Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Harapan


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa waktu pun berlalu..


Setelah Dokter Rizal berhasil mendiagnosa apa yang sebenarnya terjadi pada Vanya, Haidar dan Nisa pun memutuskan untuk segera mendiskusikan hal ini dengan pihak sekolahan terkait ujian kelulusan yang tidak bisa di ikuti oleh Vanya.


Namun, mau bagaimana pun juga, mau se ingin apa pun pihak sekolahan membantu Vanya, pihak sekolah tidak bisa membantu meringankan hal itu karena ujian ini merupakan ujian nasioal yang tidak bisa di tunda atas alasan apa pun itu.


Dan ya, tidak ada lagi yang bisa di lakukan oleh Haidar dan Nisa selain menerima semua itu.


Yang harus di lakukan oleh Haidar dan Nisa pada saat ini adalah memikirkan bagaimana caranya untuk mereka menjelaskan mengenai hal ini kepada Vanya.


"Gimana caranya supaya Vanya bisa nerima penjelasan dari kita?" Nisa bertanya seraya mengigit ibu jari tangan kanannya.


Gadis itu benar-benar merasa sangat bingung tentang bagaimana cara dia harus menjelaskan mengenai hal ini kepada Vanya.


Haidar yang tengah mengemudi pun sekilas melirik pada Nisa. "Itu biar gua aja yang mikirin.. Toh Vanya juga masih dalam tahap pemulihan mental kan.. Kalo kita bahas masalah ini sekarang, takutnya malah ganggu proses pemulihannya."


Nisa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bener juga sih.."


Nisa lantas mengalihkan pandangannya pada jalanan yang tengah di laluinya melalu kaca jendela mobil. Tapi sedetik kemudian, gadis itu kembali menoleh pada Haidar.


"Eh, btw nih ya.. Lu ga ada sedikit pun rasa penasaran gitu sama keadaannya si Winda?? Ini udah hari ke 4 loh si Winda ga ada kabar.." Tutur gadis itu dengan sedikit ragu.


Namun, Haidar lagi-lagi hanya menanggapinya dengan mengangkat bahunya acuh karena dia memang benar-benar tidak peduli terhadap keadaan gadis itu.


Nisa yang melihat hal itu pun hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Si hati batu emang!!" Gadis itu menggerutu dengan sangat sarkas.


Nisa kemudian memutuskan untuk kembali menatap jalanan melalui jendela kaca mobil selama mereka menempuh perjalanan menuju rumah sakit.


Ya, beberapa hari yang lalu, Winda sempat mendatangi rumah sakit tempat di mana Vanya di rawat dengan tujuan untuk meminta maaf pada Vanya.


Melihat Winda yang datang dalam keadaan yang sangat kacau, lantas membuat Nisa memutuskan untuk mengijinkan gadis itu menemui Vanya.


Terlebih lagi, Nisa mengerti alasan kenapa Winda bisa melakukan hal itu terhadap Vanya. Sehingga membuat Nisa merasa sedikit tidak tega terhadap gadis itu.


Namun sayangnya, Winda harus menelan kekecewaan karena tidak bisa menemui Vanya akibat Haidar yang tidak mengijinkannya.

__ADS_1


Padahal, Rima dan Andi sudah berusaha membujuk Haidar agar dia mengijinkan Winda untuk menemui Vanya.


Tapi ya, begitulah.. Haidar tetaplah Haidar.. Pria yang memiliki sifat tidak bisa di bantah yang hanya akan bisa luluh terhadap Vanya seorang.


Jadi, mau tidak mau, Winda harus pergi dari rumah sakit dengan membawa kekecewaan karena tidak bisa menemui Vanya.


Namun, meskipun begitu, Winda masih bisa merasa sedikit lega karena Nisa berjanji akan selalu memberikan kabar mengenai perkembangan kesehatan Vanya.


Tapi, selama beberapa hari terakhir ini, Nisa merasa sedikit khawatir terhadap keadaan Winda karena gadis itu sama sekali tidak bisa di hubungi.


Nisa sudah berusaha membujuk Haidar agar mencari tahu keadaan gadis itu. Namun Haidar selalu menolak dengan alasan gadis itu bukanlah tanggung jawabnya.


Waktu itu Haidar pernah berkata 'Gua ga peduli dan ga akan pernah peduli sana apa pun yang terjadi sama cewek itu! Yang gua peduliin sekarang cuma keadaannya Vanya! Jadi stop minta-minta sama gua buat ngecek keadaan cewek itu!'


Jadi, Nisa merasa sedikit enggan untuk membahas menganai Winda terhadap Haidar. Ya meskipun terkadang Nisa masih saja membahas hal itu. Namun jika Haidar sudah memberikan tanggapan dengan mengangkat bahunya acuh. Nisa lebih memilih untuk mengakhiri percakapan.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit lamanya, Haidar dan Nisa pun sampai dk rumah sakit. Haidar lantas memarkirkan mobilnya di tempat parkiran yang ada di sana.


Mereka berdua lalu keluar dari dalam mobil kemudian segera menuju ruangan tempat di mana Vanya di rawat.


Sesampainya di ruangan yang di tempati Vanya, Haidar dan Nisa segera mendekati Vanya yang tengah tertidur setelah sebelumnya mereka menyapa Rima terlebih dahulu.


Melihat Vanya yang tertidur, Haidar lantas menyunggingkan senyum kecilnya kemudian mengecup kening Vanya untuk beberapa saat. Pria itu kemudian duduk di kursi yang ada di samping kasur yang di gunakan oleh Vanya.


"Vanya sejak kapan tidurnya mah?" Nisa bertanya seraya duduk di samping Rima.


Rima tidak segera menjawab pertanyaan Nisa, wanita itu menatap Vanya untuk sejenak kemudian menoleh pada Nisa.


"Sejak 20 menit yang lalu kalo ga salah.." Rima berkata dengan senyum kecil yang tiba-tiba tersungging di bibirnya.


Melihat hal itu, lantas membuat Nisa menatap Rima dengan memicingkan matanya.


"Mamah kok senyum-senyum gitu? Ada kabar baik apa nih?" Nisa bertanya dengan di penuhi rasa penasaran.


Namun, alih-alih menjawab, Rima justru meminta Haidar agar mendekatinya.


"Nak Haidar, bisa kesini sebentar?" Tanya Rima.


Haidar pun mengalihkan tatapannya dari Vanya pada Rima kemudian menganggukkan kepalanya.


Pria itu lantas mendekati Rima kemudian duduk di sofa single yang terletak di samping sofa yang di duduki oleh Rima dan Nisa.


"Ada apa tan?" Tanya Haidar kemudian.

__ADS_1


"Tante punya kabar baik soal Vanya." Rima menjawab dengan senyum kecil yang terus tersungging di bibirnya.


"Kabar baik apa mah??" Sahut Nisa cepat.


"Tadi, dokter Rizal bilang, masih ada harapan buat Vanya bisa pulih dari traumanya.. Soalnya Vanya udah mulai sering ngerespon kalo di ajak ngomong.." Tutur Rima.


Mendengar penuturan Rima, seketika membuat Haidar mengembangkan senyum bahagianya. Pria itu lantas menoleh pada Vanya dengan tatapan penuh harap.


Sedangkan Nisa, gadis itu mengulum senyum bahagianya dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis itu menggenggam tangan kanan Rima dengan tangan yang sedikit bergetar karena merasa sangat bahagia.


Karena ya, selama beberapa hari terakhir ini, selama dokter Rizal melakukan pemeriksaan terhadap Vanya. Dokter Rizal mengatakan kalau kemungkinannya sangat kecil untuk Vanya bisa kembali pulih seperti semula. Hal itu bisa terjadi akibat dari Vanya yang mengalami kejadian buruk yang membuat trauma masa lalunya terulang kembali.


Jadi, ketika Nisa mendengar kalau masih ada harapan untuk Vanya kembali pulih seperti semula. Nisa benar-benar merasa sangat bahagia.


"Seriusan mah?? Mamah ga bohong kan??" Tanya Nisa kemudian.


Haidar lalu kembali menatap Rima untuk mendengar jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan oleh Nisa.


Rima pun menganggukkan kepalanya. "Bahkan Vanya udah boleh di ajak jalan keluar. Tadi aja mamah udah ngajakin Vanya jalan-jalan di taman.."


Mendengar hal itu, seketika membuat Nisa kembali memicingkan matanya. "Kok mamah ngeduluin Nisa sih!!" Gadis itu mengeluarkan protesannya dengan sedikit merengek.


Melihat hal itu, lantas membuat Haidar berdehem kecil. "Khem!"


Nisa yang mengerti maksud dari deheman Haidar pun segera meralat kalimatnya..


"Eh, maksud Nisa.. Kok mamah ngeduluin Haidar sih.. Gitu kan Dar maksudnya?" Nisa bertanya seraya menatap Haidar dengan menampilkan cengiran lebarnya.


Rima yang melihat hal itu pun seketika terkekeh geli.


Namun, saat Rima hendak menyahuti perkataan Nisa. Dia harus mengurungkan niatnya tat kala mendengar gumaman kecil dari Vanya yang sudah terbangun dari tidurnya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2