
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Beberapa waktu pun berlalu..
"Hmmm.. Hmm.. Hmm.." Vanya bersenandung seraya menunggu kedatangan Vino untuk menjemputnya berangkat kerja.
Ya, sejak saat Vanya berkencan dengan Vino, hubungan mereka pun kini menjadi lebih dekat. Meskipun belum sampai tahap pendekatan yang lebih jauh lagi, tapi setidaknya mereka kini lebih sering berbincang.
Tak jarang Vino menjemput Vanya untuk berangkat ke tempat kerja karena dari rumah Vino, tempat kost Vanya satu arah menuju tempat kerja.
"Lagi nunggu jemputan Va?" Tanya *Maya.
*Note : Maya, salah satu penghuni kost yang merupakan seorang mahasiswi jurusan kedokteran.
Vanya yang kini tengah duduk di teras pun menoleh pada Maya.
"He em.." Sahut Vanya. "Kakak mau berangkat ke kampus? Tumben berangkat pagi-pagi."
"Iya nih, ada kelas pagi. Dosennya nanti siang katanya ada urusan, jam kampusnya jadi di majuin deh.. Males banget rasanya mau berangkat pagi." Maya menjawab dengan sangat lesu, wajah gadis itu terlihat masih sangat mengantuk.
Vanya menyunggingkan senyum kecilnya. "Fighting kak.."
"He em.. Thanks ya, aku duluan.." Ucap Maya seraya hendak berlalu pergi dari sana.
Vanya menganggukkan kepalanya.
Tak lama setelah itu, Vanya menyunggingkan senyum kecinya saat melihat Vino yang sudah datang untuk menjemputnya.
Vino dan Vanya pun segera berangkat menuju kantor.
*****
Jam makan siang kini telah tiba, Vanya pun segera merapikan mejanya. Gadis itu hendak menghabiskan waktu istirahatnya di cafetaria bersama dengan Lidia karena Winda sudah menyelesaikan masa PKL nya.
"Udah belum?" Tanya Lidia.
"Udah, yuk.." Vanya pun beranjak dari duduknya.
Saat Lidia dan Vanya hendak berlalu menuju cafetaria, salah seorang pegawai kantor dari bagian pengoperasian datang mencari Vanya.
"Vanya.." Ucap orang itu.
"Ya kak?" Tanya Vanya.
"Di suruh ke ruangannya pak Ridwan sekarang, penting katanya."
__ADS_1
Vanya mengangguk kecil. "Ok.."
"Yaudah, gua ke ruangannya pak Ridwan dulu ya.." Vanya berkata pada Lidia.
"Em.." Lidia menganggukkan kepalanya.
Vanya pun menuju ke ruangan pak Ridwan dengan langkah yang sedikit malas. Sungguh, andai saja pak Ridwan bukan atasannya, Vanya sudah pasti akan menolak untuk menemuinya.
Bukan hanya karena Vanya terlalu malas menghadapi sikap pak Ridwan yang sedikit aggressive, tapi Vanya juga merasa sangat lapar karena sedari pagi dia belum memakan apa pun.
Tapi, meskipun begitu, Vanya tetap menyunggingkan senyumnya saat masuk ke dalam ruangan pak Ridwan.
Melihat Vanya yang masuk ke ruangannya, pak Ridwan pun menyunggingkan senyumnya.
"Ada apa ya pak?" Tanya Vanya.
"Ini, setengah jam lagi saya mau ketemu sama client, kamu bisa tolong bantuin saya nyusun berkas ga? Nanti biar saya nyuruh OB buat nganterin makan siang kesini." Jelas pak Ridwan.
Meskipun merasa enggan, namun Vanya tetap menganggukkan kepalanya.
"Baik pak."
Gadis itu pun duduk di kursi yang berhadapan dengan pak Ridwan dengan meja kerja pak Ridwan sebagai pembatas di antara mereka.
Pak Ridwan lalu menyerahkan beberapa berkas ke hadapan Vanya.
"Ini, tolong di bantu di susun ya. Saya mau ke kamar mandi dulu, sekalian minta OB buat nganterin makan siang buat kamu ke sini."
Vanya pun mulai menyusun berkas-berkas itu.
Pak Ridwan lantas beranjak dari sana.
Beberapa saat kemudian, Pak Ridwan kembali datang ke ruangannya.
"Saya minta OB buat nganterin nasi ayam, ga papa kan?" Tanya pak Ridwan seraya menutup pintu ruangannya.
"Iya pak, ga papa.." Sahut Vanya tanpa mengalihkan fokusnya dari berkas-berkas yang ada di atas meja.
Tanpa gadis itu sadari, kalau pak Ridwan kini diam-diam tengah mengunci pintu ruangannya.
Ya, ada maksud lain dari pak Ridwan yang meminta Vanya untuk datang ke ruangannya.
Seperti yang kita ketahui, dari jauh-jauh hari sebelum ini, pak Ridwan sudah menunjukkan sikap yang di luar batas wajar pada Vanya.
Pak Ridwan merasa sedikit tersinggung pada Vanya karen gadis itu menolaknya secara terang-terangan, bahkan gadis itu memberikan ancaman akan melaporkan sikapnya pada pihak yang lebih berwenang.
Pria itu menyimpan rasa tersinggungnya itu secara diam-diam.
Meskipun Pak Ridwan sempat meminta maaf atas sikapnya itu, tapi percayalah, perkataan maaf itu hanya sekedar keluar dari mulutnya saja. Pria itu tidak benar-benar tulus meminta maaf pada Vanya.
__ADS_1
Selama ini, pak Ridwan memikirkan cara tentang bagaimana dia harus membalaskan rasa tersinggungnya itu. Pak Ridwan benar-benar tidak terima atas sikap Vanya yang seolah jual mahal kepadanya.
Dan ya, setelah memikirkan cara, pak Ridwan pun memilih untuk membalaskan rasa tersinggungnya itu pada saat ini.
Sejujurnya, pak Ridwan meminta Vanya untuk menyusun berkas itu hanyalah sebuah alasan. Pak Ridwan juga tidak benar-benar pergi ke kamar mandi, di juga tidak benar-benar meminta OB untuk mengantar makanan.
Pria itu hanya mencari alasan agar dia bisa mengunci pintu rungannya tanpa di sadari oleh Vanya.
Setelah memastikan kalau pintu benar-benar terkunci, pak Ridwan pun menghampiri Vanya. Pria itu memeluk Vanya dari belakang.
Vanya yang merasa terkejut atas perlakuan pak Ridwan pun segera menghentakkan tangan pria itu. Vanya beranjak dari duduknya kemudian menatap pak Ridwan dengan sangat tajam.
Vanya berusaha menghindari pak Ridwan yang mendekatinya. "Maksud bapak apa kayak gini?" Gadis itu bertanya dengan alis yang menukik tajam.
"Alah, ayolah.. Ga usah sok jual mahal kayak gitu.. Saya juga tau kok kalo kamu bukan cewek baik-baik. Jadi ga usah sok-sokan nolak saya kayak gitu lah, mending kamu nikmatin aja. Kamu mau apa? Mobil? Apartemen? Uang? Saya bisa ngasih semua yang kamu mau. Kamu cukup ngangkang aja buat saya, ga susah kan?"
"Jangan ngomong yang senbarangan ya pak!! Saya ga sama kayak apa yang bapak pikirkan!! Hati-hati ya kalo nilai perempuan!! Saya juga ga sudi kalo harus ngangkang buat bapak!! Saya ga butuh harta atau apa pun itu dari bapak!!" Vanya menunjuk Ridwan dengan penuh emosi.
Pak Ridwan tiba-tiba saja terkekeh. "Ga usah sok jual mahal ya kamu.." Pria itu perlahan mendekati Vanya.
Vanya pun semakin memundurkan langkahnya. "Stop! Atau saya teriak."
Ridwan menaikkan sebelah alisnya. "Kamu lupa kalo ruangan saya kedap suara?"
Vanya yang melupakan hal itu sontak saja menelan ludahnya dengan kasar.
"Jangan macem-macem sama saya ya pak!! Atau saya bakalan laporin bapak ke polisi!!"
"Alah, banyak ngomong kamu!!"
Pak Ridwan mendekati Vanya dengan gerakan cepat, pria itu menahan Vanya seraya berusaha untuk mencium gadis itu.
Vanya yang tersudut pun hanya bisa terus berusaha melawan Vanya. Vanya terus melawan hingga dia mendapat kesempatan untuk menendang inti pusat pria itu.
"Aarrgghh!!! Bangs**at!!!" Ridawan mengerang seraya memegangi inti pusatnyan.
Vanya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari ke arah pintu yang kunci pintunya masih tergantung di sana.
Namun, belum sempat Vanya meraih pintu, Ridwan sudah lebih dulu menarik Vanya lalu melemparkan gadis itu ke atas sofa.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..