunjungi Nisa. Jangan hanya Nisa saja yang mengunjunginya. Vanya tidak ingin menjadi sahabat yang jahat yang hanya menunggu kedatangan Nisa saja.
Lain kali, dia juga akan memberikan kejutan pada Nisa dengan datang mengunjungi Nisa secara diam-diam.
Ya meskipun sebenarnya Vanya tidak mampu, tapi Vanya tetap akan mengusahakannya.
Saat dia hendak membuka pintu mobilnya, dia harus menghentikan niatnya tat kala seseorang menepuk bahunya.
Vanya sedikit terkejut melihat orang yang menepuk bahunya adalah Vino.
__ADS_1
"Kak Vin? Kakak ngapain di sini?"
Vino menyunggingkan senyum kecilnya. "Nganter papah sama papah, mereka hari ini berangkat ke jepang."
"Ooh.." Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kamu sendiri, ngapain?"
"Habis nganterin sahabat aku.."
Vino mengangguk kecil.
"Yaudah kalo gitu kak, aku duluan ya.."
"Eh, tunggu Va."
Vino mencekal tangan Vanya.
Vanya mengerjapkan matanya, dia melirik tangannya yang di pegang oleh Vino.
Menyadari arah tatapan mata Vanya, Vino pun segera melepaskan tangan gadis itu.
"Ah, sorry.."
"Kalo misalkan kita minum kopi dulu gimana? Udah lumayan lama kita ga ngobrol. Kamu ga sibuk kan? Mumpung kita ada di luar, sekalian aja. Aku juga habis ini ga ada kerjaan, jadi bingung mau ngapain.."
Vino berkata dengan penuh harap. Karena sungguh, dia benar-benar merindukan Vanya.
Sebenarnya, bisa saja Vino langsung datang ke tempat kost gadis itu. Hanya saja, Vino tidak ingin mengganggu waktu tenang gadis itu. Karena Vino tau, butuh waktu yang lama untuk Vanya bisa menenangkan diri.
Vino juga sebenarnya ingin menjadi orang yang bisa menenangkan Vanya. Tapi apalah daya, dia belum terlalu dekat dengan Vanya. Jika Vino memaksakan kehendaknya, Vino merasa sedikit takut kalau nantinya Vanya akan semakin menjauhinya.
Vanya lantasberpikir untuk sejenak.
Haruskah dia menolak ajakan Vino?
Tapi, dia sudah berkali-kali menolak ajakan Vino dengan berbagai alasan.
Vanya kini tidak tahu lagi harus memberikan alasan apa untuk menolak ajakan dari Vino. Vanya juga merasa tidak enak hati jika harus terus menerus menolak ajakan Vino.
"Yaudah, mau ngopi di mana?"
"Di cafe depan situ aja yang deketi, mobilnya biar parkir di sini aja.. Ga papa kan?"
Vanya menganggukkan kepalanya. "Ga papa.."
Mereka pun menuju Cafe yang ada di area bandara.
Mereka duduk di meja yang terletak di dekat jendela.
"Lu duduk sini aja dulu, biar gua yang mesen. Americano kan?"
Vanya mengangguk kecil. "Thanks ya kak."
"Ga usah sungkan.."
Vino pun segera memesan kopi untuk mereka.
Vanya lantas menatap setiap sudut cafe.
Ini pertama kali Vanya mengunjungi Cafe ini. Tempat ini terasa sangat nyaman untuk seukuran cafe bandara, tidak jauh berbeda dengan halnya cafe seperti pada umumnya.
"Suka sama tempatnya?"
Vino duduk di kursi yang berhadapan dengan Vanya.
Vanya mengangguk kecil. "Lumayan nyaman buat seukuran cafe bandara."
"Bagus lah kalo lu suka sama tempatnya."
Vanya menyunggingkan senyum kecilnya.
"Gimana kabar kamu?"
"Baik.. Kakak sendiri gimana?"
"Kayak yang kamu liat, aku agak kurang baik."
__ADS_1
Vanya mengernyitkan dahinya. "Kakak sakit? Kalo kakak sakit, mending kita pulang aja.."
Vino menggelengkan kepalanya. "Bukan karna sakit."
"Terus?"
Raut wajah Vanya terlihat sedikit bingung.
"Karena rindu.."
"Hah? Rindu?"
Vanya kini merasa semakin bingung, terlbih lagi dengan Vino yang tiba-tiba saja terkekeh kecil.
"Hmm.. Rindu.. Kakak rindu sama kamu."
Vanya seketika saja menjatuhkan rahangnya. Sejak kapan pria dingin di hadapannya ini berubah menjadi pria yang pandai merayu?
"Kurang ngena di hati ya?" Vino mengusap tengkuknya canggung.
"Ah itu.. Hehe.." Vanya hanya bisa tersenyum canggung.
Obrolan pun terus berlanjut, banyak hal yang di bicarakan oleh dua orang berbeda jenis kelamin itu.
Hingga tak terasa, 3 jam pun berlalu begitu cepat.
"Kak, maaf nyela omongan kakak. Tapi, kayaknya aku harus pulang deh.. Aku mau bikin lamaran kerja."
"Ooh.. Ok.. Emang kamu mau kerja di mana?"
"Belum tau, mau nyoba nyari aja.."
"Yaudah kalo gitu, balik sekarang?"
Vanya menganggukkan kepalanya.
Mereka pun keluar dari cafe itu.
"Thanks ya kak kopinya, lain kali gantian aku yang beliin kopi buat kakak."
"Ya, aku tunggu.. Hati-hati di jalan ya."
Vanya menganggukkan kepalanya, dia lantas segera melajukan mobilnya.
Saat di dalam perjalanan pulang, Vanya merasa seperti ada yang mengikutinya.
Dia melirik ke arah belakang melalui kaca spionnya.
"Apa cuma perasaan gua aja ya?"
Vanya berusaha mengabaikannya, dia mempercepat laju mobilnya menuji tempat kostnya.
Dengan sedikit tergesa, Vanya keluar dari dalam mobilnya setelah dia memarkirkan mobilnya di depan tempat kostnya.
Namun, saat Vanya hendak membuka pintu gerbang kostnya. Tiba-tiba saja ada seseorang yang membekap mulutnya menggunakan sapu tangan.
au menyengat seketika saja menjalar menusuk ke dalam indra penciumannya.
Vanya berusaha memberontak dari cekalan orang itu.
Namun, karena bau itu terlalu menyengat, membuat Vanya lambat laun mulai kehilangan konsentrasinya.
Tubuhnya perlahan mulai lemas, kepalanya berdenyut dengan sangat kuat, pandangan matanya pun mulai mengabur.
Hingga pada akhirnya, Vanya benar-benar kehilangan kesadarannya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..