
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
"Va.." Ucap *Lidia dari ambang pintu ruangan Vanya.
*Lidia : Salah satu karyawan di PT. Rumah Linux.
Vanya lantas menoleh pada Lidia.
"Ya, gimana?" Tanya Vanya.
"Anak-anak PKL udah pada dateng, lu di suruh ke ruang wawancara." Tutur Lidia.
Vanya menganggukkan kepalanya. "5 menit lagi gua kesana, gua harus nge save data dulu."
Lidia mengacungkan kata 'Ok' menggunakan jari telunjuknya yang di hubungkan dengan ibu jarinya (π) kemudian berlalu pergi dari sana.
Setelah selesai menyimpan data hasil kerjanya, Vanya pun beranjak dari kursinya kemudian segera menuju ruang wawancara. Tempat di mana nantinya para siswa akan di wawancara terlebih dahulu sebelum mereka melakukan PKL.
Sejujurnya, wawancara bukanlah suatu penentuan mengenai di terima atau tidaknya mereka menghabiskan masa PKL di perusahaan ini karena nilai mereka sudah sangat mumpuni. Hanya saja, itu sebuah bentuk formalitas agar mereka memiliki pengalaman wawancara kerja.
Yang di mana, pengalaman wawancara kerja itu akan sangat berguna untuk mereka di saat nanti mereka lulus sekolah dan hendak melamar pekerjaan.
Saat Vanya sudah membuka pintu ruangan wawancara dan hendak masuk ke ruangan itu, Vanya harus mengurungkan niatnya tat kala pak Tomi memanggilnya.
Vanya pun kembali menutup pintu kemudian menghampiri pak Tomi. Tanpa sadar kalau ada seseorang di antara siswa PKL yang ada di dalam ruangan itu baru saja memperhatikannya dengan lekat-lekat.
"Gimana pak?" Vanya bertanya saat gadis itu sudah di hadapan Tomi.
Tomi lantas menyerahkan map coklat pada Vanya. "Ini sebagian data siswa PKL yang kemaren belum sempet lengkap."
"Oh, baik pak." Vanya pun menerima map itu.
"Sama satu lagi, anak saya jadi mulai kerjanya besok ya." Kata Tomi.
Vanya menganggukkan kepalanya. "Baik pak, kalo gitu saya permisi dulu." Vanya berkata kemudian kembali menuju ruang wawancara tanpa melihat berkas yang di bawanya.
Karena Vanya berpikir, dia akan memeriksa berkas itu ketika nanti dia melakulan wawancara dengan para siswa.
Hingga ketika gadis itu masuk ke ruang wawancara, tatapannya seketika saja terpaku pada seseorang yang sangat-sangat dia kenali. Seseorang yang kini tengah duduk berdampingan dengan siswa lain di kursi tunggu untuk wawancara. Yang mana, seseorang itu merupakan siswa yang sebelumnya sempat menatap Vanya lekat-lekat.
Seseorang yang sebelumnya pernah mengusik kehidupan Vanya hingga Vanya harus rela terombang ambing dalam menggapai masa depannya akibat tidak bisa lulus sekolah.
__ADS_1
Yup, siapa lagi jika bukan Winda.
Melihat ada gadis itu di sana, benar-benar membuat jantung Vanya kini berdetak dengan sangat cepat karena tiba-tiba saja terbayang akan rasa trauma yang di alaminya.
Namun, Vanya segera menetralkan perasaannya. Gadis itu segera bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Dia berusaha menunjukkan sikap normal seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
Setelah menghela nafasnya, Vanya pun mendekati Lidia yang tengah duduk di meja khusus untuk wawancara.
"Kak, siapa aja yang udah ngelakuin wawancara?" Vanya bertanya seraya meletakkan map itu di atas meja.
"Yang kemaren berkasnya kamu kasih ke aku itu udah aku wawancarai semua. Cuma tinggal sisanya doang.." Sahut Lidia.
"Mau Kakak lanjut apa gantian?" Tanya Vanya.
"Gantian aja ya.. Aku kebelet pengen ke kamar mandi." Lidia menatap Vanya dengan sedikit memelas.
Vanya seketika saja terkekeh kecil. "Yaudah kalo gitu, biar aku yang lanjutin."
Lidia lantas beranjak dari kursinya kemudian segera berlalu pergi dari sana.
Vanya pun menggantikan posisi Lidia kemudian mulai memanggil satu persatu nama siswa yang tertera di dalam berkas.
Wawancara pun berjalan dengan sangat lancar, para siswa itu mampu menjawab setiap pertanyaan yang Vanya berikan dengan baik dan tegas.
Hingga kini saatnya untuk Vanya mewawancarai Winda.
"Winda?" Ucap Vanya.
Winda lantas meneguk ludahnya guna menghilangkan rasa gugupnya kemudian segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Vanya.
"Jadi, apa alasan kamu mutusin buat PKL di sini?" Vanya bertanya dengan cara yang sama seperti dia bertanya oada siswa yang lainnya.
Melihat Vanya yang bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Alih-alih merasa tenang, hal itu justru membuat Winda merasa semakin gugup.
"Khem." Winda berdehem kecil guna meredakan perasaan gugupnya.
"Saya butuh tempat yang sesuai untuk mengolah keahlian saya." Winda berkata dengan suara yang sedikit bergetar.
Gadis itu meremat rok yang dia kenakan karena rasa gugupnya tak kunjung mereda. Bahkan kini kedua telapak tangannya mulai basah akibat keringat dingin yang tiba-tiba saja keluar dari pori-pori tubuhnya.
Meskipun menyadari kegugupan yang di rasakan oleh Winda, namun Vanya berusaha mengabaikan hal itu dengan tetap bersikap biasa saja.
"Bukannya banyak tempat yang lebih bagus dari tempat ini? Kenapa kamu milih tempat ini?" Vanya kembali bertanya seraya terus melihat berkas milik Winda dengan seksama.
Vanya berusaha untuk bersikap profesional dalam tugasnya.
__ADS_1
Winda meneguk ludahnya dengan sedikit kasar. Karena sungguh, entah kenapa. Setelah berhadapan dengan Vanya, setiap jawaban yang sudah dia persiapkan tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Pikirannya saat ini benar-benar teralihkan pada hal bodoh yang dia lakukan waktu itu pada Vanya.
Tidak kunjung mendapat jawaban dari Winda, lantas membuat Vanya menatap gadis itu. Melihat Winda yang hanya terpaku menatapnya, seketika saja membuat Vanya menaikkan sebelah alisnya.
"Bisa kamu fokus dulu sebentar?" Tanya Vanya.
Namun, Winda masih saja terpaku menatapnya seolah tidak ada niat untuk menanggapinya.
"Winda?" Vanya mengibaskan tangan kanannya di depan wajah Winda.
Hal itu seketika saja membuat Winda sedikit mengerjap.
"Ah ya?" Winda menatap Vanya dengan tatapan kosong.
"Bisa kamu fokus dulu sebentar?" Vanya mengulangi pertanyaannya.
Winda menganggukkan kepalanya dengan sedikit kaku. "Ah ya, maaf.. Saya agak kurang enak badan."
Tidak ingin membuat suasana semakin canggun, Vanya pun memutuskan untuk menyudahi wawancara ini.
"Yaudah kalo gitu, kita break dulu aja. Nanti biar temen saya yang wawancarain kamu." Vanya berkata seraya merapikan berkas-berkasnya.
Mendengar hal itu, seketika saja membuat Winda menatap Vanya dengan tidak enak hati.
"Kak.. Aku.."
"Fokus buat wawancara dulu aja.. Kalo mau ada yang kamu omongin ke saya, bisa kita omongin lain waktu." Vanya segera memotong perkataan Winda.
Winda pun hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Kalo gitu saya permisi dulu ya." Ucap Vanya kemudian segera berlalu pergi dari dengan perasaan yang tidak menentu.
Meninggalkan Winda yang kini menundukkan kepalanya dalam-dalam. Andai saja saat ini dia tengah sendiri, mungkin saja Winda kini sudah terisak kecil. Merasakan penyesalan yang hingga kini belum bisa hilang dari hatinya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..