Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Wulan


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dar, mending Vanya di bawa ke ruang piket aja, di sana kan ada sofa.. Biar Vanya bisa istitahat dulu.." Ucap Wulan yang ternyata mengikuti Haidar dari belakang.


Karena kebetulan, wanita itu tadi sehabis dari kamar mandi. Jadi dia mengetahui kejadian itu. Bahkan wanita itu menyaksikan sendiri bagaimana Haidar memukuli Rayan hingga babak belur.


Haidar yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya.


"Yaudah, kalo gitu saya ambilin air minum sama kotak P3K ya.." Wulan kembali berkata.


Haidar lagi-lagi hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya.


Wulan pun bergegas pergi meninggalkan Haidar.


"Ssssh... Lu udah sama gua, hmm.. Jangan nangis lagi ya.." Haidar menenangkan Vanya yang masih terisak pilu seraya terus melangkah menuju ruang piket.


Vanya yang masih menenggelamkam wajahnya pada dada bidang Haidar pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Sesampainya di ruang piket, Haidar pun mendudukkan Vanya di sofa dengan lembut. Pria itu kemudian duduk bersimpuh di depan Vanya.


"Mana aja yang sakit? Ngomong sama gua, hmmm.." Haidar berkata seraya menggenggam kedua tangan Vanya dengan lembut.


"Gua.. Gua takut.. Gua.. Gua.. Gua kotor Dar.." Vanya berkata tanpa berani menatap Haidar.


Haidar yang mendengar hal itu pun segera berpindah untuk duduk di samping Vanya kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


"Ssshh.. Ga usah takut.. Kan lu udah sama gua.. Lu juga ga kotor kok.. Lu masih bersih.." Haidar berkata seraya menepuk-nepuk punggung Vanya dengan lembut.


Haidar bisa berkata seperti itu karena ya.. Beruntungnya, Haidar datang di saat yang tepat.. Di mana Haidar bisa melihat jika celana Rayan masih terpasang dengan sangat rapi.. Hanya saja, beberapa kancing baju atas pria itu terlepas, mungkin akibat dari Vanya yang memberikan perlawanan.


Jadi, setidaknya Haidar bisa bernafas dengan sangat lega.. Meskipun Haidar tau, kejadian ini pasti akan menimbulkan trauma yang mendalam untuk Vanya.


Haidar lalu melerai pelukannya kemudian menangkup wajah Vanya. "Jangan mikir diri lu kotor ya.. Lu masih tetep bersih kok.."


"Tapi.. Dia.. Dia udah megang-megang gua..." Vanya menyahut dengan suara yang tersendat-sendat.


"Perlu gua patahin tangannya buat bales perbuatan dia?" Haidar bertanya seraya menyelipkan helaian rambut Vanya ke belakang telinga gadis itu.


Vanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Haidar menghela nafasnya kemudian mengelus pipi kiri Vanya menggunakan ibu jarinya. "Yaudah, jangan mikir kaya gitu ya.. Nanti kita urus dia biar dapet hukuman yang layak.. Hm.. Sekarang mending elu tenangin pikiran dulu.."


Tepat setelah Haidar mengatakan hal itu, datanglah Wulan dengan membawa segelas air minum dan kotak P3K lalu menyerahkan pada Haidar.


"Dar, ini air minum sama kotak P3Knya.."


Haidar pun menerimanya.


"Di minum ya.." Haidar berkata seraya membantu Vanya untuk minum.


Vanya lantas meminum air itu dengan tangan yang sedikit bergetar.


Setelahnya, Haidar meletakkan gelas itu di atas meja yang ada si samping sofa, lalu membuka kotak P3K itu untuk mengambil obat memar. Kemudian mulai mengoleskannya pada setiap lebam yang ada di tubuh Vanya.


"Mau di bantuin ga?" Tanya Wulan.


Haidar menolak tawaran itu dengan menggelengkan kepalanya.


Wulan yang sudah terbiasa dengan sikap dingin Haidar pun hanya bisa menghela nafasnya. Tapi, jika boleh jujur, Wulan sebenarnya merasa sedikit terpesona akan sikap dingin pria itu. Di tambah lagi dengan cara kerja pria itu yang sangat cekatan, semakin membuat Wulan merasa terpesona.


Karena ya, Wulan merupakan salah satu penanggung jawab setiap murid yang melaksanakan tugas PKL di kantor itu. Jadi, Wulan bisa tau setiap hasil dan setiap kinerja murid-murid yang melakukan PKL di sana.


Dan juga, selain Vanya, Haidar merupakan satu-satunya siswa PKL yang akan mengerti setiap tugas hanya dengan satu kali penjelasan. Wajar saja jika Wulan merasa sedikit penasaran akan pria itu. Toh jika membahas masalah umur, Wulan baru saja berumur 20th. Tidak salah kan jika dia merasa sedikit terpesona pada Haidar?


Wulan sebenarnya ingin sekali mencoba mendekati Haidar melalui Vanya. Tapi.. Ah, sudahlah.. Lebih baik Wulan mengesampingkan hal itu untuk sekarang..


Wulan lantas mengambil kursi plastik yang ada di sana kemudian duduk di depan Vanya.


"Rambutnya di iket ya, biar enak nafasnya.." Wulan mencoba menawarkan bantuan pada Vanya.


Vanya lantas menoleh pada Wulan lalu menganggukkan kepalanya.


Wulan tersenyum kemudian beranjak untuk mengikat rambut Vanya menggunakan ikat rambut yang ada di saku blazernya.


"Udah baikan?" Tanya Wulan kemudian.


Vanya lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya.


"Butuh sesuatu ga? Biar kakak ambilin.." Wulan berkata seraya kembali duduk di kursinya.


"Ga usah, ga papa kak, makasih.." Sahut Vanya dengan suara yang sedikit parau.


Wulang menghela nafasnya kemudian menatap penampilan Vanya yang terlihat sangat berantakan dengan beberapa kancing bajunya yang terbuka.

__ADS_1


Wanita itu lantas kembali beranjak dari duduknya kemudian mendekati lemari untuk mengambil selimut kecil yang ada di sana.


"Pake ini ya, bersih kok, ini punya kakak.. Biasanya kakak pakek kalo kakak ngelembur di sini.." Wulan berkata seraya memakaikan selimut itu ke tubuh Vanya.


"Makasih kak.." Ucap Vanya.


"Sama-sama.." Wulan menyahut seraya tersenyum lembut.


Wulan lantas menoleh pada Haidar yang tengah merapikan kembali kotak P3K itu lalu berkata. "Dar, nanti kalo Vanya udah lebih baik lagi, di bawa ke ruangannya pak Tomi ya.. Si cowok itu juga ada di sana.."


Haidar yang mendengar hal itu pun menoleh pada Wulan lalu menganggukkan kepalanya.


"Yaudah, kakak tinggal ya.. " Wulan berkata kemudian berlalu pergi dari sana.


Seperginya Wulan, Haidar lalu kembali menggenggam kedua tangan Vanya dengan lembut. "Mau di sini dulu, atau ke ruangannya pak Tomi sekarang?"


Vanya terlihat berpikir untuk sejenak. "Tapi gua takut.."


"Ga usah takut.. Kan ada gua yang jagain elu, hm.." Haidar berkata dengan sangat lembut.


"Biar urusannya juga cepet selesai.. Biar dia juga cepet-cepet dapet hukuman yang setimpal.. Terus habis itu kita pulang, ya.."


Vanya pun perlahan menganggukan kepalanya.


"Yaudah, kita kesana ya.. Mau di gendong atau mau jalan sendiri?"


"Jalan aja.."


Haidar tersenyum lalu membantu Vanya untuk beranjak dari duduknya. Mereka lantas segera berlalu menuju ruangan Pak Tomi.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2