
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Namun, bukannya mendapatkan kejelasan, Haidar hanya mendapatkan anggukan kecil dari Yoko seolah mengatakan kalau dia yang akan mengurus semuanya.
Dengan begitu, Haidar pun kembali menoleh pada Heru.
"Bukan aku yang mutusin buat bawa atau enggaknya hal ini ke jalur hukum.. Yang mutusin semua ini tetep Vanya karena Vanya yang jadi korbannya.. Akan lebih baik kalo Winda sendiri yang nemuin Vanya buat minta maaf sama dia." Tutur Haidar dengan tegas.
Yang mana, hal itu pun membuat Heru sedikit menelan ludahnya. Karena sungguh, meskipun Haidar jauh lebih muda darinya. Namun, aura tegas seorang pemimpin yang sangat kental seolah benar-benar menguar dari diri Haidar.
Heru yang tidak ingin semakin menambah masalah pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Baik, akan saya sampaikan pada keponakan saya untuk meminta maaf secara langsung." Kata Heru.
Dan tanpa mengatakan apa pun lagi, Haidar pun akhirnya mengajak Nisa untuk segera menuju rumah sakit tempat di mana Vanya sekarang berada.
*****
Sesampainya di Rumah Sakit, Nisa sedikit mengernyit bingung tat kala melihat hampir dari sebagian staf rumah sakit itu menyapa Haidar dengan sangat sopan. Dan ada pula para suster muda yang tidak segan untuk berbisik-bisik tentang betapa tampan dan sempurnanya Haidar.
Nisa yang merasa penasaran pun segera mencolek lengan Haidar.
"Dar.." Ucap Nisa.
Haidar lantas melirik Nisa sekilas.
"Hmm?" Sahutnya.
"Mereka kenal sama lu?" Nisa bertanya dengan di penuhi rasa penasaran.
Haidar menanggapinya dengan mengangkat bahunya acuh seolah mengiyakan apa yang di tanyakan oleh Nisa.
Nisa yang masih merasa penasaran pun kembali bertanya "Lah.. Kok bisa gitu?"
"Bokap gua donatur tetap di RS ini." Sahut Haidar dengan acuh tak acuh.
Yang mana, hal itu seketika membuat Nisa menghentikan langkahnya karena merasa terkejut.
"Whaaatt!!" Nisa menatap punggung Haidar yang masih berjalan dengan sedikit melongo tak percaya.
"Gila.. Se tajir apa sih sebenernya bapaknya si Haidar??" Gadis itu bergumam dengan masih mematung di tempatnya.
Menyadari kalau Nisa tidak berjalan di sampingnya, lantas membuat Haidar menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah belakang di mana Nisa masih mematung di tempatnya.
__ADS_1
"Nis.." Ucap Haidar menyadarkan Nisa dari lamunannya.
"Nisa!"
"Ah, ya.. What? Gimana? Ada apa?" Tanya Nisa cepat.
"Ayo buruan.."
"Ah, ya ya.." Nisa pun kembali menyusul langkah Haidar.
Sesampainya di bagian informasi, Haidar segera menghampiri salah satu suster wanita yang bertugas di sana. Yang di mana, staf wanita itu pun juga mengenal Haidar.
"Eh, Haidar.. Nyari Pak Andi ya?" Tanya suster itu dengan sangat ramah.
Melihat hal itu, lantas membuat Nisa meilik sekilas ke arah name tag si suster yang bertuliskan nama Tasyi.
Sedangkan Haidar, dia menganggukkan kepalanya pertanda mengiyakan apa yang baru saja di tanyakan oleh Tasyi.
Tasyi yang memang sudah nengerti akan sikap Haidar pun hanya menyunggingkan senyum kecilnya.
"Bapak ada di kamar VVIP no 2." Kata Tasyi.
Dan tanpa mengatakan apa pun lagi, Haidar pun segera berlalu bergi menuju kamar yany di tempati oleh Vanya.
Nisa yang memang berjalan sedikit jauh di belakang Haidar pun dapat mendengar, ketika suster itu berbisik-bisik pada teman yang ada di sampingnya mengenai rasa penasaran mereka terhadap gadis yang ada di ruang VVIP itu.
Gadis yang bisa membuat Andi dan Haidar terlihat khawatir. Mereka benar-benar penasaran karena, 2 pria itu merupakan pria yang hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi kepada siapa pun.
Namun, Nisa lebih memilih untuk mengabaikan mereka dan segera menyusul Haidar.
Sesampainya mereka di kamar VVIP, mereka langsung ke dalam tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
Namun, ketika Haidar dan Nisa masuk ke dalam sana, Andi yang tengah duduk di sofa yang ada di dekat kasur segera menempelkan jari telunjuk tangan kirinya di bibirnya sendiri, memberikan isyarat untuk Haidar dan Nisa tidak bersuara.
Haidar Nisa pun menganggukkan kepala.
Andi lantas beranjak dari sana kemudian menghampiri Nisa dan Juga Haidar. Pria itu mengajak Haidar dan Nisa untuk keluar dari ruangan.
Setelah menutup pintu, Haidar kemudian menatap Andi dengan di penuhi tanda tanya.
"Bisa papah ceritain semuanya?" Tanya Haidar kemudian.
Andi menghela nafasnya untuk sejenak kemudian mulai menceritakan apa yang terjadi secara garis besar.
Namun, sebelum Andi menceritakan semuanya. Nisa lebih dulu meminta ijin untuk pergi ke kantin Rumah Sakit. Karena dia pikir, itu merupakan urusan antara anak dan ayah. Jadi, Nisa pun memutuskan untuk tidak terlalu ikut campur dalam hal ini.
Ya meskipun Vanya merupakan sahabatnya, namun Nisa lebih memilih untuk mempercayakan semuanya kepada Haidar.
__ADS_1
Setelah Andi menjelaskan semuanya, Haidar pun menganggukkan kepalanya pertanda bahwa dia sudah mengerti akan apa yang sudah terjadi.
"Terus? Di mana dia sekarang?" Haidar menanyakan tentang ke beradaan sang bayangan.
"Papah kasih cuti 2 minggu.." Sahut Andi.
Karena ya, meskipun sang bayangan melakukan kecerobohan dalam bertugas. Namun Andi bisa sedikit mentoleransinya, karena sedari awal, Andi mempekerjakan sang bayangan karena dia membutuhkan biaya untuk penyakit jantung yang di derita oleh ibunya.
Dan juga, karena selama hampir 5 tahun sang bayangan berkerja dengan Andi, ini merupakan kesalahan pertama yang di lakukan oleh sang bayangan.
Jadi, Andi masih bisa sedikit memberikan toleransi. Terlebih lagi akan alasan kenapa sang bayangan sampai bisa melakukan kesalahan. Membuat Andi akhirnya hanya memberikan hukuman berupa pemberhentian tugas untuk sementara waktu.
Setelah mendengar alasan kenapa Andi tidak memecat sang bayangan, Haidar pun hanya bisa menghela nafasnya.
"Terus, Vanya gimana keadaannya?" Tanya Haidar.
"Papah kurang yakin sih.. Soalnya Vanya baru siuman sekitar 1 jam yang lalu.. Jadi dokter juga belum meriksa keadaan Vanya secara detail. Tapi, sejauh ini, kalo soal fisik sih semuanya aman-aman aja.. Cuma, kamu harus agak sabar aja buat ngadepin sikapnya Vanya." Tutur Andi.
Mendengar hal itu, lantas membuat Haidar mengernyitkan dahinya.
"Kenapa emangnya?" Tanya Haidar kemudian.
"Dari sejak dia siuman, dia agak susah buat di ajak komunikasi.. Jadi, dokter mutusin buat nyerahin Vanya ke psikolog."
"Terus, kapan pemeriksaannya di lakuin?"
"Berhubung Vanya baru aja tidur sekitar 10 menit yang lalu, jadi kita tunggu sampe Vanya bangun aja.. Kalo di paksain, takutnya nanti malah berdampak buruk buat kesehatan mental Vanya."
Haidar pun menganggukkan kepalanya.
"Tapi Dar.."
"Hm?"
"Apa ada sesuatu yang sebelumnya terjadi sama Vanya? Soalnya dari yang dokter liat, Vanya kayak ngalamin efek dari pasca trauma."
Haidar menghela nafasnya kemudian menatap Andi dengan sedikit ragu.. "Itu..."
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..