
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Terkadang, keluarga bisa saja menjadi orang lain. Namun orang lain, terkadang bisa menjadi keluarga"
^^^Ivanya Basudewi^^^
*****
Di sisi lain..
Ayu yang tengah berbaring di kasurnya seketika maraih ponselnya yang berdering. Setelah melihat jika yang menelponnya adalah Bagas, Ayu segera mengangkat panggilan itu.
"Haloo..." ucap Ayu.
(Halo sayang, maaf ya, mas harus ngundur waktu lagi buat pulang)
Ya, sudah beberapa hari ini Bagas tidak ada di rumah, hingga membuat Ayu lebih leluasa menyiksa Vanya.
"Iya mas ga papa"
(Paling mas 2 hari lagi baru pulang)
"He em mas, mas jangan lupa jaga kesehatan aja"
(Iya sayang, kamu juga.. Tidur gih, ini udah jam 10 malem loh)
"Iya mas.. Mas juga, habis ini tidur loh yaaa.."
(Iya sayang.. Vanya gimana?)
Mendengar pertanyaan Bagas, Ayu seketika terdiam. Jujur, Ayu lupa jika dia sudah mengurung gadis kecil itu di dalam gudang sejak pagi tadi.
(Haloooo.. Sayang..)
"Ah iya halo mas.. Vanya ada kok, lagi tidur paling" Ayu menyahut dengan cepat.
(Yaudah kalo gitu mas tutup ya telponnya)
"Iya mas"
__ADS_1
(Bye sayang)
"Bye mas"
Setelah Bagas mematikan sambungan, Ayu seketika melemparkan ponsel itu ke sembarang arah. Dia segera beranjak dari tidurnya lalu meraih kunci gudang yang tergeletak di atas meja.
"Gawat, gimana kalo anak itu mati di dalam sana. Gua ga mau kalo harus tiba-tiba jadi buronan" ucap Ayu lalu menghampiri gudang dengan sedikit berlari.
Ayu segera membuka gudang itu lalu menghampiri Vanya yang tergeletak.
"Heh.. Anak manja, bangun" Ayu berkata seraya menendang-nendang kecil tubuh Vanya.
Ayu yang tidak sabar karena tidak mendapatkan respon apa pun segera menyeret kaki Vanya agar keluar dari sana. Ayu lalu melepaskan kaki Vanya ketika gadis kecil itu sudah terbaring di teras gudang, dia sedikit terkejut ketika melihat wajah gadis kecil itu yang terlihat pucat.
Tapi, bukannya membangunkan Vanya dengan cara lembut, Ayu justru menampar pipi Vanya dengan sangat keras, hingga membuat sudut bibir Vanya yang robekannya akan sembuh itu seketika kembali mengeluarkan darah. Namun, tamparan keras itu justru mampu membuat gadis kecil itu terbangun dari pingsannya.
"Henghhh.. Hah, hah, hah.."
Vanya terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal, dia menatap Ayu dengan mata yang sedikit melotot.
"Heh, ngapain kamu melototin saya.. Berani ya kamu sama saya!!" Ayu berkata seraya menjambak rambut Vanya.
"Shhhh..." Vanya mendesis karena kulit kepalanya terasa perih, belum lagi kepalanya yang berdenyut dengan kuat.
Vanya yang memang dasarnya sudah terlalu lemas untuk melawan, hanya bisa memejamkan matanya seraya meringis dengan pasrah.
Setelah di dalam rumah, Ayu dengan ringannya melemparkan tubuh Vanya. Hingga tanpa sengaja, membuat kening gadis kecil itu terbentur pada ujung sofa. Benturan itu pun meninggalkan bekas merah yang sangat kentara.
Tangan kurus Vanya terangkat untuk memegangi kepalanya.
"Shhhh..." Vanya kembali mendesis merasakan kepalanya yang kian berdenyut dengan kuat.
"Cih, ga usah lemah.. Sana masuk ke kamar!! Awas ya kalo kamu ngadu sama papah kamu!! Tau rasa nanti kamu!!" ucap Ayu lalu melangkah pergi meninggalkan Vanya.
Air mata seketika mengalir membasahi pipi Vanya, dia menatap punggung Ayu dengan tatapannya yang begitu datar. Entah kenapa, hati Vanya kini tiba-tiba terasa begitu dingin.
Setelah melihat Ayu memasuki kamarnya, Vanya segera beranjak untuk kembali ke kamarnya. Gadis kecil itu melangkah dengan sedikit terhuyung-huyung seraya memegangi kepalanya yang terus saja berdenyut.
Saat di dalam kamar, Vanya meraih hoodie dari dalam lemarinya lalu segera memakainya. Setelah menimang cukup lama, Vanya lantas meraih tas besar yang ada di atas lemarinya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Vanya mulai memasukkan beberapa baju beserta beberapa barang penting ke dalam tasnya itu.
Selesai memasukkan barang-barang, Vanya terlebih dulu melihat ke sekeliling kamarnya, memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Gadis kecil itu pun meraih ponselnya yang terletak di atas meja belajar, lalu mencabut sim card yang terpasang di sana. Setelahnya, dia segera melangkah keluar dari kamarnya dengan menenteng tas beserta boneka pemberian nenek Indah.
Vanya melangkah menuju pintu keluar rumah dengan langkah yang sedikit tertatih-tatih. Saat hendak membuka pintu rumah, tidak ada sedikit pun keraguan yang terpancar dari mata gadis kecil itu.
__ADS_1
Setelah menghela nafasnya, Vanya pun membuka pintu itu lalu melangkah keluar dari sana. Namun, ketika sudah sedikit menjauhi rumah itu, Vanya menghentingkan langkahnya lalu sejenak menatap rumah itu dengan tatapannya yang begitu datar.
Vanya berjanji di dalam hatinya, setelah dia melangkah keluar dari rumah ini. Mau sampai kapan pun, dalam kondisi seperti apa pun, dan dalam situasi seburuk apa pun itu, Vanya tidak akan pernah mau kembali menginjakkan kaki di rumah ini.
Saat ini, pilihan terakhir yang menjadi tujuannya adalah rumah Nisa. Mengabaikan rasa sakit di seluruh tubuhnya, juga mengabaikan hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam tulangnya, Vanya kembali melanjutkan langkah gontainya menuju rumah Nisa. Dan seakan tanpa rasa lelah, Vanya mempercepat langkahnya agar segera tiba di sana.
Hingga ketika Vanya mulai memasuki kawasan perumahan dimana Nisa tinggal, Vanya sedikit memperlambat langkahnya. Entah kenapa, rasa lelah tiba-tiba saja datang menghampirinya. Air mata juga mulai mengalir membasahi pipi gadis kecil itu ketika dia sudah menginjakkan kaki di pekarangan rumah Nisa.
Saat tiba di depan pintu, Vanya segera menekan bel yang terpasang di samping pintu itu. Karena kebetulan esok adalah hari minggu, Vanya merasa sangat yakin jika saat ini Nisa masih membuka matanya.
Dan benar saja, setelah menekan bel untuk yang ke dua kalinya, Vanya mendengar suara Nisa yang sedikit berteriak dari dalam sana.
"Iyaaaaaa, sebentar"
Ketika Nisa sudah membuka pintu, Vanya seketikaa melepas hoodie yang menutupi kepalanya lalu menatap Nisa dengan tatapan sendu.
"Ya Tuhan, Ivanyaaaaaa.. Kamu kenapa??" Nisa bertanya dengan sangat panik.
"Niss... Tante Ayu, diaaa..." ucap Vanya lirih dengan isakan pilu yang mulai keluar dari mulutnya.
"Bener kan tebakan aku dari awal kalo perempuan itu bukan oerembuan baik-baik, emang dasar gila ya tu perempuan iblis!!" Nisa berkata dengan menggebu-gebu.
"Udah sini cepet masuk, di luar dingin" ucap Nisa kemudian memapah Vanya untuk masuk ke dalam rumah.
Saat Nisa sedang menutup pintu, Rima terlihat datang menuruni tangga seraya mengusap wajahnya yang terlihat mengantuk.
"Ada apa sih Nis, kok ribut-ribut, mamah jadi keba.."
"Astaga ya Tuhan, Vanya.. Kamu kenapa nak??"
Rasa kantuk Rima tergantikan dengan rasa panik ketika melihat kondisi Vanya yang begitu memprihatinkan.
Bagaimana tidak, lihatlah kondisinya yang begitu lusuh. Rambutnya yang berantakan, kaki yang penuh debu, luka lebam di seluruh wajahnya, sudut bibir sebelah kirinya yang robek, juga wajahnya yang sangat pucat. Sungguh, Rima tidak bisa membayangkan tentang hal seperti apa yang telah di alami anak gadis itu.
Hingga ketika Rima sedikit berlari untuk menghampiri Vanya yang sedang di papah oleh Nisa, tiba-tiba saja Bruuuukkkk... Vanya tergeletak tak sadarkan diri..
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..