Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Belum Bisa Bernafas Lega


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tok.. Tok.. Tok..


"Vaaaa.. Bangun, ooooy..." Nisa berteriak memanggil Vanya seraya terus mengetuk-ngetuk pintu kamar gadis itu.


"Vaaaaaaa... Banguuuun.."


"Vanyaaaaaa...."


"Vaaaa... Ba.."


Cklek.. Pintu kamar pun terbuka.


Nisa seketika menampilkan cengirannya seraya menurunkan tangannya yang menggantung di udara. Karena sungguh, nyalinya tiba-tiba saja ciut saat melihat Vanya yang tengah bersedekap dada seraya menatapnya dengan sangat tajam.


"Hehe.. Serem bener tatapannya, untung ga ada lasernya. Coba kalo ada, mati gua.." Nisa berkata seraya mengusap tengkuknya.


"Nagapain teriak-teriak sih.. Gua lagi mandi.."


"Ya maap, ga usah galak-galak.. Namanya juga orang kangen ngebangunin elu.."


Vanya seketika memutar bola matanya malas. "Yaudah si, ada apa?"


"Ayo sarapan, mamah udah masak."


"Hmm.." Vanya pun menganggukan kepalanya.


Setelah Vanya menutup pintu kamarnya, 2 gadis itu pun turun ke bawah menuju meja makan.


Saat sampai di meja makan, Vanya mengernyitkan dahinya tat kala melihat banyaknya hidangan yang tersaji di atas meja.


"Tan, tante mau ngadain pesta?" Vanya bertanya seraya duduk di atas kursi.


Rima yang tengah berada di pantry pun seketika terkekeh, wanita itu lantas menoleh pada Vanya. "Kebanyakan ya makanannya?" Wanita itu bertanya seakan tanpa dosa.


"Bukan banyak lagi ini mah, bisa buat makan se RT." Nisa menyahut seraya mulai meletakkan beberapa makanan ke atas piringnya.


"Ga usah lebay deh Nis.." Rima pun menghampiri Vanya dan Nisa dengan membawa 2 gelas jus untuk 2 gadis kesayangannya itu. "Udah di makan aja, toh kalo sisa juga ga bakalan ke buang. Kan nanti bisa buat makan mang Ujang sama yang lainnya."

__ADS_1


Vanya dan Nisa pun hanya menganggukkan kepalanya kemudian mulai menyantap sarapan mereka.


"Kamu ga kerja Va? Kok belum ganti baju.." Rima bertanya setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka.


"Engga tan.." Vanya menggelengkan kepalanya. "Kemaren udah ijin kok kalo hari ini Vanya ga masuk."


Rima seketika menatap Vanya dengan memicingkan matanya. "Kamu yakin lagi ga ada masalah apa-apa? Kalo ada masalah tu cerita aja loh, siapa tau tante bisa ngasih solusinya."


"Yakin tan, di kantor Vanya baik-baik aja kok.." Sahut Vanya cepat.


Rima tiba-tiba saja menaikkan sebelah alisnya. "Kalo sama Haidar?"


Mendengar nama Haidar di sebut, seketika membuat Vanya menelan ludahnya dengan kasar. Karena sungguh, Vanya sama sekali tidak bisa berbohong jika sudah di hadapkan dengan Nisa atau pun Rima.


"Jadi gini mah, Vanya tu aaawwww, sakit Vaaa."


Dengan gerakan cepat, Vanya segera menghentikan perkataan Nisa dengan mencubit pahanya.


Yang mana, hal itu justru semakin membuat Rima menatap Vanya dengan penuh rasa curiga.


Namun, Vanya berusaha menghilangkan kecurigaan Rima dengan


menampilkan cengiran lebarnya. "Hehe.. Ga usah di dengerin tan, tante tau sendiri kan kalo Nisa suka ngomong yang engga-engga." Gadis itu berkata seraya menyenggol kaki Nisa dengan sedikit kuat.


"Mamah percaya sama siap.."


Nisa pun hanya mencebikkan bibirnya seraya menurut pada Vanya yang sedikit menggeretnya menuju pintu keluar. Dia yang sangat ingin melihat wajah panik Vanya yang terlihat menggemaskan pun berteriak.


"Vanya lagi ada masalah sammmmmppp.."


Dan benar saja, Vanya segera menutup mulut Nisa dengan wajahnya yang terlihat sedikit panik juga dengan nafas yang terdengar seperti menahan emosi.


Nisa yang merasa keinginannya terpenuhi pun berusaha untuk menahan tawanya.


Sedangnya Rima, dia yang menyaksikan kelakuan konyol 2 gadis kesayangannya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


*****


Di sisi lain..


Haidar yang terlihat tengah bersiap untuk berangkat ke kantor pun menghela nafasnya dengan sangat berat kemudian duduk di atas sofa kamarnya. Tangan kiri pria itu terangkat untuk memijat pelipisnya yang terasa sangat kaku.


"Lu di mana sih Va..."

__ADS_1


Pria itu bergumam seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


Hingga beberapa saat kemudian, Haidar menegakkan tubuhnya dengan sedikit terburu-buru ketika mendengar ponselnya yang berbunyi pertanda ada orang yang mengirimi pesan kepadanya. Pria itu lantas meraih ponselnya yang ada di atas meja, berharap kalau saja orang yang menghubunginya itu adalah Vanya.


Namun, ketika melihat nomer asing yang mengirimya pesan dengan kalimat (Dar, ini gua Wulan, gua mau minta maaf sama lu soal kejadian kemaren. Oh ya, sorry juga, gua dapet no lu dari biodata pendaftaran PKL.) Yang mana, hal itu seketika membuat Haidar melemparkan ponselnya ke tembok yang ada di depannya hingga ponsel itu hancur berkeping-keping.


"Fu...ck lah.. Cewek sial..an!!"


Haidar lalu mengusap wajahnya dengan sangat kasar kemudian kembali merebahkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Va, sampe kapan lu mau marah sama gua??"


Haidar bergumam dengan sangat frustasi kemudian menengadahkan kepala untuk menatap langit-langit kamarnya.


Setelah berpikir untuk beberapa saat, Haidar lalu memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor. Pria itu memilih untuk mencari Vanya meskipun Haidar tidak tau di mana keberadaan Vanya sekarang.


Namun, meskipun Haidar tidak tau keberadaan gadis itu. Haidar tetap akan mencari Vanya bahkan hingga ke ujung dunia sekali pun. Karena sungguh, sebelum Haidar mendapatkan maaf dari Vanya. Haidar belum bisa bernafas dengan lega.


Tapi, berhubung Haidar tidak sepenuhnya bersalah, Haidar tetap akan berusaha mencari Vanya untuk menjelaskan semuanya dan untuk mendapatkan maaf dari gadis yang mengisi tempat kosong di hatinya itu.


Setelah menghela nafas berat untuk yang ke sekian kalinya, Haidar pun beranjak dari duduknya kemudian meraih kunci mobil yang ada di atas meja. Pria itu lalu mengemudikan mobilnya menuju berbagai tempat yang sekiranya akan di datangi oleh Vanya.


Namun sayangnya, setelah mencari Vanya ke berbagai tempat bahkan hingga hari mulai malam, Haidar sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan gadis itu.


Kini, Haidar tengah berada di dalam mobilnya yang dia parkirkan di tempat parkir yang ada di pantai. Haidar yang merasa sangat frustasi itu tiba-tiba memukul-mukulkan dahinya pada kemudi mobil dengan sedikit kuat.


Haidar lantas menelungkupkan wajahnya pada kemudi mobil. "Elu di mana sih Vaaaa.. Gua ga tau harus nyari lu kemana lagi.. Maafin gua, gua ngaku salah karena udah ceoroboh ngebiarin Wulan nyium gua.. Gua minta maaf.." Pria itu bergumam dengan suara yang sedikit bergetar.


Beberapa saat kemudian, Haidar pun menenggakkan tubuhnya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu lantas memutuskan untuk melajukan mobilnya menuju rumah ayahnya.


Karena di saat seperti ini, Haidar merasa sedikit enggan untuk menginjakkan kaki di apartemennya sendiri. Karena ya.. Terlalu banyak momen manis yang dia lakukan bersama Vanya yang akan semakin membuat Haidar susah untuk berpikir jernih.


Haidar harap, setidaknya dia bisa sedikit menenangkan pikirannya dengan berbicara bersama ayahnya. Ya, meskipun Haidar tidak terlalu dekat dengan Andi. Tapi Andi merupakan satu-satunya orang yang akan selalu memberikan saran terbaik kepadanya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2