
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Waaaah.. Aku ngerasa kayak lagi di dongeng."
Nisa menatap aula pernikahan yang kini di dekorasi seperti pernikahan untuk raja dan ratu.
Rima mengangguk kecil, dia menyetujui apa yang di katakan oleh Nisa. Pernikahan Vanya dan Haidar benar-benar sangat mewah.
"Hmm.. Mamah juga ga nyangka kalo Haidar se tajir ini."
"Mah.."
"Hm?"
"Kira-kira, Nisa bisa dapet cowok tajir kayak Vanya gak ya?"
"Husss.. Ngarep tu jangan cowok yang tajir, tapi cowok yang bisa ngertiin kamu luar dalem. Yang sikapnya ga neko-neko. Percuma dapet cowok tajir kalo dianya neko-neko."
"Hehe.. Iya mah iya.."
"Kepada mempelai perempuan, di persilahkan untuk memasuki altar."
Nisa dan Rima seketika saja menoleh ke arah pintu masuk. Mereka sangat tidak sabar untuk melihat kedatang Vanya.
Semua orang yang ada di sana pun tak kalah antusiasnya dengan Nisa dan juga Rima, semua mata tertuju ke arah pintu masuk. Tidak hanya satu atau dua orang yang mengaktifkan kamera ponsel mereka untuk mengabadikan momen itu.
Semua orang yang ada di sana seketika saja terkesiap saat Vanya melangkahkan kakinya menuju altar. Mereka semua yang ada di sana merasa sangat terpesona akan kecantikan yang di miliki oleh Vanya.
Vanya benar-benar tampil menawan dengan balutan gaun pengantin berwarna putih ala princess yang bertaburkan berlian. Di mana gaun pernikahan itu merupakan gaun yang secara khusus di pilihlan oleh kakek Haidar.
Pict by : Pinterest
"Pah.. Aku gugup."
Lirih Vanya, dia mengeratkan genggamannya ada lengan Bagas.
"Tarik nafas, angkat dagunya tinggi-tinggi, senyum. Ga usah gugup, kamu cantik, kamu mempesona, kamu harus percaya diri."
Vanya pun melakukan apa yang Bagas katakan. Namun sayangnya, sekuat apa pun mencoba, rasa gugup itu tetap saja ada. Rasa gugupnya bahkan bertambah besar saat melihat Haidar yang menunggunya di altar dengan caranya yang begitu gagah.
Oh sungguh.. Vanya merasa kalau semua ini adalah mimpi. Vanya benar-benar tidak ercaya kalau dirinya sebentar lagi akan berstatus sebagai istri dari seorang pria yang benar-benar dia cintai.
Saat Vanya sudah berdiri tepat di hadapan Haidar, Vanya benar-benar tidak bisa mengangkat wajahnya. Dia terlalu gugup hanya untuk sekedar menunjukkan wajahnya pada Haidar.
Haidar pun hanya bisa menyunggingkan senyumnya, dia tau betul bagaimana rasa gugup yang Vanya alami saat ini. Karena ya, dia pun sama merasa gugupnya dengan Vanya.
Haidar lantas mengulurkan tangannya untuk menerima Vanya.
Sebelum Bagas benar-benar menyerahkan Vanya pada Haidar, pria itu menatap Haidar untuk sejenak.
"Aku menyerahkan anakku kepadamu dengan setulus hatiku. Jagalah dia dengan sebaik mungkin. Berusaha lah untuk menjadi pria yang bertanggung jawab. Baik untuk saat ini, besok, dan juga nanti. Jangan pernah mengecewakannya sebagaimana aku pernah mengecewakannya. Jika kau bosan atau pun sudah tidak lagi mencintai putriku, maka kembalikan dia padaku dengan cara yang baik sebagaimana aku menyerahkannya padamu. Kini, aku serahkan putriku padamu."
__ADS_1
Haidar menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Aku pasti akan selalu mengingat apa yang papah katakan."
Bagas pun meletakkan tangan Vanya di atas tangan Haidar. Kini, mereka berdiri berdampingan dengan menghadap ke arah sang pendeta.
Janji suci pun terucap, mereka lantas saling memasangkan cincin di jari manis mereka.
"Cium! Cium! Cium!"
Itu Nisa, dia dengan suara menggelegarnya mampu membuat semua orang yang ada di sana memusatkan perhatian mereka ke arahnya.
Tapi, hal itu juga membuat semua orang yang ada di sana menyorakkan hal yang sama.
"Kayaknya kita emang harus ciuman deh." Bisik Haidar.
Vanya seketika saja membulatkan kedua bola matanya.
"Di sini? Sekarang?"
Haidar mengangguk kecil, pria itu menatap Vanya dengan tatapan nakalnya.
"Tap... Emm.."
Kata yang terucap dari bibir gadis itu seketika saja terhenti saat Haidar tiba-tiba saja menciumnya.
Meskipun merasa sangat terkejut, namun Vanya tetap memejamkan matanya, mencoba untuk menikmati setiap lum**atan lembut yang diberikan oleh Haidar.
"Huuuuuuu..."
Sorak sorai, dan tepuk tangan dari semua tamu undangan pun mengiringi kemesraan yang saat ini tengah terjadi pada pengantin baru itu.
.......
.......
.......
Entahlah, Vanya hanya merasa terlalu lelah untuk melepaskan semua itu. Rasanya dia ingin langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur kemudian terlelap dengan damai guna menghilangkan rasa lelahnya.
Haidar menghela nafasnya melihat Vanya yang masih saja duduk di depan meja rias. Haidar sangat yakin, gadis yang saat ini sudah menjadi istrinya itu kini pasti merasa sangat kelelahan.
Haidar lantas melangkah menghampiri Vanya.
"Kamu capek?"
Vanya menyunggingkan senyumnya, dia menatap Haidar yang berdiri di belakangnya melalui pantulan cermin.
"Lumayan.. Tapi ga papa, sekali seumur hidup."
Haidar mencebikkan bibirnya. "Yakin sekali seumur hidup?"
"Tcih! Kamu berharap aku nikah lagi?"
Haidar terdiam, dia tampak berpikir untuk sejenak. Tubuhnya tiba-tiba saja merinding membayangkan hal itu.
"Ga lah.. Gila apa.. Ngedapetin kamu itu ga gampang, gila aja aku berharap buat kamu nikah lagi."
Vanya seketika saja terkekeh geli.
__ADS_1
"Sini aku bantuin."
Haidar lantas melepaskan aksesoris yang terpasang di rambut Vanya dengan sangat hati-hati. Rambut panjang nan indah milik Vanya yang selama satu hari penuh ini tergulung pun kini tergerai dengan sangat indahnya.
Haidar tidak mengerti, entah karena efek terlalu sering melihat Vanya mengikat rambutnya, atau karena ini adalah malam pertama mereka setelah resmi menjadi sepasang suami istri. Di matanya, rambut panjang nan hitam legam milik Vanya terlihat sangat mempesona.
"Haidar.."
"Ah ya.. Gimana?"
"Jangan ngeliatin aku kayak gitu ih."
Haidar terkekeh kecil melihat Vanya yang tampak salah tingkah.
Oh ayolah.. Lagi pula, siapa yang tidak akan merasa salah tingkah jika di tatap sebegitu dalamnya oleh orang yang sangat di cintai.
"Sekalian aku bantuin buka gaunnya ya?"
Vanya mengerjapkan matanya, dia tampak terkejut untuk beberapa saat. Namun sedetik kemudian, dia mengangguk kecil pertanda mengijinkan Haidar untuk membantu membuka pakaiannya. Karena mau bagaimana pun, Vanya juga tidak bisa melepaskannya sendiri, pengait gaun itu terletak di bagian belakang.
Jubah yang terpasang di bahunya sudah tergeletak di atas lantai.
Tak! Tak! Tak!
Satu persatu pengait gaun yang di kenakan Vanya kini mulai terlepas.
Haidar menahan nafasnya saat tangannya menyentuh punggung Vanya yang begitu mulus. Pria itu mencoba untuk mempertahankan kesadarannya, dia harus menunggu hingga gaun itu selesai terlepas.
Tidak mungkin kan dia memyerang Vanya dengan gaun besar yang masih di kenakan istrinya. Oh tidak, Haidar tidak bosa membayangkan akan betapa kesulitannya dia jika hal itu sampai terjadi.
Sebelum gaun itu benar-benar terlepas, Haidar meminta Vanya untuk berdiri.
Vanya tidak menolak, dia mengikuti apa yang di inginkan Haidar.
Mereka masih berada di depan cermin, hanya saja, saat ini mereka ada dalam posisi berdiri dengan saling menghadap ke arah cermin.
Sungguh, Haidar sudah tidak kuasa lagi menahan semua rasa yang dimilikinya. Selagi dia melepaskan 3 pengait terakhir, Haidar perlahan mulai menelusupkan kepalanya pada perpotongan leher Vanya.
"I love you Va.. I love you so much my wife.."
Haidar berbisik tepat di telinga Vanya.
"I love you too my husband."
Hingga pada akhirnya, gaun itu pun benar-benar lolos dari tubuh Vanya.
...-The End-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..