
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa waktu pun berlalu...
Setelah melewati sesi pengobatan berupa hypnotherapy, Vanya kini mulai bisa berdamai dengan rasa traumanya.
Ah tidak, lebih tepatnya hampir melupakan rasa traumanya. Itu semua bisa terjadi karena dokter Rizal selalu menekankan alam bawah sadar Vanya untuk melupakan semua itu.
Tapi, dengan cara seperti itu. Vanya juga lambat laun akan melupakan orang-orang yang berhubungan dengan rasa traumanya.
Karena ya, setelah melakukan berbagai cara untuk menyembuhkan rasa trauma yang di miliki oleh Vanya. Itu adalah satu-satunya cara terbaik yang bisa di lakukan oleh dokter Rizal kepada Vanya.
Karena ketika dokter Rizal mencoba untuk melakukan sesi perbincangan seperti pada normalnya, alam bawah sadar Vanya seakan menolah untuk melupakan rasa traumanya.
Itu semua karena kejadian yang memaksa Vanya untuk kembali mengalami trauma yang dialaminya pada masa kecilnya.
Seandainya saja Vanya tidak mengalami hal itu untuk yang ke 2 kalinya, mungkin saja Vanya masih bisa melupakan rasa traumanya melalui sesi perbincangan seperti pada umumnya.
Namun ya.. Begitulah.. Kita tidak bisa mengulang waktu kembali. Jadi, hanya itu satu-satunya cara terbaik yang bisa di lakukan untuk Vanya.
Saat ini, Haidar tengah membantu Vanya mengemasi barang-barangnya. Karena, di saat sesi therapy telah usai, Dokter Rizal mengatakan kalau Vanya kini sudah boleh pulang ke rumah.
Hingga ketika mereka hampir selesai mengemasi barang-barang milik Vanya, mereka mendengar seseorang mengetuk pintu kamar.
Tok.. Tok.. Tok...
Haidar lantas membuka pintu kamar itu. Dia menyunggingkan senyum kecilnya tat kala melihat orang yang mengetuk pintu kamar adalah dokter Rizal.
Haidar pun mempersilahkan Dokter Rizal untuk masuk ke dalam kamar.
"Kalian udah mau pulang?" Tanya dokter Rizal saat melihat Vanya tengah menutup koper.
Vanya menoleh pada dokter Rizal, gadis itu tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Dokter Rizal menyunggingkan senyum tipisnya. "Ga mau nginep di sini semalem lagi aja?" Pria itu bertanya pada Vanya dengan senyum jahilnya.
Dokter Rizal sedikit gemas melihat Vanya yang sangat bersemangat untuk kembali ke rumah. Karena ya, selama mereka melakukan sesi therapy, Vanya hanya menampilkan wajah datar dan wajah kesedihannya.
Jadi, ketika melihat Vanya yang bersemangat seperti sekarang ini. Dokter Rizal amat sangat mengerti, kenapa Haidar yang notabenenya seorang pria yang hampir tidak memiliki hati, bisa jatuh dalam pesona yang di miliki oleh Vanya.
Ya meskipun memang dasarnya tanpa harus menampilkan ekspresi apa pun juga Vanya sudah terlihat menggemaskan. Namun ketika gadis itu tersenyum, gadis itu terlihat jauh lebih menggemaskan.
__ADS_1
Dokter Rizal kini harus mengakui kalau Haidar memiliki selera yang cukup tinggi mengenai seorang gadis. Sama persis seperti Andi yang juga memiki selera yang cukup tinggi mengenai seorang gadis.
Ya, Dokter Rizal dan Andi adalah sahabat semasa mereka duduk di bangku Sekolah Menenah Pertama. Jadi, Dokter Rizal tau betul mengenai karakter Andi maupun Haidar.
"Engga ah Om.. Bosen.." Vanya menyahut seraya sedikit mengerutkan bibirnya.
Ya, selama beberapa waktu terakhir ini Vanya memanggil Dokter Rizal dengan panggilan Om. Itu juga atas dasar permintaan dari Dokter Rizal sendiri.
"Hah.. Coba aja kalo anak om ga kuliah di luar negri, pasti om udah ngenalin kamu ke anak om.." Dokter Rizal berkata dengan nada yang sedikit kecewa.
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Haidar berdehem dengan cukup kerasa.
"Kheeem!!" Haidar bersedekap dada seraya menatap Dokter Rizal dengan tatapan datarnya.
Dokter Rizal lantas menolah pada Haidar, pria itu menampilkan senyum canggungnya. "Ck, maksud om tuh di kenalin sebagai pacar kamu gitu lo ah.. Kamu tu loh Dar, dari dulu sukanya salah paham terus sama om.."
"Tcih!" Haidar memutar bola matanya malas.
Vanya yang melihat interaksi lucu antara Dokter Rizal dan Haidar pun hanya bisa terkekeh geli.
"Tapi, emangnya om udah punya anak?" Tanya Vanya kemudian duduk di tepi brankar.
Dokter Rizal yang sudah duduk di sofa lantas menyilangkan kakinya kemudian mengangguk dengan bangga. "Ya jelas udah dong.. Usianya 3 tahun lebih tua dari Haidar.. Mukanya juga ga kalah ganteng kok dari Haidar."
Yang mana, hal itu seketika membuat Haidar menatap Vanya dengan sangat tajam. "Vaaaaa..."
Vanya menatap Haidar dengan alis yang sedikit menukik. "Isshh.. Apa sih, maksud gua tuh siapa tau gitu cocok sama Nisa.. Bener tuh kata Om Rizal, elu mah salah paham mulu.."
Mendengar alasan yang di katakan oleh Vanya, lantas membuat Haidar hanya bisa mendengus sebal kemudian bersedekap dada seraya menyandarkan tubuhnya pada tembok.
Mendapat pembelaan dari Vanya, seketika saja membuat Dokter Rizal menahan kekehannya. Terlebih lagi ketika melihat Haidar yang tidak bisa berkutik, benar-benar sebuah situasi yang sangat menghibur untuknya.
"Yaudah kalo gitu, mana om fotonya.. Aku mau liat.." Vanya berkata seraya menghampiri dokter Rizal.
Dokter Rizal pun segera mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam saku jas dokternya. Pria itu lantas membuka galeri kemudian menunjukkan beberapa foto anaknya pada Vanya.
"Ini dia ngirim fotonya belum lama ini pas dia lagi jalan-jalan ke menara Eiffel.. Ga kalah ganteng kan kalo di bandingin sama Haidar.." Dokter Rizal melirik Haidar sekilas.
Dokter Rizal menahan kekehannya melihat ekspresi wajah Haidar yang menunjukkan ketidak sukaannya atas apa yang tengah Vanya lakukan saat ini.
"Kalo menurutku sih, anak om bakalan lebih pas kalo di bilang manis deh, soalnya punya lesung pipi.." Gadis itu berkata dengan santainya.
Haidar yang mendengar hal itu pun lagi-lagi mendengus kesal. Dia benar-benar merasa kesal karena Vanya seolah tidak menghiraukan keberadaannya.
Dokter Rizal seketika saja terkekeh geli. "Masa sih manis? Bukannya ganteng ya?" Pria itu seakan sengaja menggoda Haidar.
__ADS_1
"Emmm.." Vanya menganggukkan kepalanya. "Manis om.. Putih, tinggi, punya lesung pipi, matanya tajem.. Manis banget loh om.. Cocok nih kal.."
"Gua juga putih, tinggi.. Mata gua juga tajem, udah gitu pinter pulak.. Tapi kok lu ga pernah muji gua? Giliran cowok lain aja, langsung di sanjung-sanjung.." Haidar memotong perkataan Vanya dengan sedikit ketus.
Mendengar hal itu, lantas membuat Vanya perlahan menoleh pada Haidar dengan mata yang memicing tajam.
Sedangkan Dokter Rizal, pria itu sudah tidak kuasa lagi menahan kekehannya. Dia kini benar-benar terkekeh geli melihat wajah cemberut Haidar untuk pertama kalinya.
"Lu cemburu?" Tanya Vanya kemudian.
"Ya jelas lah.. Pake cocok segala.. Cocok sama elu gitu?" Haidar menatap Vanya dengan sedikit sinis.
Vanya memutar bola matanya malas. "Cocok sama Nisa Daaar.. Nisa kan tipenya yang manis-manis kayak gitu.. Ih elu mah.. Makanya kalo ada orang ngomong tu di dengerin dulu! Jangan maen nyerobot aja! Salah paham kan jadinya.."
Haidar seketika saja mengusap tengkuknya canggung. "Ya tapi kan ga harus sampe di puji-puji kayak gitu.." Pria itu masih merasa tidak terima.
"Ya apa salahnya sih muji.. Kan emang nyatanya kayak gitu.."
"Ya salah.. Udah lah, bukannya kita mau pulang? Malah jadi bahas si Deril."
"Oh, jadi namanya Deril om?" Vanya menoleh pada dokter Rizal.
Dokter Rizal mengangguk cepat.
"Ivanya Basudewi..." Ucap Haidar dengan suara rendahnya.
"Iya-iya pulang.." Gadis itu pun beranjak dari sana.
Haidar lantas menatap Dokter Rizal dengan sangat tajam.
Dokter Rizal yang mendapatkan tatapan seperti itu pun hanya mengangkat bahunya acuh seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1