Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Terpojok


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dan ya, sesuai dengan apa yang di rencanakan. Setelah mengumpulkan lembar kertas ujiannya, Haidar pun segera menemui Nisa yang sudah menunggunya di lorong menuju loker.


"Dari tadi?" Tanya Haidar kemudian.


Nisa menggelengkan kepalanya. "Baru aja.."


"Jadi, apa yang mau lu ceritain?" Haidar sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


Namun, Nisa tidak segera menjawab, gadis itu menolehkan kepalanya ke kanan dan kekiri terlebih dahulu untuk memastikan keadaan sekitar.


Setelah yakin kalau tidak ada orang di sekitar mereka, Nisa pun kembali menatap Haidar.


"Vanya pernah cerita apa aja tentang keluarganya?" Tanya Nisa kemudian.


Namun, pertanyaan yang di lontarkan oleh Nisa itu justru membuat Haidar mengernyitkan dahinya.


"Apa hubungannya?" Pria itu bertanya dengan sedikit bingung.


"Ck, udah jawab aja.. Vanya pernah cerita apa aja??"


Meskipun merasa bingung, namun Haidar tetap menjawab. "Banyak sih.."


"Salah satunya?" Tanya Nisa cepat.


"Soal alesan utama dia kabur dari rumah.."


"Ok, jadi elu udah tau kan ya latar belakangnya Vanya yang asli kayak gimana?"


Haidar menganggukkan kepalanya.


"Khem.. Gini.." Nisa sedikit menggantungkan kalimatnya. "Eeemm.. Lu udah pernah liat muka atau foto nyokap tirinya Vanya belum?"


Haidar menggelengkan kepalanya.


Melihat hal itu lantas membuat Nida menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Namun, Nisa kembali melanjutkan apa yang ingin di katakannya pada Haidar.


"Gini, lu inget akun yang gua minta ke elu tadi kan?"


Haidar menganggukkan kepalanya.


"Nah, yang itu tadi tu nyokap tirinya Vanya.. Namanya tante Ayu.." Nisa berkata cepat.

__ADS_1


Haidar menaikkan sebelah alisnya. "Yang foto berdua sama si anak kelas 10 itu?"


"He, em.." Nisa menganggukkan kepalanya. "Nah, si anak kelas 10 itu ternyata keponakannya nyokap tirinya Vanya.."


Haidar kembali menaikkan sebelah alisnya.


"Jadi?" Pria itu masih terlihat bingung.


Nisa yang melihat hal itu pun merasa sedikit gemas pada Haidar yang tiba-tiba saja menjadi sedikit lambat dalam berpikir.


"Iissshhh!! Elu kok lemot sih!!" Nisa berkata dengan sangat gemas.


Namun, gadis itu tetap berusaha menjelaskan apa yang dia pikirkan dengan sebaik mungkin.


"Gini.. Dengerin gua.. Si Winda kan keponakannya tante Ayu.. Nah terus, sekarang kan Vanya ilang nih setelah dia bilang kalo dia pergi sama si Winda.. Jadi, yang ada di pikiran gua sekarang tu kalo tante Ayu sengaja nyuruh si Winda buat ngedektin Vanya dengan kedok belajar bahasa inggris biar si Winda bisa gampang nyelakain Vanya!!" Jelas Nisa dengan sedikit bersungut-sungut.


"Paham ga lu apa yang gua maksud??" Nisa menatap Haidar dengan mata yang sedikit memicing.


Haidar menganggukkan kepalanya. "Tapi, kenapa?"


Mendengar apa yang di tanyakan Haidar, lantas membuat Nisa merenung untuk sejenak.


"Gua ga tau sih alesan pastinya.. Tapi masalahnya dulu juga gitu, Vanya di siksa tanpa alesan yang jelas.." Kata Nisa kemudian.


"Gimana kalo kita ke galeri itu?" Haidar mencoba untuk memberikan jalan keluar.


Namun, Nisa segera menggelengkan kepalanya. "Gak, gak, gak.. Kita ga bisa kesana soalnya kita ga punya bukti kalo Vanya emang ada di sana. Coba lu pikir lagi deh.. Kalo itu galeri pribadi, otomatis ada orang yang jaga dong se engganya.. Masa Vanya ada di sana.."


"Mending kita nemuin Winda.. Cari tau apa yang sebenernya.."


Haidar menatap Nisa dengan alis yang sedikit menukik. "Lu yakin?"


"Gua yakin.. Yakin banget malah.."


"Yaudah kalo gitu, keburu si Windanya pulang.."


Nisa menganggukkan kepalanya.


Mereka pun kemudian segera berlalu pergi dari sana dengan tujuan untuk mencari tahu keberadaan Winda.


Namun, seperti yang sebelumnya kita ketahui..


Di saat Nisa dan Haidar berada di ujung lorong yang mengarah ke luar, mereka menghentikan langkah tat kala melihat Winda yang tengah berjalan ke arah mereka.


"Bukannya itu si Winda ya?" Tanya Nisa.


Haidar menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin, pria itu kemudian hendak melangkah ke arah Winda yang belum menyadari keberadaan Nisa dan Haidar. Itu semua karena Winda yang berjalan dengan kepala yang terus menoleh ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


Namun, Nisa segera menghentikan Haidar.


"Tunggu bentar.. Lu liat deh tas yang di tenteng di tangan kirinya si Winda, bukannya itu tas nya Vanya ya?"


Mendengar hal itu, lantas membuat Haidar menatap ke arah tas kecil yang di bawa oleh Winda.


"Kok lu bisa yakin kalo itu tasnya Vanya?" Tanya Haidar kemudian.


"Boneka kecil yang di jadiin gantungan di tas itu boneka yang gua kasih buat ulang tahunnya Vanya, Dar.. Boneka itu gua yang bikin pake tangan gua sendiri, Dar!! Masa lu ga ngeh sama bone kecil itu sih.. Vanya kan kemana-mana pasti make tas itu!!" Nisa berkata dengan gigi yang terkatup rapat karena merasa sangat gemas akan otak Haidar yang tiba-tiba bekerja dengan lambat.


Namun, saat Haidar hendak menyahuti perkataan Nisa. Pria itu harus menelan kembali kalimatnya tat kala melihat Winda yang mematung dan melihat ke arah mereka.


"Lah, lah.. Gua makin curiga sana tu anak.." Nisa berkata seraya tetap fokus pada tas yang dia maksud.


"Udah ah, ayok samperin!!" Nisa berkata kemudian melangkah menuju Winda.


Namun, baru 2 langkah dia berjalan, Winda sudah lebih dulu membalikkan tubuhnya kemudian berlari.


"Lah, lah, lah.. Dar, Dar.. Dia lari Dar.. Ayok kejar!!" Nisa pun akhirnya berlari untuk mengejar Winda.


Begitu pula dengan Haidar, dia juga berlari untuk mengejar Winda.


Sedangkan Winda, dia yang benar-benar merasa panik pun hanya bisa terus berlari guna menghindari kejaran Haidar dan juga Nisa. Hingga akhirnya dia merasa sangat bingung, kemana lagi dia harus berlari karena kakinya sudah benar-benar terasa lemas.


Gadis itu lantas menoleh sekilas ke belakang untuk melihat Nisa dan Haidar yang juga masih terus berlari mengejarnya.


"Oh God!! Gua harus sembunyi di mana??" Winda menggerutu di dalam hatinya seraya terus berlari menyusuri setiap lorong sekolah yang ada.


Winda, Haidar dan Nisa terus berlari tanpa menghiraukan orang-orang yang menatap heran ke arah mereka.


Hingga ketika pelarian Winda sampai di gedung belakang sekolah, Winda pun memilih untuk berhenti berlari karena sudah tidak ada lagi jalan untuk dia menghindari Nisa dan Haidar.


Winda pun membalikkan tubuhnya ke arah datangnya Haidar dan juga Nisa. Namun, tepat setelah Winda membalikkan tubunya, dia tiba-tiba saja jatuh terduduk di lantai teras gudang itu yang sedikit kotor. Karena sungguh, kedua kakinya sudah tidak kuasa lagi menopang berat beban tubuhnya akibat terus berlari.


Gadis itu lantas mengangkat kepalanya yang sebelumnya menunduk untuk menatap Haidar dan juga Nisa yang sudah berada di hadapannya.


Dan ya.. Pada akhirnya, yang bisa Winda lakukan saat ini hanyalah pasrah. Pasrah menghadapi apapun yang akan terjadi selanjutnya..


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2