
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah kejadian itu, Wulan kini benar-benar menjauhi Vanya. Gadis itu sama sekali enggan untuk berbicara dengan Vanya. Bahkan untuk pekerjaan penting sekalipun, gadis itu lebih memilih untuk mencari partner lain dari pada harus berurusan dengan Vanya.
Sedangkan Vanya, dia yang menerima sikap seperti itu pun hanya menanggapinya dengan acuh tak acuh. Toh tidak lama lagi juga dia akan menyelesaikan masa PKL nya. Dan juga, nilai yang akan di capainya bukanlah Wulan yang menentukan.
Jadi Vanya tidak ingin ambil pusing akan hal itu. Vanya lebih memilih untuk melaporkan segala hasil kerjanya pada Pak Tomi secara langsung.
Pernah 1x Tomi bertanya kepada Vanya mengenai hal ini. Namun, Vanya lebih memilih untuk tidak menjawabnya. Gadis itu hanya bisa beralasan kalau dia menyerahkan laporan hasil kerja PKL nya bersama dengan hasil kerja freelance nya. Jadi, akan lebih simpel jika Pak Tomi menerima 2 hasil kerja itu secara langsung.
Pak Tomi yang tidak mau terlalu ikut campur akan hal itu pun hanya bisa mengiyakan keinginan Vanya. Toh hasil kerj yang di berikan oleh Vanya juga sangatlah memuaskan, bahkan melebihi ekspetasinya. Jadi, tidak ada salahnya kan Pak Tomi sedikit mengistimewakan Vanya?
Begitulah Vanya menjalani sehari-harinya di kantor setelah kejadian itu. Bekerja sendiri dan langsung menyerahkan hasil laporannya kepada Pak Tomi secara langsung. Dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja, bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Tapi, tidak dengan Wulan. Beda sikapnya kepada Vanya, beda pula sikapnya kepada Haidar. Meskipun sudah mendapatkan penolakan mentah, bahkan sudah mendapatkan makian dari Haidar. Gadis itu masih saja berusaha mencari kesempatan untuk mendekati Haidar.
Sedikit tidak tahu diri memang, atau lebih tepatnya tidak tahu malu, tapi begitulah Wulan. Perempuan yang terlihat lembut dari luarnya, namun memiliki jiwa yang sangat ambisius di dalam dirinya.
Karena Wulan terlahir dari keluarga yang tergolong cukup kaya sehingga keluarganya selalu memberikan apa pun yang Wulan inginkan. Wulan kini menjadi gadis ambisius yang harus selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.
Selain itu juga, Wulan selalu menjadi diri yang tidak pernah ingin kalah dari siapa pun juga dan dalam hal apa pun itu. Termasuk masalah percintaan. Meskipun hingga saat ini Wulan selalu tersakiti dalam hal percintaan. Tapi sejatinya, itu adalah karena kesalahannya sendiri.
Ya, contohnya seperti sekarang ini. Meskipun Wulan tau kalau Haidar sudah menjadi milik Vanya, Wulan tetap saja menginginkan Haidar menjadi miliknya. Karena menurutnya, selama Vanya dan Haidar belum terikat pernikahan, maka masih banyak jalan yang bisa di tempuh untuk mendapatkan Haidar.
Ya meskipun Haidar selalu menghindari Wulan dan Vanya selalu menggagalkan aksi Wulan di setiap kesempatan yang ada. Wulan tidak akan pernah menyerah sebelum dia benar-benar merasa kalah.
Tapi ya.. Begitulah.. Jiwa ambisiusnya itu tertutup dengan rapi oleh sikap lemah lembut yang selalu dia tunjukkan kepada siapa pun. Hingga membuat orang tidak sadar jika Wulan memiliki jiwa ambisius yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Termasuk untuk mendapatkan posisinya sekarng ini.
Ya, Wulan mendapatkan posisi sebagai kepala bagian pemrograman aplikasi sekarang ini, itu hasil dari mencurangi temannya yang juga di calonkan sebagai kandidat kepala bagian.
__ADS_1
Begitulah Wulan, gadis yang terlihat lemah lembut dari luar, namun memiliki jiwa ambisius di dalam dirinya.
Sama halnya seperti saat ini, dia yang tengah berkumpul dengan para penanggung jawab penugasan PKL pun mengusulkan untuk melakukan acara perpisahan sebelum para siswa PKL menyelesaikan masa PKL nya.
Dan ya, mereka yang ada di sana pun menyetujui usulan Wulan. Tanpa tahu jika Wulan memiliki niat terselubung di balik usulannya itu.
*****
Dan sesuai dengan apa yang Wulan usulkan. Kini, 1 minggu sebelum para siswa PKL menyelesaikan masa PKL mereka. 12 orang siswa PKL dan 6 orang staf penanggung jawab masa PKL pun melakukan rekreasi selama 1 hari 1 malam di daerah pantai.
Mereka menyewa salah satu penginapan yang ada di area pantai untuk mereka menghabiskan malam. Dengan 8 orang pria di lantai 2, dan 10 orang gadis di lantai 1.
Setelah menghabiskan siang hari untuk beristirahat sejenak di dalam kamar mereka masing-masing, kini mereka mulai melalui sore hari dengan berkumpul di area sekitaran pinggir pantai. Menghabiskan waktu dengan becanda tawa dan bermain air hingga mereka merasa puas. Di akhiri dengan menyantap ikan panggang sebagai hidangan makan malam mereka.
Setelah menyelesaikan menyantap makan malam, mereka pun kini kembali berkumpul di area pinggir pantai untuk menghabiskan waktu yang masih tersisa.
Mereka duduk melingkar dengan tikar sebagai alas duduk mereka, dan dengan api unggun kecil sebagai sarana untuk menghangatkan tubuh di malam yang terasa sangat dingin ini.
Salah satu staf pria yang tengah berkumpul di sana yang bernama Irwan tiba-tiba saja beranjak dari duduknya.
"Ngambil gitar, sepi kalo cuman ngumpul-ngumpul doang." Sahut Irwan.
"Oh, okay.."
Irwan pun berlalu pergi dari sana untuk mengambil gitar yang memang sebelumnya dia bawa.
Setelah menunggu untuk beberapa saat, Irwan pun kembali dengan membawa gitar klasik kesayangannya.
Pria itu lalu kembali duduk pada posisi sebelumnya, di mana dia duduk di sebelah kiri Wulan. Bersebrangan dengan Vanya dan Haidar yang juga duduk bersebelahan.
"Ayo, siapa yang bisa nyanyi? Gua bisa gitar, tapi ga bisa nyanyi soalnya." Irwan berkata dengan semangat.
Namun sayangnya, tidak ada satu pun dari mereka yang berinisiatif untuk menyanyi.
Irwan yang melihat hal itu pun hanya bisa mendengus. Pria itu lantas menoleh pada Wulan. "Nyanyi Wul, ya kali lu ga bisa nyanyi."
__ADS_1
Wulan seketika menggelengkan kepalanya. "Ga ah, ga bisa nyanyi gua.. Nanti jatohnya jadi musiknya ke kanan, nyanyinya ke kiri."
Irwan lagi-lagi hanya bisa mendengus, pria itu memutuskan untuk bergumam seraya memetik gitarnya. Menghasilkan melodi merdu yang menenangkan di telinga mereka yang mendengarnya.
Hingga setelah memetik gitar untuk ya kesekian kalinya, Irwan tiba-tiba saja menghentikan jarinya karena teringat akan suatu hal. Pria itu lantas menatap Vanya.
"Eh, itu.. Elu, yang pake kaos warna abu-abu, siapa namanya?" Irwan berkata dengan sedikit bingung, mencoba untuk mengingat nama Vanya.
Vanya yang merasa terpanggil pun menunjuk dirinya sendiri seraya menoleh ke arah kanan dan kirinya.
Mereka yang ada di sana pun terlihat bingung akan maksud apa yang sedang di pikirkan oleh Irwan.
"Gua kak?" Vanya bertanya dengan sedikit bingung.
"Iya elu.. Kalo ga salah nama lu Vanya kan?" Tanya Irwan.
Vanya menganggukkan kepalanya.
"Nah, nyanyi cepet.. Lagu apa aja terserah.." Irwan berkata seraya hendak kembali memetik gitarnya.
"Hah? Gua? Nyanyi?" Vanya masih terlihat bingung sekaligus terkejut.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1