Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Ada Apakah?


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah mendapatkan penanganan yang sebagai mana mestinya, Vanya pun kini mulai bisa bernafas kembali dengan normal.


Melihat hal itu seketika saja membuat Haidar bernafas dengan lega. Tapi sayangnya, dia tidak bisa menyentuh Vanya karena Vanya berada di ruang ICU. Pria itu hanya bisa melihat keadaan Vanya melalui kaca pembatas.


Hingga tak lama setelah itu, dokter Rizal selaku dokter yang bertanggung jawab atas Vanya pun keluar dari sana untuk menemui Haidar.


"Gimana keadaan Vanya dok?" Tanya Haidar cepat.


"Sejauh ini sih ok ok aja, ga ada perubahan yang terlalu significant sama keadaan mentalnya. Kita cuma tinggal nunggu dia ngeredain rasa syok nya aja. 5 menit lagi juga Vanya udah bisa di bawa ke ruangannya."


Haidar mengangguk kecil. "Tapi, apa yang sebenernya terjadi dok? Kok Vanya bisa tiba-tiba sesak nafas kayak gitu?"


"Hmm.." Dokter Rizal menghela nafasnya sejenak. "Sebenernya itu reaksi spontan yang di tunjukkin Vanya ketika ada sesuatu yang memicu dia buat inget lagi akan trauma yang di alaminya."


"Jadi, maksud dokter, tadi dia ngeliat sesuatu yang memicu rasa traumanya gitu?"


"Ya.." Dokter Rizal mengangguk kecil. "Apa tadi kamu ga nyadarin hal itu?"


Haidar perlahan menggelengkan kepalanya. "Saya ga sempet merhatiin objek yang di liat sama Vanya."


"Yaudah kalo gitu.. Yang terpenting sekarang Vanya udah ga kenapa-kenapa. Sebisa mungkin, untuk sekarang ini usahakan jangan sampe Vanya ketemu sama orang-orang yang berhubungan sama rasa traumanya itu."


Dokter Rizal lantas melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya kemudian kembali menatap Haidar. "Vanya udah bisa ke kamarnya lagi.. Semangat ya.."


Pria itu menepuk-nepuk bahu Haidar sekilas kemudian berlalu pergi dari sana.


.....


"Loh, kenapa ini?" Rima bertanya cepat saat melihat Haidar mendorong Vanya memakai kursi roda.


Haidar menggelengkan kepalanya, meminta Rima untuk tidak menanyakan hal itu pada saat ini.


Rima pun menganggukkan kepalanya kemudian membantu Haidar untuk membaringkan Vanya di atas kasur.


Setelah Vanya mendapatkan posisi nyamannya, Nisa lantas menarik Haidar agar sedikit menjauh dari Vanya.


"Dia kenapa?" Tanya Nisa cepat.


"Sesek nafasnya tiba-tiba kumat.." Haidar menghela nafasnya sejenak. "Tapi gua ga tau siapa yang jadi pemicunya.."


Mendengar hal itu, lantas membuat Nisa mengernyitkan dahinya. "Tunggu bentar deh.. Maksud lo, Vanya negliat seseorang gitu?"


Haidar mengedikkan bahunya. "Gua rasa sih kayak gitu. Dokter Rizal juga bilang kalo Vanya sementara waktu ini ga boleh ngeliat atau ketemu sama orang-orang yang berhubungan sama rasa traumanya. Itu salah satu alesan gua ngelarang Winda buat ketemu sama Vanya, gua takut nantinya bakal terjadi hal yang engga-engga." Tutur pria itu dengan

__ADS_1


Merasa tersindir atas apa yang di katakan oleh Haidar, seketika saja membuat Nisa mengusap tengkuknya canggung.


"Ya mon maap.. Gua ga mikir sejauh itu.." Lirih gadis itu dengan bibir yang mencebik.


Namun, Haidar hanya menanggapinya dengan helaan nafas. Pria itu lantas memutuskan untuk kembali mendekati Vanya.


"Tan, malem ini biar Haidar aja yang nemenin. Soalnya besok udah ga wajib berangkat ke sekolah." Kata Haidar.


"Hmmm.. Gitu ya.." Sahut Rima seraya menatap Vanya yang terlelap. "Yaudah deh kalo gitu, kalo ada apa-apa jangan lupa buat ngabarain tante ya.."


Haidar menganggukkan kepalanya.


Rima lantas beranjak dari duduknya kemudian mengajak Nisa untuk pulang meskipun merasa sedikit enggan.


Bagaimana tidak? Dia sendirilah yang membesarkan Vanya hingga seperti ini. Meskipun dulu Vanya masih tinggal bersama dengan bagas, tapi Rima lah yang lebih banyak memberikan kasih sayang untuk gadis itu.


Jadi, ketika Vanya dalam keadaan seperti ini. Rima rasanya tidak ingin meninggalkan gadis itu barang semenit pun. Karena ya, gadis itu sudah Rima anggap sebagai anak gadisnya yang ke dua.


Tapi, mengingat Rima bukanlah orang yang bertanggung jawan dalam membiayai pengobatan Vanya, ketika Haidar meminta Rima untuk pulang. Rima pun mau tidak mau tetap harus menurutinya.


Toh, meskipun Rima yang sudah banyak kasih sayang untuk gadis itu. Namun suatu saat bukan dia yang akan selalu merawat gadis itu.


Jadi, meskipun merasa sedikit enggan, Rima tetap mempercayakan Vanya kepada Haidar.


Seperginya Rima dan Nisa, Haidar lantas segera membersihkan dirinya kemudian mengenakan pakaian santai yang sengaja dia bawa. Setelahnya, Haidar memutuskan untuk berbaring di samping Vanya karena kebetulan ranjang yang ada di ruangan VVIP itu cukup luas. Sehingga memungkinkan untuk 2 orang berbaring bersama.


"Gua ganggu ya?" Tanya Haidar seraya mengelus kepala Vanya.


Vanya menggelengkan kepalanya. "Gua udah bangun dari tadi kok, cuma engga melek aja.."


Haidar menyunggingkan senyum kecilnya. "Sini peluk." Pria itu merentangkan tangannya meminta Vanya untuk masuk ke dalam pelukannya.


Vanya pun sedikit beringsut untuk masuk ke dalam pelukan Haidar.


Setelah melewati keheningan untuk beberapa saat, Haidar pun mencoba untuk memulai percakapan.


"Va?" Ucap Haidar.


"Hmm?"


"Boleh nanya soal tadi pas di taman ga?" Haidar bertanya dengan sedikit ragu.


"Mau nanya apa emangnya?" Tanya Vanya.


"Tadi lu liat siapa? Eh, tapi, kalo ga mau di jawab juga ga papa.."


Vanya menggelengkan kepalanya. "Ga papa.. Gua jawab.."


"Yakin ga papa?"

__ADS_1


Vanya menganggukkan kepalanya. "Gua tadi.. Em, ngeliat nyokap tiri gua.." Gadis itu berkata dengan sedikit lirih.


Haidar yang mendengar itu pun mengerutkan keningnya. "Nyokap tiri?"


"He em.." Vanya kembali menganggukkan kepalanya. "Tadinya gua ga mikirin apa-apa.. Cuma pas dia ngeliat ke gua.. Gua kayak.. Gua.. Itu.. Dia.." Gadis itu berkata dengan suara yang sedikit bergetar.


"Sssshhhh.. Udah, udah.. Ga usah di lanjutin, hmmm.." Haidar berkata seraya menepuk-nepuk lembut punggung Vanya.


"Gua, gua ga tau.. Kenapa gua kok jadi kayak gini.." Gadis itu berkata dengan suara yang sedikit tertahan. "Gua pengen ngelawan, tapi susah.."


"Sssshhhh.. Udah ga papa.. Pelan-pelan, jangan di paksain, hmmm.. Semuanya kan butuh proses, ga semuanya bisa tercapai dengan mudah.."


Haidar kini mengelus punggung Vanya dengan lembut.


"Gua takut ga bisa ngendaliin emosi gua.." Vanya berkata seraya menenggelamkam wajahnya pada dada Haidar.


Isakan kecil kini mulai keluar dari mulut gadis itu.


Haidar lantas sedikit merenggangkan pelukannya kemudian meminta Vanya untuk menatapnya.


"Heeeii.. Jangan nangis, ok.. Gua yakin, lu bisa, lu mampu.. Jangan patah semangat.. Nanti juga lu bakalan bisa kok ngelawan semuanya, hmm.. Inget, ada gua, ada Nisa, ada tante Rima, ada juga bokap gua yang bakalan selalu nyemangatin elu.." Tutur Haidar seraya menghapus air mata yang keluar dari kedua mata indah gadis itu.


Vanya mengangguk kecil. "Makasih karna lu selalu ada buat gua.."


Haidar menggelengkan kepalanya. "Jangan bilang makasih.. Udah seharusnya gua selalu ada buat lu.. Dah ya, jangan nangis lagi.. Senyum.."


Vanya pun menyunggingkan senyum kecilnya.


"Sini peluk lagi." Ucap Haidar.


Vanya pun kembali menenggelamkam tubuhnya pada pelukan hangat Haidar.


Haidar lantas mengecup puncuk kepala Vanya untuk sejenak dengan pikirannya yang terus saja melayang tak tentu arah.


Pria itu merasa bingung. Haruskah dia mengatakan apa yang di bicarakannya dengan kepala sekolah tempo hari kepada Vanya? Atau haruskah Haidar menyimpan semuanya?


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2