Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Memanfaatkan Kesempatan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Semenjak Vanya keluar dari dalam mobil Vino, Vanya merasa sedikit tidak enak hati karena terus memberikan penolakan. Tapi, hal itu sengaja dia lakukan karena dia belum ingin memberikan kesempatan pada pria mana pun untuk lebih dekat dengannya.


Bukannya Vanya sudah tidak ingin dekat dengan pria mana pun lagi. Hanya saja, Vanya belum siap jika harus memulai hubungan kembali.


Entahlah, Vanya hanya merasa kalau memulai suatu hubungan baru akan terlalu rumit untuknya. Terlebih lagi, perasaannya terhadap Haidar masih ada. Dia tidak ingin kalau nantinya, perasaan yang dia miliki untuk Haidar akan mengganggu hubungan barunya.


Toh, Vanya juga masih merasa sakit hati akan hubungannya yang berakhir tanpa kejelasan apa pun. Membuat Vanya merasa sedikit takut untuk mengalami sakit hati untuk yang ke sekian kalinya.


Ya meskipun sebenarnya memang tidak ada hubungan yang benar-benar bisa bertahan lama, karena bahkan pasangan yang sudah menikah pun masih bisa berpisah. Tapi, Vanya tetap saja merasa enggan jika harus mengalami perpisahan lagi.


Tapi meskipun Vanya merasa tidak enak hati pada Vino karena terus menolaknya, Vanya berusaha untuk menekan perasaan tidak enak hatinya itu.


Sejujurnya, Vino merupakan pria yang cukup baik. Hanya saja, pria itu terlalu mengingatkannya pada sosok Haidar.


Ah, entahlah, meskipun Vanya tau kalau hal itu salah. Tapi Vanya tetap tidak bisa menghilangkan bayang-bayang Haidar saat berinteraksi dengan Vino.


Setelah melirik Vino untuk yang ke sekian kalinya, Vanya pun memfokuskan pandangannya pada layar komputer miliknya. Toh, Vino juga terlihat biasa saja. Jadi, Vanya pun memutuskan untuk bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.


Hingg tak terasa, waktu pun berlalu dengan begitu cepat. Jam makan siang pun kini telah tiba. Saat Vanya tengah merapikan mejanya, Winda datang menghampirinya.


"Ayok kak.. Lapeeeeer..." Ucap Winda.


Vanya melirik Winda sekilas. "Sabaaar.."


"Hehe.. Iya iya.." Winda lalu melirik Lidia yang mejanya bersebelahan dengan Vanya. "Ayo kak, makan siang ga? Kok masih sibuk aja."


"Tunggu bentar, 5 menit lagi aja. Kakak cuma tinggal ngirim ke email client aja." Lidia menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer miliknya.


"Ok." Ucap Winda.


Vanya dan Winda pun menunggu Lidia menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah 5 menit berlalu, Lidia pun menoleh pada Vanya dan Winda.


"Da yok.." Ucap Lidia.


Ke 3 gadis itu pun segera menuju kafetaria kantin untuk mengisi perut mereka dengan makanan.

__ADS_1


.....


"Waaah.. Tumben rame banget." Winda berkata seraya menatap cafeteria yang sudah di penuhi pengunjung.


Karena ya, gedung tempat mereka bekerja tidak hanya di isi oleh PT. Rumah linux saja. Gedung tempat mereka bekerja merupakan gedung yang di gunakan oleh 2 perusahaan. Oleh sebab itu, akan ada hari di mana cafetaria terisi penuh oleh para pegawai dari 2 perusahaan yang berbeda.


Tapi beruntungnya, ada 1 meja kosong yang bisa mereka tempati.


"Kalo gitu kalian duduk aja dulu di sana, biar aku yang mesenin makanan." Kata Winda.


"Ok deh. Kakak mesen jus jeruk sama burger ya." Kata Lidia.


"Ok.. Kakak pesen apa?" Winda menoleh pada Vanya.


"Samain sama Kak Lidia aja." Sahut Vanya.


"Ok." Ucap Winda kemudian segera ke tempat bagian pemesanan.


Sedangkan Vanya dan Lidia, mereka segera menuju 1 meja kosong yang terletak di dekat jendela.


Setelah menunggu untuk beberapa saat, Winda pun datang dengan membawa pesanan mereka bertiga. Winda meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja kemudian duduk di samping Lidia.


Hingga ketika 3 gadis itu tengah menikmati makan siang mereka, Vino dan Irwan datang menghampiri mereka dengan Irwan yang menenteng nampan. Sedangkan Vino, pria itu hanya memegang segelas kopi kesukaanya.


"Boleh ikut gabung ga?" Tanya Irwan.


Winda dan Lidia menyenggol kaki Vanya dari bawah meja. Vanya seketika saja menatap 2 gadis itu dengan tatapan bingung.


Lidia mengedikkan dagunya ke arah Irwan dan Vino yang tengah berdiri di dekat meja mereka. Gadis itu seolah meminta persetujuan pada Vanya untuk mengijinkan 2 pria itu bergabung bersama dengan mereka.


Vanya lantas menoleh pada 2 pria itu. "Gabung aja."


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Vino langsung duduk di sebelah Vanya karena posisinya lebih dekat dekat kursi kosong yang ada di sebelah Vanya.


Karena meja itu merupakan meja persegi empat yang hanya di lengkapi empat kursi, seketika saja membuat Irwan memicingkan matanya pada Vino.


Vino yang mendapatkan tatapan seperti itu pun hanya mengangkat bahunya acuh.


Irwan lantas menghela nafasnya kemudian meletakkan nampan yang dia bawa ke atas meja. Pria itu mendekati meja yang terletak tidak jauh dari meja yang di duduki Vanya. Dia meminta ijin pada orang yang menggunakan meja itu untuk meminjam 1 kursi yang tidak terpakai.


Setelah mendapatkan ijin, Irwan lantas kembali ke meja Vanya dengan membawa kursi itu.


Tanpa berkata apa pun lagi, Irwan lalu mulai menyantap makan siangnya.

__ADS_1


"Eh guys, hari ini kan gua ulang tahun. Gua ngadain pesta, bukan pesta yang gede-gede banget sih.. Cuma sekedar makan-makan aja. Kalian dateng ya?" Kata Lidia .


"Okay, lumayan dapet makan gratis." Sahut Irwan.


Lidia memutar bola matanya. "Lu mah dari dulu yang di pikir makan mulu kak."


"Yeee.. Ngisi perut itu penting, kalo ga ada tenaga, ga bisa kerja."


"Terselah lu dah." Ucap Lidia kemudian menoleh pada Winda. "Dek, kamu dateng kan? Rumah kamu sama rumah kakak kan ga terlalu jauh. Toh, pestanya juga ga malem-malem banget kok."


Winda menganggukkan kepalanya. "Dateng lah kaaak.. Masa iya ga dateng.."


"Bagus deh.." Lidia lalu menatap Vanya. "Lu dateng kan Va? Sama kak Vin juga, dateng aja.. Kalo ga tau rumahku, bisa bareng sama kak Irwan."


Vino tidak segera menjawab, pria itu terlihat berpikir untuk sejenak.


"Gua dateng." Ucap Vanya.


Mendengar apa yang baru saja katakan, seketika saja membuat Vino mengernyitkan dahinya. Bukan kah Vanya tadi menolak ajakannya untuk makan bersama? Tapi ketika Lidia mengundangnya untuk datang ke pesta, Vanya menerima ajakan itu begitu saja.


Vino kini berpikir, apa Vanya memang sengaja jual mahal padanya? Atau kah karena gadis itu memang tidak ingin dekat dengannya. Namun, hal itu justru membuat Vino merasa semakin tertarik untuk mendekati gadis itu.


Lagi pula, bagaimana mungkin bisa seorang Vino mendapatkan penolakan untuk yang ke dua kalinya. Jangan sampai Vino mendapatkan penolakan untuk yang ke tiga kalinya.


"Nah lu kak, dateng ga? Lumayan kan, dari pada bosen di rumah." Tanya Lidia seraya menatap Vino.


Vino seketika saja menganggukkan kepalanya. Bukan karena dia memang ingin datang ke pesta itu. Melainkan karena Vanya yang juga datang ke pesta itu. Vino akan memanfaatkan kesempatan itu untuk lebih dekat dengan Vanya di luar jam kerja.


Lidia pun menyunggingkan senyumnya. "Ok deh.. Nanti gua tunggu kedatangan kalian."


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2