Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Penyebab Kebencian Dewi


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan kemudian...


Vanya mematut dirinya di depan cermin, dengan senyum lebar yang mengembang di wajahnya.


"Waaah.. Papah ternyata sama kaya nenek, pinter milih baju" ucap Vanya seraya terkekeh, lalu memutar tubuhnya untuk melihat bagaimana baju baru pemberian Bagas itu menempel di tubuhnya.


Hari ini adalah hari minggu, dimana dia akan menghadiri pesta ulang tahun teman sekelasnya, mungkin bisa di bilang teman paling dekat dengan dirinya. Dia adalah Tanisa Na Kinan..


Ya, selama satu bulan terakhir ini, Vanya melalui hari-harinya dengan ceria. Teman-teman di sekitar rumahnya memperlakukan dia dengan sangat baik. Begitu pula dengan kehidupan di sekolahnya. Tidak ada lagi yang mengejeknya, tidak ada lagi yang mengerjainya, dan tidak ada lagi yang memanfaatkan kepintarannya.


Kedekatan Vanya dengan Bagas pun kian bertambah erat, hingga membuat Vanya tidak sungkan lagi meminta apa pun yang dia butuhkan kepada Bagas.


Contohnya seperti sekarang ini, dimana Vanya sedang memakai pakaian yang dia minta dari Bagas.


Setelah puas memandangi dirinya di kaca, Vanya pun meraih tas selempangnya, lalu segera turun ke bawah.


Gadis kecil itu menghampiri papahnya yang sudah menunggunya.


"Waaahh.. Anak papah cantik banget" ucap Bagas.


"Soalnya Vanya anak papah" Vanya menyahut dengan cepat seraya melenggak lenggokan tubuhnya.


Bagas pun terkekeh gemas atas kelakuan Vanya, lalu menatap gadis kecil itu dengan tatapan sendunya. Bagas bersyukur, sekarang dia bisa merawat putri satu-satunya itu. Alasan dulu dia tidak merawat Vanya adalah karena dia yang belum se sukses sekarang, hingga nenek Indah melarang Bagas untuk merawatnya.


Dan, ya... Alasan dulu dia bercerai dengan Dewi sama dengan kebanyakan pasangan lain, hartaaa.. Harta adalah salah satu alasan terbesar kenapa rumah tangga bisa hancur.


Tapi di balik itu, bagas juga menyadari, semua itu bukan kesalahan Dewi. Jika saja dulu Bagas mau bekerja, jika saja dulu Bagas mau berusaha, mungkin rumah tangganya tidak akan hancur.

__ADS_1


Bagas dulu merupakan pria yang pemalas, dan hanya mengandalkan uang dari orang tua nya. Bahkan, ketika menikah pun, Bagas selalu mengandalkan uang dari orang tuanya. Sampai ketika orang tuanya meninggal, Bagas tidak lagi memiliki apapun. Sehingga rumah tangganya berjalan hanya dengan mengandalkan kerja keras dari Dewi, yang saat itu merupakan seorang sekertaris desa.


Saat itu pun Dewi sudah berusaha sabar dalam menghadapi Bagas yang tidak mau berusaha. Puncaknya adalah ketika anak pertamanya akan memasuki dunia pendidikan, Dewi menuntut Bagas untuk bekerja. Namun, kala itu Bagas adalah Bagas yang pemalas dan tidak mau berusaha. Sejak saat itu juga, pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi di dalam rumah tangganya.


Hingga pada satu malam, saat Bagas pulang dalam keadaan mabuk, Dewi memarahi Bagas habis-habisan. Tapi, Bagas yang tidak terima karena Dewi memarahinya. Membuat Bagas nekat memper..kosa Dewi dengan brutal, hingga akhirnya Dewi memutuskan untuk berpisah. Namun sayang, hasil dari kelakuan buruknya itu berhasil menumbuhkan satu lagi janin di dalam perut Dewi.


Awalnya, Bagas berusaha membujuk Dewi untuk membatalkan perceraian mereka. Tapi apalah daya, Dewi sudah terlanjur muak dengan semua kelakuan Bagas. Dan kala itu bertepatan dengan Dewi yang mendapatkan beasiswa untuk mengeyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di luar Negri, hingga membuat Dewi berusaha untuk mengugurkan janin yang ada di dalam kandungannya.


Tapi Bagas bisa sedikit bersyukur, karena saat itu nenek Indah berhasil membujuk Dewi agar tidak mengugurkan janinnya, hingga akhirnya terlahirlah Vanya ke dunia.


Namun sayangnya, Karena kejadian itu membuat Dewi menganggap Vanya sebagai anak pembawa sial, hingga membuat Dewi enggan untuk menyentuh Vanya. Karena dengan mengandung Vanya, Dewi harus rela melepaskan cita-citanya untuk mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


Dan Bagas yang mengetahui ke engganan Dewi dalam merawat Vanya, berusaha meminta agar Vanya ikut dengannya. Tapi kembali lagi ke persoalan tentang harta, nenek Indah menolak dengan keras keinginan Bagas itu.


Bagas pun mengerti alasan nenek Indah menolak untuk memberikan Vanya kepadanya. Karena dengan tidak adanya harta, Bagas tidak mungkin mampu mencukupi kebutuhan hidup Vanya, apa lagi saat itu Vanya hidup mengandalkan susu formula. Karena pada saat itu, jangankan untuk membelikan Vanya sekotak susu, untuk mengisi perut kosongnya saja Bagas harus mencari hutang kesana kesini.


Semenjak saat itulah Bagas mau berusaha, bertahun-tahun dia mencoba berbagai macam bisnis. Bukan hanya satu atau dua kali kegagalan yang dia alami, tapi juga membuat hutangnya menumpuk dengan begitu besar.


Namun dia tetap berusaha bangkit, agar suatu saat nanti dia bisa membawa putri semata wayangnya itu ke dalam pelukannya. Hingga akhirnya, motivasi itu lah yang membuat Bagas bisa menjadi sukses seperti sekarang ini.


Entahlah, Bagas harus bersyukur atau bersedih.. Di satu sisi, dia sedih karena kehilangan nenek Indah yang sudah sangat baik kepadanya. Di sisi lain, dia juga bersyukur karena penyakit nenek Indah, Vanya bisa berada dalam pelukannya..


Terlalu asik dengan lamunannya, Bagas tidak menyadari jika Vanya sudah memanggil-manggilnya sejak tadi. Bahkan gadis kecil itu sudah menepuk-nepuk pahanya, tapi tetap saja tidak membuyarkan lamunan bagas. Hingga gadis kecil itu kini sudah menekuk wajahnya dengan begitu dalam.


Kesal karena Bagas yang tak kunjung menyahutinya, akhirnya Vanya memilih untuk mencubit paha Bagas dengan sedikit keras.


"Aduh" pekik Bagas lalu mengelus pahanya yang terasa sedikit panas.


"kamu ngapain nyubit papah?" tanya Bagas.


Vanya seketika mencebikkan bibirnya lalu berkata "ya abisnya papah ngelamunnya kebangetan, dari tadi Vanya panggil-panggil papahnya engga nyaut. Padahal Vanya juga udah nepuk-nepuk paha papah loh."


Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya menampilkan cengirannya pada Vanya.

__ADS_1


"Hehe, maaf ya.. Papah ga sadar kalo ngelamun" ucap Bagas.


"Ya yang namanya ngelamun itu ga sadar pah" sahut Vanya cepat.


"Kamu tu loh ya, ada aja sahutannya" Bagas berkata seraya mengusak rambut Vanya dengan gemas.


Yang mana hal itu justru semakin membuat Vanya menekuk wajahnya.


"Duh.. Papah tu loh, pastiiiii aja sukanya ngerusakin rambut Vanya" gerutu Vanya seraya menata kembali rambutnya.


Bagas kembali terkekeh gemas lalu berkata "Jadi papah anterin ga nih?"


"Yaudah ayok, nanti keburu ulang tahunnya Nisa di mulai" ucap Vanya lalu menggandeng tangan Bagas.


"Ya kalo kamu telat, berarti itu salah kamu dandannya kelamaan" Bagas berkata seraya melirik Vanya dengan jahil.


"Loh, papah kok nyalahin Vanya.. Papah tu yang kelamaan ngelamun" Vanya berkata dengan sedikit bersungut-sungut.


"Lagian nih ya, kata nenek.. Ngelamun tuh ga baik, nanti bisa kesambet" Vanya kembali berkata setelah masuk ke dal mobil.


Bagas pun tertawa renyah saat mendengar perkataan putrin kecilnya itu.


"Iya-iya, papah yang salah deh..." ucap Bagas seraya mulai melajukan mobilnya.


Vanya yang mendengar hal itu lantas menoleh pada Bagas dengan cengirannya..


"Hehe..."


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..

__ADS_1


Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2