
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Heh.. Ga usah gitu ngeliatinnya.." Wulan berkata dengan sedikit salah tingkah karena Vanya tak kunjung melepaskan tatapan darinya.
"Haha.. Sorry, sorry.." Ucap Vanya seraya mengusap tengkuknya canggung. "Terus, maksudnya kakak bilang ke aku itu gimana ya? Aku agak bingung nih." Gadis itu berusaha untuk tenang dalam menghadapi Wulan.
Ya, meskipun jauh di lubuk hatinya, Vanya merasa sedikit gelisah setelah mendengar pernyataan Wulan itu. Bukannya Vanya tidak percaya pada Haidar. Hanya saja, Vanya merasa sedikit tersaingi oleh Wulan. Karena jika di lihat lebih jauh lagi, Wulan memiliki level yang setara dengan Haidar. Hingga membuat Vanya merasa sedikit tidak percaya diri.
Namun, Vanya tetap akan menanggapi Wulan untuk kali ini saja.. Vanya akan mencoba berusaha untuk tidak menampakkan kegelisahannya dan akan mencoba berusaha untuk bersikap setenang mungkin.
"Kak, kok malah ngelamun.." Vanya kembali berkata tat kala Wulan hanya terpaku menatapnya.
Wulan pun menghela nafasnya. "Caranya biar deket sama Haidar gimana ya? Kakak bingung banget, soalnya Haidar kayak ga tertarik gt sama kakak. Jangan kan buat tertarik, ngelirik aja engga.. Tapi, berhubung kamu kan deket nih sama Haidar. Pasti tau lah ya gimana caranya biar deket sama dia.." Gadis itu kini berkata dengan lantang, dia sudah menetapkan hatinya untuk tidak lagi merasa ragu.
"Tapi kak.. Bentar deh.. Umur kakak kan...." Vanya menggantungkan kalimatnya karena merasa tidak enak hati terhadap Wulan.
Kalian pasti tau lah.. Perempuan akan sedikit sensitive jika berurusan dengan usia dan berat badan.. Terlebih lagi, sejauh apa yang Vanya lihat, Wulan merupakan seorang gadis yang cukup sensitive. Jadi ya, Vanya merasa sedikit tidak enak hati jika harus membahas masalah usia dengan Wulan.
Namun, Wulan yang mendengar hal itu justru mengembangkan senyumnya kemudian berkata. "Kakak ngerti kok apa yang kamu pikirin, ga usah ga enak hati gitu.. Kakak sadar diri kalo kakak lebih tua dari Haidar. Umur kakak sekarang udah 20, sedangkan Haidar baru 17.. Tapi kan, jarak umur kita cuma 3 tahun. Toh juga banyak kok yang berhasil ngejalanin hubungan meskipun si cewek umurnya jauh di atas si cowok.."
"Ya.. Gimana ya.." Vanya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, kemudian melanjutkan kalimatnya. "Aku juga ga tau gimana caranya deket sama Haidar. Soalnya aku deket sama Haidar ya ngalir gitu aja.. Kita kan temen sekelas, jadi ya gitu deh.." Gadis itu mengedikkan bahunya.
Wulan pun mengangguk-anggukan kepalanya. "Iya sih.. Atau gini deh, ganti pertanyaannya.. Kamu tau ga tipe cewek yang Haidar suka kayak gimana?"
Haaaaah.. Baiklah.. Vanya akan mecoba menekan perasaannya untuk kali ini saja.
"Ehmmm.." Vanya pun terlihat berpikir untuk beberapa saat. "Mungkin nih ya, ini juga mungkin ya kak.. Mungkin, Haidar suka cewek yang pendiem, ga banyak tingkah, terus agak jutek. Itu cuma dari apa yang aku liat sih kak.. Aku ga tau pastinya kayak gimana.."
"Terus, apa yang di sukain sama Haidar? Makanan atau minumannya gitu?"
"Dari Yang aku liat sih, dia mah apa aja suka.. Selama makanan sama minuman itu enak, kayaknya dia mau-mau aja.."
"Gitu ya.."
"He em.." Vanya menganggukkan kepalanya.
"Ini beneran ga papa nih kakak tanya-tanya gini ke kamu?"
Vanya mengembangkan senyum kecilnya. "Ga papa kak. Kalo aku tau, ya aku jawab.. Kalo aku ga tau, ya ga aku jawab.."
"Tapi, ngomong-ngomong.. Dia udah punya pacar apa belum ya? Kan ga lucu kalo kakak deketin dia tapi dianya udah punya pacar.."
"Kalo untuk yang satu ini, mending kakak tanya langsung deh ke Haidar." Vanya berkata seraya tersenyum canggung.
Mendengar hal itu, seketika membuat Wulan mengusap tengkuknya. "Duuuuh.. Ga bisa kamu aja gitu yang jawab?"
Vanya menggelengkan kepalanya. "Mending kakak denger sendiri jawabannya dari Haidar." Gadis itu berkata kemudian melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Balik yuk kak, jam istirahatnya udah abis.. Aku juga masih ada kerjaan lain yang harus di selesein.."
__ADS_1
Wulan menghela nafasnya kemudian menganggukkan kepalanya. "Yaudah yuk.."
Mereka pun akhirnya kembali menuju ruang kerja mereka.
....
"Dar.." Ucap Vanya seraya menoleh pada Haidar yang tengah mengemudikan mobil.
Haidar melirik Vanya sekilas. "Apa sayang?"
"Ah, ga jadi deh.."
Haidar seketika mengerutkan keningnya. "Loh.. Kok gitu?"
"Ya gitu, ga jadi.. Fokus nyetir aja.."
"Mau ngomong apa, sayang? Jangan bikin penasaran."
"Ga papa ih.."
Haidar kembali melirik Vanya sekilas. "Sayang.."
"Hmmm?"
"Mau ngomong apa?"
"Ga papa.. Ga jadi.."
"Ivanya Basudewi.."
"Mau ngomong apa, hmm?" Haidar bertanya seraya menggenggam tangan kanan Vanya menggunakan tangan kirinya.
"Bingung gimana cara ngomongnya.." Vanya menjawab dengan sediki merengek.
"Ga usah bingung. Tinggal ngomong aja apa yang ada di pikiran lu. Biasanya juga kalo ngatain gua ga pernah di filter."
Vanya pun hanya menanggapinya dengan menampilkan cengirannya.
Melihat sikap Vanya yang sedikit aneh, lantas membuat Haidar menepikan mobilnya.
Vanya yang melihat hal itu pun mengerutkan keningnya. "Loh loh.. Kok berhenti, kenapa?"
Haidar tidak menanggapi pertanyaan dari Vanya. Pria itu lebih memilih untuk melepaskan sabuk pengamannya juga sabuk pengaman yang di kenakan Vanya, lalu memposisikan gadis itu itu agar berhadapan dengannya.
"Ini ada hubungannya sama Wulan ya?" Tanya Haidar kemudian.
Vanya seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Itu..." Gadis itu sedikit bingung harus berkata apa.
Karena sungguh, dia sedikit terkejut saat Haidar bisa menebak dengan pasti kemana arah pembicaraannya.
"Va.. Ngomong aja, hmm.. Tadi kalian bahas apa emangnya, kok sampe bikin elu gelisah kayak gini?" Haidar kembali berkata seraya menggenggam tangan Vanya dengan lembut.
__ADS_1
Vanya menatap Haidar dengan sedikit sendu. "Emang keliatan banget ya?"
Haidar menganggukkan kepalanya. "Ini nih.. Dari tadi alisnya gerak-gerak terus." Haidar berkata seraya mengelus alis sebelah kiri Vanya menggunakan ibu jari tangan kanannya.
Vanya pun menghela nafasnya. "Tadi Wulan bilang sama gua kalo dia suka sama lu.."
"Terus kenapa kalo dia suka sama gua? Kan guanya ga suka sama dia. Emang lu ga bilang ke dia kalo kita pacaran?"
Vanya menggelengkan kepalanya.
Yang mana, hal itu seketika membuat Haidar menghela nafasnya. "Kenapa?"
"Ga PD aja. Level kita jauh soalnya, gua agak minder.. Jadi gua nyuruh dia buat nanya langsung ke elu." Vanya berkata dengan sedikit lirih seraya menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Haidar.
"Hei.. Liat gua.." Haidar berkata seraya menangkup pipi kiri Vanya menggunakan tangan kanannya kemudian menarik wajah gadis itu agar kembali menghadap ke arahnya.
"Jangan pernah ngerasa minder sama siapa pun.. Mau level kita sama atau engga, kita tetep punya keunggulan kita masing-masing. Gua ga peduli dia mau selevel sama gua atau engga, yang gua peduliin cuma perasaan gua ke elu.. Cukup jadi diri lu sendiri yang selalu apa adanya, dan cukup lu inget, gua selalu bilang ke elu kalo gua ga akan pernah berpaling ke siapa pun. Jadi, jangan terlalu di pikirin ya.. Gua cuma sayang sama elu dan gua cuma mau sama elu, hmm.."
Vanya pun hanya menanggapinya dengan mencebikkan bibirnya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Udah, ga usah di maju-majuin gitu bibirnya. Nanti gua cium sampe ga bisa nafas baru tau rasa lu." Haidar berkata kemudian mencubit pipi Vanya dengan gemas.
Vanya yang mendengar hal itu semakin mencebikkan bibirnya seraya memukul pelan bahu Haidar.
Haidar pun terkekeh kecil kemudian menyelipkan helaian rambut Vanya ke belakang telinga kiri gadis itu. "Udah ya, ga usah di pikirin, mending kita lanjut balik. Besok, kalo dia ada ngomong ke gua. Gua pasti bilang kalo kita pacaran."
"Tapi jangan kasar-kasar ya ngomongnya."
"Ga janji."
"Ck, Haidar."
"Iya, iya sayaaaaang.. Yaudah, lanjut balik ya.."
Vanya menghela nafasnya kemudian menganggukan kepalanya.
"Senyum dulu dong, pedih mata gua liat muka kusut lu.."
"Ck," Gadis itu berdecak dengan sebal namun tetap menampilkan senyum kecilnya.
Haidar pun tersenyum lalu mengusak kepala Vanya dengan gemas sebelum akhirnya kembali melajukan mobilnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..