
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari-hari pun berlalu...
Winda yang kini menghabiskan masa PKL nya di divisi bagian yang sama dengan Vanya, harus melewati hari-harinya dengan sangat canggung.
Terlebih lagi, mendapatkan sikap dari Vanya yang seolah acuh tak acuh terhadapnya. Benar-benar membuat Winda merasa semakin canggung.
Di berbagai kesempatan yang ada, Winda berusaha memanfaatkan hal itu untuk meminta maaf pada Vanya atas apa yang telah dia lakukan. Namun sayangnya, hingga sekarang ini, Winda belum bisa meminta maaf pada Vanya karena di setiap dia akan berbicara dengan Vanya, pasti ada saja hal yang membuat Winda mengurungkan niatnya.
Contohnya seperti sekarang ini. Melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 12.00 di mana jam makan siang sudah tiba. Winda bergegas membereskan berkasnya, gadis itu hendak mengajak Vanya untuk makan siang bersamanya.
Namun sayangnya, ketika Winda hendak beranjak dari kursinya untuk menuju meja Vanya. Gadis itu harus mengurungkan niatnya tat kala Lidia sudah lebih dulu menghampiri Vanya.
Melihat Vanya dan Lidia yang pergi bersama, seketika saja membuat Winda menghela nafasnya karena merasa sangat kecewa.
Sejujurnya, meskipun nanti Vanya tidak akan memberikan maaf untuknya, Winda tidak akan mempermasalahkan hal itu. Karena yang terpenting, setidaknya hatinya merasa sedikit lega jika sudah meminta maaf pada Vanya. Meskipun hal itu tidak membuat rasa penyesalannya menghilang, tapi setidaknya Winda bisa merasa sedikit lebih tenang.
Tapi ya, begitulah.. Angan-angannya untuk meminta maaf pada Vanya lagi-lagi harus dia urungkan.
Setelah menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya, Winda lantas memutuskan untuk pergi ke kantin sendirian.
Sebenarnya, Tiara sempat mengajaknya untuk makan siang bersama. Namun Winda menolaknya, karena Winda pikir, Winda ingin makan siang bersama dengan Vanya.
Sesampainya di cafeteria, entah keberuntungan apa yang menghampiri Winda. Hanya ada satu kursi yang tersedia yang bisa dia duduki untuk menghabiskan makan siangnya. Yang di mana, kursi yang tersedia itu terletak tepat di meja yang tengah di gunakan oleh Vanya dan Lidia.
Melihat kesempatan itu, lantas membuat Winda memberanikan dirinya untuk menghampiri Vanya dan juga Lidia.
Lidia yang melihat kedatangan Winda pun menyunggingkan senyum kecilnya.
Winda pun membalas senyuman Lidia. "Sorry kak.. Boleh ikut gabung ga? Kursinya pada penuh semua." Gadis itu berkata dengan sedikit ragu.
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Lidia menyenggol kaki Vanya guna mendapatkan persetujuan dari gadis itu.
Vanya lantas mekirik Winda sekilas kemudian menggulirkan matanya ke setiap penjuru arah. Melihat meja yang memang di penuhi oleh para karyawan, akhirnya membuat Vanya menganggukkan kepalanya. Gadis itu memberikan ijin untuk Winda bergabung bersama dengan mereka.
Mendapat persetujuan dari Vanya, seketika saja membuat Winda menyunggingkan senyumnya.
"Makasih kak.." Ucap Winda
__ADS_1
Winda lantas meletakkan nampan yang berisi makan siangnya kemudian duduk di samping Vanya.
Mereka menghabiskan makan siang mereka dalam keheningan. Tidak ada percakapan di antara mereka karena yang Lidia ketahui, Vanya bukan orang yang terlalu suka berbicara ketika makan.
Sedangkan untuk Winda sendiri, dia terlalu canggung untuk memulai percakapan. Karena ya, seperti yang kalian ketahui, terjadi sesuatu hal antara Winda dan Vanya. Sehingga membuat Winda merasa terlalu canggung untuk mengeluarkan suaranya.
Merasakan suasana yang terlalu canggung, akhirnya membuat Lidia berinisiatif untuk memulai percakapan.
"Dek, nama kamu siapa?" Tanya Lidia.
"Ah ya, namaku Winda kak." Sahut Winda cepat.
"Kalo ga salah, kamu satu sekolah kan ya sama Vanya?" Tanya Lidia.
Mendengar hal itu, lantas membuat Winda melirik Vanya sekilas kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya kak, kita satu sekolah."
Lidia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Eh dek, kira-kira, Vanya terkenal apa ga sih di sekolah?" Lidia menatap Winda dengan di penuhi rasa penasaran.
Mendengar apa yang baru saja di tanyakan oleh Lidia, seketika saja membuat Vanya menaikkan sebelah alisnya.
"Ngapain lu nanyain hal itu?" Tanya Vanya.
"Kecuali Winda." Lidia kembali berkata setelah melihat Winda mengerutkan keningnya.
"Ngegosip tentang apa?" Vanya bertanya dengan sedikit penasaran.
Vanya benar-benar merasa penasaran, apakah mereka memperbincangkan tentang dirinya yang tidak lulus sekolah?
"Hmmm..." Lidia menghela nafasnya kemudian berkata. "Kalo yang gua denger sih, mereka ngomongin tentang elu yang masih aja jadi ICE PRINCESS. Terus tentang betapa pinternya elu.. Betapa cantiknya elu.. Betapa.."
"Udah udah, stop.. Alay deh lu.." Vanya segera memotong perkataan Lidia.
Memikirkan apa yang baru saja Lidia katakan, benar-benar membuat Vanya merasa bingung, apakah tidak ada yang membicarakan tentang dirinya yang tidak lulus sekolah?
"Ck, emang gitu kok.." Lidia berkata dengan bibir yang sedikit mencebik.
"Tapi emang bener sih kak.. Nama kakak masih sering jadi perbincangan di sekolah." Winda menoleh pada Vanya dengan senyum kecil yang tersungging di bibirnya.
"Emangnya Vanya se terkenal itu ya di sekolah?" Tanya Lidia.
Winda menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa sih yang bikin dia se terkenal itu?"
"Yang paling utama sih, kak Vanya dapet julukan Ice Princess." Jawab Winda.
"Ga heran sih kalo dia dapet julukan itu.. Di sini aja nih ya, kalo ga ada yang ngajak dia ngomong duluan, sampe kapan pun juga kayaknya dia ga bakalan ngomong sama siapa pun." Lidia berkata dengan sedikit sarkas.
"Tcih." Vanya melirik Lidia dengan sedikit sinis.
"Ya emang gitu kan.." Lidia berkata dengan sedikit tidak terima.
"Hmm.." Vanya menyahut seolah tanpa minat.
Winda yang melihat hal itu pun hanya bisa menyunggingkan senyum kecilnya, dia merasa sangat bersyukur melihat Vanya yang tidak berubah dari biasanya.
"Tapi, selain itu. Kak Vanya juga terkenal karena kepinterannya." Kata Winda.
"Oh ya?" Lidia menaikkan sebelah alisnya.
"He em.." Winda menganggukkan kepalanya. "Kak Vanya selalu dapet ranking 1 umum. Kalo olimpiade apa aja juga pasti menang. Aku liat ada banyak piala sama piagam yang di dapetin sama kak Vanya di pajang di ruang guru."
"Udah, udah.. Jam istirahat makan siang udah abis." Vanya berkata kemudian beranjak dari duduknya.
"Yaaaah Vaaa.. Belum kelar kita ini.." Lidia menatap Vanya dengan sedikit memelas.
Namun Vanya memilih untuk mengabaikannya.
"Yaudah kak, kalo gitu aku juga balik ke kantor ya.." Winda berkata seraya beranjak dari duduknya kemudian segera menyusul Vanya.
Meninggalkan Lidia yang menatap Vanya dan Winda dengan bibir yang mencebik sebal.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1