Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Mimpi Buruk Apa?


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah melewati perundingan yang cukup matang dengan mendatangkan orang tua Rayan dan pihak dari sekolah Rayan itu sendiri, Vanya akhirnya memutuskan untuk tidak mengusut masalah ini ke jalur hukum. Karena selain tidak ingin memberatkan siapapun, Vanya juga tidak ingin masalah ini di ketahui halayak luas.


Tapi, meskipun begitu, Rayan di beri hukuman dengan di berhentikan dari tugas PKL nya dan juga di keluarkan secara tidak hormat dari sekolahan. Orang tua Rayan juga berjanji akan mengawasi Rayan agar tidak berada di sekitaran Vanya dengan memindahkan Rayan ke luar kota.


Dengan begitu, Vanya setidaknya bisa melewati hari-harinya dengan sedikit tenang. Pak Tomi juga memberikan keringanan untuk Vanya beristirahat sealama beberapa hari di rumahnya.


Saat ini, Vanya sudah berada di apartemen milik Haidar. Awalnya, Vanya menolak ajakan Haidar untuk menginap di apartment pria itu. Karena selain tidak enak hati, ada satu faktor yang membuat Vanya merasa enggan untuk menginap di apartemen Haidar.


Namun, setelah bujukan yang meyakin dari Haidar, Vanya pun akhirnya mau menginap di apartment pria itu.


Vanya yang kini tengah terlelap di kasur milik Haidar pun sedikit menggeliatkan tubuhnya tat kala mendengar suara bising yang berasal dari ruang tengah. Gadis itu lalu mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam penglihatannya, kemudian menatap kamar bernuansa putih abu-abu itu dengan seksama.



Pict by : Pinterest


"Lu udah bangun?" Tanya Haidar yang baru masuk ke dalam kamar.


Vanya pun menatap Haidar lalu mengembangkan senyumnya kemudian menganggukkan kepalanya. Hadis itu lantas menghela nafasnya sejenak kemudian beringsut untuk duduk, pandangan mata gadis itu tiba-tiba teralihkan pada bingkisan yang di pegang oleh Haidar.


Haidar yang menyadarinya pun tersenyum lalu menyerahkan bingkisan itu pada Vanya.


"Baju buat lu.." Ucap Haidar.


"Lu beli?" Vanya bertanya dengan alis yang sedikit menukik.


Haidar menganggukkan kepalanya.


"Emang tau ukurannya?"


"Badan se kecil itu butuh ukuran berapa sih.." Pria itu menjawab seraya terkekeh kecil.


Vanya yang mendengar hal itu pun seketika mencebikkan bibirnya. "Ngejek apa ngatain?" Gadis itu bertanya dengan sangat ketus.


Haidar yang merasa gemas pun mencubit pipi Vanya dengan sangat gemas seraya berkata. "Ngehina..."


Yang mana, hal itu semakin membuat Vanya mencebikkan bibirnya.


"Udah sana mandi, habis itu kita makan.." Haidar berkata seraya tersenyum lembut.


Vanya lantas segera beranjak dari kasur lalu melangkah menuju kamar mandi.


Selesai membersihkan diri, saat Vanya yang tengah mengenakan pakaian dalam yang di belikan oleh Haidar seketika menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bener-bener tau ukuran gua ternyata.. Tapi, emangnya gua sekecil itu ya?" Gadis itu bergumam seraya menatapi pantulan dirinya di depan cermin.


"Kayaknya engga deh.."

__ADS_1


"Ah tau ah.."


Gadis itu pun segera mengenakan pakaian santai yang ada di dalam bingkisan itu.


Selesai mengenakan pakaiannya, Vanya lantas keluar dari kamar dan mencari keberadaan Haidar. Gadis itu mengulum senyumnya tat kala melihat Haidar yang tengah berkutat di dapur dengan mengenakan celemek.


Haidar yang melihat kehadiran Vanya pun tersenyum kecilnya. "Ngapain berdiri di situ, sana duduk di meja makan." Pria itu berkata seraya kembali berkutat dengan masakannya.


Vanya pun duduk di meja makan seraya terus memandangi Haidar.


"Butuh bantuan ga?" Tanya Vanya kemudian.


Haidar melirik Vanya sekilas. "Engga, bentar lagi juga udah selesai kok.."


Vanya pun mengangguk-anggukan kepalanya kemudian menunggu Haidar dengan tenang.


Setelah beberapa saat menunggu, Haidar pun menghampiri Vanya dengan membawa 2 piring spaghetti.


"Waaah.. Baunya enak banget.."


Haidar yang mendengar itu pun tersenyum kecil. "Di makan.. Sorry kalo rasanya ga se enak masakan koki restoran.." Pria itu berkata seraya menyerahkan sepiring spaghetti pada Vanya.


Vanya pun hanya menanggapinya dengan terkekeh kecil lalu mulai menyantap spaghetti itu.


"Enak?" Haidar bertanya setelah Vanya memakan suapan pertamanya.


Vanya menatap Haidar lalu menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Enak, banget malah.."


Setelah menyelesaikan makanan mereka, Haidar lalu kembali mengoleskan obat memar pada tubuh Vanya.


Selesai dengan hal itu, Haidar dan Vanya lantas memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan menonton film di kamar Haidar dengan di temani setoples camilan yang ada di pangkuan gadis itu.


"Jauh banget duduknya, sini deketan.." Haidar berkata seraya merentangkan tangan kanannya, meminta Vanya untuk masuk ke dalam rangkulan pria itu.


Vanya yang melihat itu pun mengulum senyumnya kemudian bergeser untuk masuk ke dalam rangkulan Haidar.


"Nah.. Gini kan enak.." Haidar berkata seraya mengelus bahu Vanya dengan lembut.


Mereka lantas menonton film bergenre sci-fi itu dengan fokus.


Hingga beberapa saat kemudian Vanya menoleh pada Haidar.


"Dar.."


"Hmm.." Haidar bergumam tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar televisi.


"Makasih ya.."


Haidar pun menoleh pada Vanya. "Makasih buat apa?"


"Ya.. Makasih buat semuanya.."


Haidar lantas mengembangkan senyum tulusnya. "Ngapain bilang makasih.. Kan emang udah seharusnya gua ngejagain elu.."

__ADS_1


"Ck, ya pokoknya makasih.." Vanya berkata dengan sedikit merengek.


Haidar seketika terkekeh geli kemudian berkata. "Iya, iya.. Sama-sama sayang.. Makasih juga ya udah mau percaya sama gua.."


Vanya tersenyum lalu menganggukan kepalanya.


"Udah, nonton lagi.. Seru ini filmnya, gua belum nonton soalnya.." Ucap Haidar.


Vanya pun mencebikkan bibirnya kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada layar televisi.


Hingga beberapa saat kemudian Haidar merasakan kepala Vanya yang sedang bersandar di dadanya semakin memberat. Pria itu lantas sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat Vanya.


Haidar seketika mengembangkan senyumnya tat kala melihat Vanya yang sudah terlelap. Pria itu lalu mengambil toples camilan yang ada di pangkuam Vanya kemudian meletakkannya di atas meja.


"Va.. Tidur di kasur yuk.." Haidar berkata seraya mengelus pipi Vanya dengan lembut.


Namun, gadis itu hanya menanggapinya dengan bergumam seraya menggeliatkan tubuhnya.


Haidar yang melihat hal itu pun hanya terkekeh gemas kemudian memutuskan untuk menggendong gadis itu ke atas kasur.


Setelah membaringkan Vanya di atas kasur dengan perlahan, Haidar kemudian mematikan televisi lalu mematikan lampu kamar sebelum akhirnya ikut membaringkan tubuhnya di samping Vanya.


Haidar lalu membenarkan letak selimut pada tubuh Vanya kemudian mulai memejamkan matanya.


Hingga beberapa jam berlalu, Haidar harus terbangun tat kala mendengar Vanya yang terus saja bergumam.


"Tolong.. Maafin Vanya.. Vanya engga salah.. Toloooong.." Vanya terus bergumam dengan air mata yang terus saja mengalir dari matanya.


Haidar yang melihat hal itu pun seketika merasa terkejut kemudian sedikit beringsut untuk mendekati Vanya.


"Ssssh... Ga papa.. Ada gua.. Hmm.. Tenang ya.." Haidar berkata seraya mengelus lembut kening Vanya yang basah karena keringat.


"Sssh.. Tenang, hmm.. Ada gua.." Pria itu kembali berkata seraya menarik Vanya masuk ke dalam pelukannya.


"Ssssss..." Haidar terus meneangkan Vanya dengan menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan lembut.


Setelah beberapa saat berlalu, Vanya terlihat kembali tidur dengan tenang.


Haidar yang melihat hal itu pun seketika menghela nafasnya. "Apa yang sebenernya udah lu laluin Va? Apa ini alesan kenapa kantung mata lu selalu item?" pria itu bergumam kemudian mengecup puncuk kepala Vanya dengan sayang.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2