Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Sinta


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bandung, rumah Dewi...


Tok! Tok! Tok!


Vanya mengetuk pintu rumah yang sudah belasan tahun lamanya tidak dia kunjungi.


Gadis itu menunggu seseorang membukakan pintu dengan perasaan harap-harap cemas. Jujur saja, Vanya takut kalau kedatangannya akan menimbulkan amarah Dewi.


Vanya takut kalau dia tidak di terima di rumah ini, sama seperti belasan tahun yang lalu. Di mana dia tidak hanya tidak di ijinkan untuk menginjakkan kaki di rumah ini, bahkan hanya untuk sekedar menginjakkan kaki di halaman rumah ini saja Dewi benar-benar tidak mengijinkannya.


Namun, meskipun rasa takut menghantuinya, masih ada setitik harapan di hati Vanya. Harapan yang selama ini selalu bersemayan di hati kecilnya. Harapan kalau saja suatu saat nanti Dewi akan mengakuinya sebagai putrinya.


Tok! Tok! Tok!


Vanya mengetuk pintu rumah itu untuk yang kedua kalinya.


Namun sayangnya, setelah menunggu hingga hampir 10 menit lamanya. Tidak ada satu orang pun yang membukakan pintu rumah itu.


Vanya pikir, mungkin saja tidak ada orang di rumah ini. Vanya lantas menoleh pada Haidar yang sedari tadi setia berdiri di sampingnya.


"Balik ke hotel aja yuk.. Kayaknya di rumah ga ada orang. Nanti sore aja kita balik ke sini lagi."


Haidar menganggukkan kepalanya. "Ya ga papa, sekalian kita istirahat dulu aja kalo gitu."


Mereka pun hendak berlalu pergi dari rumah itu. Namun, saat Vanya membalikkan tubuhnya, dirinya terdiam saat melihat seorang wanita yang tengah terdiam mematung di ambang pintu pagar. Wanita itu adalah Sinta, kakak perempuan Dewi.


Hal itu sontak saja membuat Haidar merasa sangat bingung. Apa kah itu ibu Vanya? Tapi.. Di lihat dari wajahnya, sepertinya bukan. Haidar pun hanya bisa memperhatikan dua wanita beda usia itu dengan tatapan bingungnya.


"Vanya?"


Sinta menatap Vanya dengan penuh keraguan. Dia takut salah mengenali orang. Tapi, jika di lihat kembali, dirinya yakin kalau gadis itu benar-benar Vanya. Meskipun sudah belasan tahun lamanya, dia masih bisa mengenali wajah Vanya dengan baik.


Perlahan, Sinta melangkah mendekati Vanya.


"Ini bener Vanya kan?"


Vanya mengangguk kecil. "Iya wa.. Ini Vanya.."


"Ah, ya ampun..."

__ADS_1


Sinta sontak saja menjatuhkan belanjaan yang di bawanya, dia menarik Vanya masuk ke dalam pelukannya dengan gerakan cepat.


"Ya ampun Vanyaaaaa.. Uwa kangen sama kamu.. Kamu teh kemana aja?"


FYI : Uwa adalah panggilan untuk tante/ bibi/ kakak/ adik orang tua kamu dalam bahasa sunda.


Sinta memeluk Vanya dengan begitu erat, isak tangis mulai terdengar saking tidak kuatnya Sinta menahan rasa harunya.


"Uwa nyariin kamu terus Va.. Di jogja juga uwa udah nyari kamu kemana-mana, tapi uwa ga bisa nemuin kamu. Mau nanya sama papah kamu juga percuma, uwa ga tau rumah papah kamu di mana, uwa juga ga punya no hp papah kamu.. Ya ampun Sayang, uwa kangen banget sama kamu."


Vanya tidak menjawab, lidahnya seakan terasa kelu untuk menjawb Sinta. Jujur saja, sebenarnya Vanya juga merasa sangat rindu pada Sinta. Wanita yang selama ini selalu bersikap baik padanya. Namun Vanya tidak tahu harus memberikan tanggapan seperti apa. Yang bisa Vanya lakukan untuk saat ini hanyalah diam dan membalas pelukan Sinta dengan tak kalah eratnya.


Ketahuilah, di saat semua keluarganya menjauhinya, di saat semua keluarganya menentang keberadaannya. Hanya Sinta lah satu-satunya keluarganya yang maa menerimanya, hanya Sinta lah satu-satunya keluarganya yang bersikap baik kepadanya.


Vanya juga sebenarnya tau di mana letak rumah Sinta yang ada di jogja, namun Vanya terlalu malu untuk menemui wanita ini. Di masa dulu, Vanya sudah cukup banyak merepotkan Sinta. Bahkan hingga anak-anak Sinta merasa iri kepada Vanya karena Sinta terlalu memperhatikannya.


Sinta pun melepaskan pelukan mereka, kedua tangannya terangkat untuk menangkup wajah Vanya.


"Ya ampun.. Kamu udah besar banget, udah jadi gadis yang cantik banget.. Gimana hidup kamu selama ini, hmm? Kenapa ga ada ngabarin uwa sama sekali?"


"Maafin Vanya wa.."


"Buat apa kamu minta maaf sama uwa? Kamu teh ga punya salah apa-apa sama uwa.. Harusnya uwa yang minta maaf sama kamu karena uwa selama ini ga bisa bantu hidup kamu. Uwa udah tau hidup kamu kayak gimana, tapi uwa ga bisa bantu apa-apa. Harusnya tuh uwa yang minta maaf sama kamu."


"Ya pasti atuuh.. Masa sama ponakan sendiri engga inget. Jangan lupa, kita teh satu darah."


"Iya wa.."


Pandangan mata Sinta lantas teralihkan pada Haidar yang sedari tadi setia menyaksikan drama haru yang dia dan Vanya lakukan.


"Ini teh siapa? Meni putih plus ganteng pisan.. Uwa baru sadar kalo ada cowok ganteng di sini."


Vanya seketika saja terkekeh kecil. Sedangkan Haidar, dia hanya bisa mengusap tengkuknya karena merasa canggung atas pujian yang di berikan oleh Sinta.


Haidar pun mengulurkan tangannya pada Sinta.


"Kenalin tan, saya Haidar. Saya pacarnya Vanya."


Sinta seketika saja membulatkan kedua matanya, dia melirik Vanya sekilas kemudian menerima uluran tangan Haidar.


"Ga usah manggil tante, panggil uwa aja sama kayak Vanya. Saya Sinta, kakak perempuan ibunya Vanya."


Haidar mengangguk-anggukkan kepalanya. Aaaa.. Jadi wanita ini kakak perempuan ibunya Vanya, pantas saja wanita ini memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan apa yang di ceritakan oleh Vanya.


Pria itu lantas menyunggingkan senyum kecilnya. "Iya wa.."

__ADS_1


"Kamu dapet cowok yang kayak gini dari mana sih Va.. Cakep banget."


"Udah wa, jangan di sanjung mulu. Nanti dia besar kepala."


Sinta terkekeh kecil. "Kalian teh kenapa atuh cuma diem di luar, padahal mah masuk aja ga papa.."


"Tapi, mamah?"


"Mamah kamu teh udah ga tinggal di rumah ini Va.. Dia sekarang udah di rumah nenek kamu. Rumah ini mah uwa yang nempatin. Semenjak nenek kamu meninggal, mamah kamu nyerahin rumah ini ke uwa. Katanya dia pengen ngurusin rumah nenek kamu."


Vanya pun ber "oh" ria seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Udah atuh ah, ayok masuk dulu.."


Sinta lantas membuka pintu rumahnya, dia mengajak Vanya dan Haidar untuk masuk ke dalam.


"Kalin tunggu di sini sebentar ya, uwa bikinin minum dulu."


"Udah wa, ga usah repot-repot."


"Udah duduk aja, masa keponakan uwa jauh-jauh dateng kesini ga di jamu sama uwa. Kalo kamu mau ketemu sama mamah kamu, nanti uwa anterin."


"Yaudah wa kalo gitu."


"Yaudah atuh, tunggu sebentar ya.. Istirahat aja dulu, toh rumah nenek kamu juga kan engga jauh dari sini."


"Iya wa.."


Sinta pun berlalu pergi dari sana.


Vanya dan Haidar pun memilih duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu. Mereka menunggu apa yang akan selanjutnya terjadi.


...-TBC-...


THanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2