
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Rubic Cafe..
"Kayak gini?"
"He em. Terus habis itu kamu tuangin yang ada di gelas takar, pelan-pelan aja nuanginnya. Kayak gini, perhatiin baik-baik."
Vanya menganggukkan kepalanya, dia memperhatikan apa yang di lakukan oleh pria yang berdiri di sampingnya dengan sangat teliti.
"Gelasnya di miringin dikit, terus nuanginnya pas di gagang sendoknya. Jadi yang ini bakalan ada di bawah. Gampang kan?"
Vanya mengernyitkan dahinya. "Kenapa ga yang itu dulu, terus nanti baru wishkynya?"
"Bisa aja sih sebenernya. Tapi, kamu pastinya tau kan istilah estetika?"
Vanya mengangguk kecil.
"Itu yang di sukai sama pelanggan. Mereka suka liat cara kita bikin minuman."
"Oooh.." Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ini minuman terakhir yang kamu pelajari kan?"
"Emn."
"Udah paham?"
"Lumayan.."
"Yaudah, kalo gitu kamu bikin semua minuman yang udah kamu pelajari. Terus nanti kalo udah, kamu bisa manggil aku, nanti aku cicipin. Kalo masih bingung sama resepnya, baca aja ga papa."
"Ok."
"Yaudah, aku tinggal dulu ya. Aku ada di belakang kok, biar kamu ga susah nnyari akunya."
"Thanks kak."
Pria itu menyunggingkan senyum kecilnya. "No problem."
Pria itu pun berlalu pergi dari sana.
Vanya menghela nafasnya untuk sejenak, dia menatap setiap sudut club malam itu dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Vanya mengedikkan bahunya kemudian mulai meracik minuman yang selama beberapa hari ini dia pelajari. Lebih tepatnya, itu minuman beralkohol.
Club malam yang masih belum memasuki waktu untuk buka itu merupakan tempat di mana kini Vanya bekerja.
Kalian ingat Maya? Mahasiswi jurusan kedokteran yang merupakan tetangga kamar kost Vanya. Jika kalian ingat, Vanya bisa bekerja di club malam ini berkat bantuan Maya.
Vanya yang waktu itu tengah bersantai di balkon kamarnya seraya menikmati lintingan tembakau, tiba-tiba saja di kejutkan oleh seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Vanya merasa sedikit bingung saat melihat orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah Maya. Karena ketahuilah, itu adalah kali pertama Maya mengunjungi kamar Maya.
Vanya tidak bertanya apa maksud dan tujuan Maya mengetuk pintu kamarnya. Vanya hanya mempersilahkan Maya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Obrolan ringan di antara mereka pun mengalir begitu saja. Hingga pada satu ketika, Maya menanyakan kenapa Vanya kini tidak pernah lagi terlihat berangkat bekerja.
Tanpa menyembunyikan apa pun, Vanya pun mengatakan kalau dia sudah tidak lagi bekerja. Vanya juga menceritakan kendalanya dalam mencari pekerjaan karena dia tidak memiliki ijazah sekolah menengah atas.
__ADS_1
Awalnya, Maya merasa ragu untuk menawarkan pekerjaan yang ada di Rubic Cafe pada Vanya. Namun, setelah melihat ada bungkus rokok dan botol minuman yang tergeletak di kamar Vanya, Maya pun akhirnya menawarkan Vanya untuk bekerja di Rubic Cafe.
Maya menjelaskan, kalau Vanya tidak perlu memiliki ijazah apa pun. Maya berkata, sejatinya, sebagian besar orang yang bekerja di tempat seperti itu bukanlah orang-orang yang memiliki pendidikan penuh.
Vanya tentu saja menolak pekerjaan itu. Karena Vanya pikir, Maya menawarinya pekerjaan untuk menjadi wanit malam.
Tapi tidak, Maya tidak sejahat itu untuk menjadikan Vanya sebagai wanita malam. Karena tanpa Vanya sadari, Maya sebenarnya sudah sedari lama memperhatikan Vanya. Sedikit banyaknya, Maya juga tau Vanya orang yang seperti apa.
Kebanyakan perempuan yang menyewa kamar kost di tempat itu, merupakan perempuan yang berasal dari kalangan pekerjaan kotor.
Bergonta ganti pria setiap hari, pergi di malam hari dengan pakaian minim, dan pulang di pagi hari dengan bau alkohol yang menyengat. Hampir semua perempuan yang menghuni kamar kost itu melakukannya.
Tapi tidak dengan Vanya. Meskipun Vanya memiliki tubuh dan wajah yang memungkinkan untuk menjadi perempuan seperti itu, Vanya tidak melakukannya.
Jujur saja, Maya merasa tertarik pada Vanya. Melihat Vanya berangkat bekerja di pagi hari dengan pakaian kantoran yang elegan, pulang di sore hari dengan keadaan yang terlihat kelelahan, juga hanya menghabiskan waktu liburnya di kamar kost. Benar-benar membuat Maya merasa tertarik.
Bukan karena ketertarikan seksual, melainkan karena Vanya mengingatkan Maya pada mendiang kakaknya yang meninggal 2 tahun lalu akibat kecelakaan. Kakaknya yang bekerja dengan sangat keras untuk menghidupinya dan juga menyekolahkannya.
Itulah sebabnya dia merasa tertarik untuk selalu memperhatikan Vanya di setiap harinya. Karena dengan melihat Vanya mengenakan pakaian kantoran yang sangat elegan, Maya bisa mengingat mendiang sang kakak yang begitu menyayanginya.
Oleh karena itu, Maya menawarkan pekerjaan yang tidak akan merendahkan harga diri Vanya.
Ya meskipun menjadi seorang bartender juga terkadang masih di pandang sebelah mata oleh sebagian orang. Tapi setidaknya Vanya tidak di pandang rendah di tempat kerjanya.
Tanpa memikirkan apa pun lagi, Vanya pun akhirnya menerima tawaran yang di berikan oleh Maya.
Maya senang, tentu saja, dia merasa sangat senang karena setidaknya dia bisa membantu Vanya. Di malam itu juga, Maya langsung mengenalkan Vanya pada Arya. Pria yang sebelumnya mengajari Vanya cara membuat minuman.
Hah.. Mengingat kebaikan Maya yang di berikan kepadanya, benar-benar membuat Vanya tidak tahu harus membalasnya dengan cara seperti apa.
Vanya pun hanya bisa menyunggingkan senyum kecilnya saat mengingat raut wajah Maya yang begitu bahagia saat membahas tentang kakaknya.
Andai saja kakaknya juga seperti itu, mungkin Vanya kini memiliki tempat untuk bekeluh kesah. Ya, andai saja..
"Haaahh.." Vanya menghela nafasnya setelah dia menyelesaikan apa yang harus dia kerjakan.
"1, 2, 3, 4, 5.."
Gadis itu menghitungan gelas berisi minuman racikannya yang dia susun rapi di atas meja.
"27. Ok, pas."
"Udah selesai?"
Vanya sedikit berjengkit karena suara Arya mengejutkannya.
"Astaga kak.."
Arya menyunggingkan cengirannya. "Sorry.."
"Emn." Vanya mengangguk kecil.
"Kayaknya udah selesai."
Arya menatap gelas-gelas itu.
"Udah, aku baru aja mau manggil kakak. Tapi kakak udah duluan kesini."
Arya menyunggingkan senyum kecilnya. "Bagus dong, waktunya pass. Jadi kamu ga perlu jalan ke belakang buat nyari aku. Toh, sebenernya aku juga ngitung waktu seberapa lama semua minuman itu harus jadi."
Vanya mengernyitkan dahinya. "Ngitung waktu?"
Arya mengedikkan bahunya. "Kamu lupa? Aku udah jadi bartender selama hampir 7 tahun."
__ADS_1
"Aaaa.. Iya, aku lupa."
Arya menyunggingkan senyumnya. "Untuk pemula, kamu selesai lebih cepet dari waktu yang seharusnya. Maya emang ga salah ngerekomendasiin orang."
Vanya pun hanya bisa menyunggingkan senyum kecilnya.
"Jangan seneng dulu. Kamu emang cepet, tapi aku belum tau rasanya kayak gimana."
Vanya tiba-tiba saja merasa gugup, terlebih lagi, dia lupa untuk mencicipi minuman itu sebelum dia tuangkan ke dalam gelas.
"Ga usah kaku gitu, tenang aja, kalo rasanya belum sesuai ya ga masalah. Toh kamu juga baru belajar beberapa hari."
Vanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
Arya lalu mulai mencicipi minuman itu.
Saat Arya menyesap minuman di gelas yang pertama, Arya seketika saja terdiam untuk beberapa saat.
Vanya memperhatikan raut wajah Arya dengan seksama, dia merasa sedikit gugup melihat raut wajah Arya yang sulit untuk di baca. Dia tidak menebaknya, apa kah minuma yang dia racik itu enak dan sesuai dengan rasa yang seharusnya, atau justru minuman itu jauh dari rasa yang seharusnya.
Arya menoleh pada Vanya untuk sejak, dia lalu mencicipi minuman yang kedua. Arya terus mencicipi minuman itu satu persatu.
Hingga pada gelas yang ke 7, Arya tidak lagi mencicipi minuman itu.
Hal itu sontak saja membuat Vanya merasa tegang, apa kah minumannya benar-benar tidak enak? Kenapa raut wajah Arya seolah mengatakan kalau Vanya benar-benar gagal?
Vanya lantas hendak meminta maaf kalau dia belum berhasil meracik minuman-minuman itu.
Namun..
"Nanti malem kamu yang layanin pelanggan ya, aku ada urusan."
Vanya mengerjapkan matanya.
"Ya?"
Arya seketika saja terkekeh kecil. "Kamu lolos.. Racikan mu malah lebih enak dari pada racikan ku."
"Eh?"
Vanya masih belum bisa mencerna apa yang di katakan Arya.
Arya terkekeh gemas, dia tidak menyangka kalau gadis se kaku Vanya bisa memiliki sisi menggemaskan seperti ini.
"Nanti malem kamu udah mulai kerja dek Vanya.."
"Beneran?"
"He em." Arya menganggukkan kepalanya.
Vanya seketika saja menyunggingkan senyumnya. "Thanks kak."
Arya menganggukkan kepalanya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..