
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat Wulan memasuki ruangannya, dia menyunggingkan senyum pilunya saat melihat bungkus kebab yang sebelumnya di pesan oleh Haidar.
Apa kah tebakannya benar tentang Haidar dan Vanya yang menjalin hubungan? Bisa kah dia menganggap jika itu hanya sekedar pikirannya saja? Bolehkah dia mengabaikannya dan tetap berusaha mengejar Haidar?
Karena sungguh, ini adalah kali pertama Wulan merasakan perasaan jatuh cinta dengan teramat dalam pada seorang pria.
Namun, Wulan segera menghilangkan pemikirannya itu tat kala Vanya memanggilnya.
"Kak Wulan, ngapain bengong di situ?"
Wulan pun menatap Vanya dengan sedikit kikuk. "Ah ga papa." Gadis itu berkata seraya tersenyum kecil kemudian duduk di meja kerjanya.
Vanya yang melihat sikap Wulan yang sedikit aneh pun hanya bisa menghela nafasnya karena dia benar-benar tau kenapa Wulan bisa bersikap seperti itu.
Namun, Vanya berusaha mengabaikannya dengan bersikap seolah tidak tau apa-apa. Vanya pun kembali melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan yang sedikit tidak menentu.
*****
Sepulang dari kantor, Vanya memutuskan untuk kembali menginap di apartment Haidar.
Setelah mereka menyelesaikan makan malam, ketika Vanya hendak mencuci piring, Haidar melarang Vanya untuk melakukan hal itu dengan alasan tidak ingin Vanya merasa terlalu lelah.
Vanya pun hanya bisa menurutinya. Karena melawan pun percuma, pria itu akan tetap memaksanya untuk diam dan tidak melakukan apa-apa.
Vanya yang masih terpikirkan tentang Wulan pun menghela nafasnya kemudian menatap Haidar yang tengah mencuci piring.
"Tadi lu ngomong apa aja ke kak Wulan? Ga ngomong yang aneh-aneh kan? Kok dia sikapnya aneh banget, kek orang yang abis kehilangan duit miliyaran, hidup segan mati tak mau." Vanya berkata seraya menopang dagu menggunakan tangan kanannya ada meja makan.
Haidar yang mendengar hal itu pun seketika terkekeh geli.
Yang mana, hal itu seketika membuat Vanya mengerutkan keningnya. "Dih, kok malah ketawa, gua seriusan nanya loh ini.."
Haidar lantas melirik Vanya sekilas. "Ya abisnya, perumpamaan elu tuh ada-ada aja. Bisa-bisanya di samain sama orang yang abis kehilangan duit miliyaran. Pake istilah hidup segan mati tak mau segala lagi."
"Ya kan emang gitu.." Vanya berkata seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lagian elu juga, kalo ngomong sama orang biasanya sarkas banget. Wajar kan gua pake perumpamaan kaya gitu."
Haidar yang sudah menyelesaikan kegiatannya pun mengelap tangannya yang basah kemudian menghampiri Vanya. "Gua ga bilang yang aneh-aneh, cuma to the point ke intinya aja." Pria itu berkata seraya duduk di hadapan Vanya.
__ADS_1
"Kok gua ga yakin." Vanya berkata dengan sedikit memicingkan matanya.
"Ck, udah ah, ga usah di pikirin. Mending kita tidur, udah malem." Haidar berkata seraya beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi menuju kamar.
Vanya yang melihat hal itu pun hanya bisa menghela nafasnya kemudian menyusul Haidar.
*****
Beberapa hari pun telah berlalu.
Semenjak hari di mana Wulan berbicara dengan Haidar, hubungan Vanya dengan Wulan pun sedikit merenggang.
Vanya yang menyadari hal itu pun merasa sedikit bingung atas sikap Wulan yang semakin lama semakin acuh tak acuh kepadanya. Terlebih lagi, Wulan bersikap seolah-olah dia tengah marah kepada Vanya. Yang mana, hal itu benar-benar menbuat Vanya merasa semakin bingung.
Vanya pun kini berpikir, apa kah Wulan tau tentang hubungannya dengan Haidar? Tapi, jikalau pun iya, bukan kah aneh jika Wulan marah kepadanya?
Namun, Vanya berusaha mengabaikan sikap Wulan itu. Toh di sini posisinya bukan dia yang salah. Dan juga, meskipun Wulan memang marah padanya, itu tidak akan mempengaruhi nilai PKLnya. Jadi, kenapa dia harus repot-repot memikirkan tentang sikap Wulan padanya.
Tapi, satu hal yang membuat Vanya merasa penasaran. 3 hari yang lalu, Vanya sempat melihat Wulan berbincang dengan seorang wanita di dekat gerbang kantor.
Hal yang membuat Vanya penasaran adalah, karena wanita yang berbincang dengan Wulan itu memiliki postur tubuh yang terlihat sangat familiar untuk Vanya. Dan juga, ketika Wulan melihat kedatang Vanya, Wulan seakan memberikan isyarat kepada wanita itu agar segeroa pergi dari sana.
Yang mana, hal itu membuat Vanya merasa semakin penasaran. Namun sayangnya, Vanya tidak dapat melihat wajah wanita itu karena posisinya membelakangi Vanya.
Hingga saat ini, Vanya masih memikirkan tentang wanita itu. Kira-kira siapa kah wanita itu? Apa kah Vanya mengenal wanita itu? Kenapa postur tubuh wanita itu sangat familiar untuk Vanya?
Vanya pun mendelikkan matanya pada Haidar yang berdiri di sampingnya. "Haidaaar... Jangan ngagetin gua bisa ga sih? Jantungan nih gua!!" Gadis itu berkata dengan sangat ketus.
"Ya abisnya, lu dari tadi gua panggil-panggil tapi ga nyaut. Gua hampir berjamur berdiri disini nungguin respon lu."
"Emang iya? Sejak kapan lu berdiri di sini?" Vanya bertanya seraya mengerjapkan matanya.
Haidar menghela nafasnya. "Sejak 10 menit yang lalu." Pria itu berkata seraya bersedekap dada.
Vanya seketika menatap Haidar dengan sedikit rasa terkejut. "Selama itu?"
Haidar menganggukkan kepalanya.
"Lha terus, lu ngapain berdiri di sini?" Vanya bertanya dengan sedikit bingung.
"Ini udah waktunya buat pulang Vaaaaa..." Haidar yang merasa gemas pun berkaya seraya mencubit pipi Vanya dengan sangat gemas.
"E,eh.. Emang udah waktunya pulang ya?"
__ADS_1
"Tuh liat, udah jam berapa?" Haidar menujuk jam yang terpasang di dinding.
Vanya pun melirik jam yang kini sudah menunjukkan pukul 16.20 WIB. Gadis itu lalu menatap Haidar dengan menampilkan cengiran lebarnya.
"Hehe.. Ya maap." Vanya berkata seraya mengusap tengkuknya canggung.
Haidar pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lu mikirin apa sih? Kok sampe ga fokus gitu.."
"Engga, ga mikirin apa-apa. Cuma mikin kerjaan aja."
"Yakin?"
Vanya menganggukkan kepalanya.
"Yaudah, ayo pulang."
"Lu turun duluan aja ya, gua mau nyerahin ini dulu ke pak Tomi." Vanya berkata seraya menunjukkan falshdisk pada Haidar.
"Ga mau di temenin?"
"Ga usah ga papa.."
"Yaudah kalo gitu." Haidar pun berlalu pergi dari sana.
Vanya lantas segera merapikan meja kerjanya kemudian menuju ruangan pak Tomi.
Setelah menyerahkan flashdisk itu pada pak Tomi. Vanya pun segera turun ke bawah menuju tempat parkir.
Namun, saat Vanya sudah berada di tempat parkir, dia menghentikan langkahnya tat kala melihat pemandangan yang membuatnya sangat terkejut.
Di mana, di depan matanya, Vanya melihat Haidar yang tengah berciuman dengan Wulan.
Jika saja Vanya boleh meminta, dia ingin menghilang dari sini saat ini juga. Karena sungguh, melihat hal itu, benar-benar membuat Vanya kembali merasakan luka di hatinya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..