
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah acara inti selesai, Rima memutuskan untuk segera kembali karena ada beberapa perkerjaan yang harus dia selesaikan. Sedangkan Nisa dan Vanya, mereka memutuskan untuk tetap berada di sekolah hingga acara tambahan usai pada sore hari nanti.
Namun, karena Nisa dan Vanya mulai merasa lapar, mereka memutuskan untuk membeli makanan di kantin sekolah sebelum nantinya akan bergabung kembali dengan teman-teman mereka yang sedang mengikuti acara tambahan.
"Va.. Obrolan kita tadi pas di aula itu belum kelar loh.." Nisa berkata setelah mereka menghabiskan makanan itu.
Alis Vanya seketika sedikit menukik lalu menatap Nisa untuk beberapa saat.. "Obrolan yang mana??" Tanya gadis itu kemudian meneguk minumannya.
"Ck, ini nih yang sampe sekarang masih bikin gua ngerasa heran sama lu. Pinter, tapi sayangnya lu tu pikun, gampaaaaang banget lupanya.."
"Ya namanya juga orang lupa, jelas ga inget lah.." Vanya berkata seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Ish.. Itu loh yang masalah tulisan di hoodienya si Haidar.."
Alis mata Vanya kini lagi-lagi sedikit menukik. "Ooooohh..." Gadis itu lantas mengangguk-anggukkan kepalanya. "Emang tulisannya apaan? Soalnya tadi gua ga sempet liat tulisannya.. Kan pas naik ke panggung juga di copot hoodienya, jadi ya mana tau gua.."
"Tulisannya tuh... Nah tuh.." Nisa mengedikkan dagunya ke arah belakang Vanya.. "Lu baca sendiri dah tulisannya apaan."
Vanya kemudian menoleh ke arah belakangnya, di mana terlihat Haidar, Angga dan Victor tengah berjalan ke arahnya. 3 orang pria dengan karakter berbeda yang kini menjadi teman dekat hingga hampir sulit untuk di pisahkan, yang selama beberapa waktu terakhir ini juga mulai dekat dengan Vanya dan Nisa.
Vanya lantas sedikit memicingkan matanya untuk membaca tulisan yang di maksud oleh Nisa. "WAITING FOR YOUR ANSWER." Gadis itu membacanya dengan sedikit bergumam.
Setelah mengerti tentang apa yang di maksud dari tulisan itu, Vanya kembali menoleh pada Nisa kemudian menyunggingkan senyum kecilnya.
"Gimana?? Ngerti??" Tanya Nisa kemudian.
Vanya pun hanya menanggapinya dengan mengedikkan bahu sebelah kanannya, lalu sekilas melirik Haidar yang kini sudah duduk di samping kirinya.
"Cieee... Ada yang naik ke peringkat 3 nih.." Victor berkata setelah duduk di samping kanan Nisa seraya merangkul bahu gadis itu dengan gemas.
"Jelaslah, ga sia-sia kan selama ini gua belajar dari guru yang di private banget ini.." Sahut Nisa lalu menatap Vanya dengan menaik turunkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Iya deh iya percaya yang gurunya di private banget.. Tapi pertahanin sampe semester 2 ya, biar bisa saingan sama gua.. Soalnya kalo saingan sama Vanya susah" Victor lantas melepaskan rangkulannya dari bahu Nisa lalu menatap Vanya seraya berkata. "Terlalu berat, ga mampu gua." Pria itu mengakhiri kalimatnya dengan terkekeh kecil.
Itulah Victor, seorang ketua osis yang terkenal dengan sifat ramahnya. Sifat yang terkadang bisa membuat para gadis salah paham akan perasaan mereka sendiri.
Terkecuali Vanya dan Nisa tentunya. Berbeda dengan Vanya yang kebal akan hal itu karena memang hatinya yang terlalu dingin, Nisa justru kebal akan hal itu karena dia kini tengah terpesona pada seorang kakak kelas yang bernama Bayu.
Vanya lantas menanggapi Victor dengan menyunggingkan senyum simpulnya.
"Tapi nih ya by the way, gua serasa jadi murid bodoh kalo ngumpul sama elu elu pada.. Padahal kalo di kelas, gua jadi peringkat 1 loh.. Kalo kaya gini kan gua jadi pengen tukeran otak sama salah satu dari kalian.." Angga berkata dengan wajah yang sedikit memelas.
Karena dari 10 murid yang masuk peringkat, tidak ada satu pun murid dari kelas B yang masuk ke dalam peringkat 10 besar itu.
"Udah-udah, kan masih ada semester 2.. Lu masih bisa ngejar.." Nisa berkata seraya menepuk-nepuk punggung Angga yang duduk di sebelah kirinya.
"He em.. Makasih udah di semangatin, gua jadi pengen pacaran kan sama lu.." Angga berkata dengan main-main kemudian menampilkan cengiran lebarnya.
Itulah Angga, seorang kapten basket yang terkenal dengan jiwa playboynya. Bahkan tidak hanya satu atau 2 gadis yang sudah jatuh ke dalam permainan cinta sesaatnya itu. Tapi, dari sekian banyaknya gadis di SMK Pelita Jaya, hanya ada 2 orang gadis yang tidak berani Angga dekati, siapa lagi jika bukan Vanya dan Nisa.
Karena ya.. Selain 2 gadis itu sangat sulit untuk di ambil hatinya, Angga juga selalu berpikir jika 2 gadis itu terlalu berharga untuk hanya sekedar di permainkan..
"Ck, a elah, becanda doang napa.. Sensi amat neng.." Sahut Angga lalu mencebikkan bibirnya.
Tapi ketahuilah, jauh di dalam lubuk hatinya, Angga sebenarnya ingin sekali mendapatkan hati Nisa. Bukan untuk di permainkan, tapi benar-benar untuk di jadikan sebagai pasangan.
Vanya dan Haidar yang sudah terbiasa melihat perdebatan mereka pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Ngomong-ngomong, kalian ngapain ke sini? Engga ikut acara tambahan??" Tanya Nisa.
Angga mengedikkan dagunya pada Haidar. "Si Haidar tuh yang ngajakin ke sini.. Apa lagi kalo bukan buat ngebucin."
Nisa dan Victor seketika berdecak tat kala baru menyadari jika Haidar yang kini tengah menopang kepala menggunakan tangan kirinya itu ternyata sejak tadi hanya sibuk memainkan helaian rambut Vanya menggunakan tangan kanannya.
Namun sedetik kemudian, Nisa menaikkan sebelah alisnya saat melihat Vanya yang terlihat biasa saja seakan memang membiarkan Haidar melakukan hal itu.
Vanya yang menyadari tatapan Nisa pun membalas tatapan gadis itu dengan penuh tanda tanya.
Tapi, saat Nisa hendak berkata, gadis itu harus menelan kembali kalimatnya karena Victor sudah lebih dulu berbicara.
__ADS_1
"Eh Va, semenjak si kakak kelas yang kemaren lu banting di sini masuk sekolah lagi, lu ada di ganggu lagi ga sama dia?" Victor bertanya dengan mengabaikan lirikan tajam dari Haidar.
Vanya lantas menatap Victor lalu menggelengkan kepalanya.
Victor pun menganggukkan kepalanya. "Bagus lah.. Kemaren juga kalo ga salah sih, dia dapet hukuman pengurangan nilai kedisiplinan sama di scores seminggu.. Ya sesuai lah sama apa yang udah dia lakuin."
"Dih, di scores seminggu doang mah kurang.. Kalo bisa mah sekalian aja ga usah di kasih nilai kedisiplinan.." Sahut Nisa dengan sedikit bersungut-sungut.
Namun sedetik kemudian, Nisa menatap Vanya dengan di penuhi rasa penasaran. "Tapi nih ya, gua masih bertanya-tanya sampe sekarang. Lu kapan belajar bela diri sih? Bukannya lu tiap hari sama gua ya.. Kok keliatan enteng banget lu ngebanting si kakak kelas itu.."
"Refleks aja.." Vanya menjawab dengan acuh tak acuh.
Yang mana, hal itu seketika membuat Nisa, Victor, dan Nisa menatap Vanya dengan tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Tapi tidak dengan Haidar.. Pria itu terlihat menyunggingkan senyum kecilnya.
Vanya lantas nenatap 3 orang yang duduk di depannya itu dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kalian kenapa?"
Angga, Nisa dan Victor pun hanya menggelengkan kepala mereka lalu mulai kembali bercakap-cakap. Mengabaikan Vanya yang masih saja merasa sedikit bingung.
Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun memutuskan untuk kembali ke aula.
Namun, ketika mereka hendak beranjak, Haidar segera menahan tangan Vanya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1