Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Masalah dan Jalan Keluar


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Enak ga?" Rima bertanya pada Vanya yang kini tengah menikmati nasi goreng buatannya dengan begitu lahap.


"Enwak bwanget Twantwe.." Vanya menjawab dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Yang mana hal itu membuat Rima seketika tertawa renyah. "Di telen dulu, keselek nanti kamu.. Kalo masih laper, nanti nambah yaaa.. Tante bikinnya banyak kok."


Gadis kecil itu lantas menelah makanannya lalu berkata. "Hehe.. Iya tante, nanti Vanya nambah.. Lha kamu ga ikut makan Nis?"


"Engga.. Aku tadi udah makan malem kok.. Kamu makan aja yang kenyang.. Biar badan kamu ada dagingnya lagi, ga cuma keliatan tulangnya aja.." Nisa berkata seraya tersenyum dengan tulus.


Vanya pun terkekeh seraya menganggukkan kepalanya kemudian kembali fokusnya melahap nasi gorengnya.


Setelah makan malam selesai, mereka memutuskan untuk tidur bertiga di kamar Rima, dengan Rima yang berada di antara mereka.


"Eh Va.. Aku boleh ngomong sesuatu ga?" Nisa bertanya kemudian.


"Ngomong aja.." jawab Vanya cepat.


"Firasat ku nih ya, Om Bagas kayanya ga bakalan nyariin kamu deh.. Secara nih ya, si penyihir jadia-jadian itu pasti deh ngehasut Om Bagas" Nisa bertanya dengan sedikit ragu.


Namun, belum sempat Vanya menanggapi perkataan Nisa, Rima sudah lebih dulu berkata. "Husss, jangan ngomong kaya gitu.. Pasti lah nyariin, masa iya anak gadisnya ga ada di rumah kok ga di cariin"


"Tapi tante.. Firasat Vanya sama kok kaya firasatnya Nisa.. Papah kayanya ga bakalan deh nyariin Vanya.." sahut Vanya..


"Kalo nantinya emang ga di cariin yaudah ga papa, kan kamu bisa tinggal di sini" ucap Rima.


"Tapi tante, Vanya cuma bingung kalo misal nanti papah juga ga bayarin sekolahnya Vanya" ucap Vanya.


"Udah ga usah di pikirin, itu mah soal gampang.. Sini kalian peluk mamah terus tidur, udah mau jam 1 malem loh ini.. Besok kalian juga masih harus sekolah" ucap Rima seraya merentangkan kedua tangannya agar Vanya dan Nisa masuk ke dalam pelukannya.


Dua gadis kecil itu pun segera beringsut untuk masuk ke dalam pelukan hangat Rima kemudian mulai memejamkan mata mereka.


Rima lantas menepuk-nepuk punggung dua gadis kecil itu dengan lembut seraya diam-diam berjanji di dalam hati.. Setelah ini, jika Bagas memang tidak datang untuk mencari Vanya. Maka dia akan membantu kehidupan gadis kecil itu bagaimana pun caranya.

__ADS_1


Bukan hanya karena Rima merasa kasihan pada Vanya, namun juga karena Rima sudah terlanjur sayang pada gadis kecil yang malang itu. Di tambah lagi dia hanya memiliki seorang putri, jadi tidak ada salahnya kan jika dia berniat untuk menghidupi satu putri lagi.


Tapi meskipun begitu, Rima juga berjanji di dalam hatinya, jika dia akan memperlakukan Nisa dan Vanya dengan cara yang sama, dengan kasih sayang yang sama, dan dengan cinta yang sama..


Setelah memastikan kedua gadis kecil itu tertidur pulas, Rima pun sedikit menyamankan posisi tidurnya kemudian mulai memejamkan matanya, menanti hari esok tiba...


*****


1 hari.. 2 hari... 3 hari... 4 hari.. Hingga 3 bulan pun berlalu..


Dan benar saja apa yang di katakan Vanya, hingga saat ini, Bagas sama sekali tidak menunjukkan tanda untuk mencari keberadaan Vanya. Padahal, jika di logika, Bagas sudah pasti tau tentang dimana keberadaan Vanya hingga saat ini.


Bahkan yang lebih parahnya lagi, Bagas juga benar-benar berhenti membiayai sekolah Vanya, hingga gadis itu kini menerima surat penagihan pembayaran bulanan sekolah yang sudah menunggak selama 3 bulan.


Yang mana, hal itu membuat Vanya terancam tidak bisa mengikuti ujian tengah semester.


"Duuuuh... Gimana yaaa.. Mana ujiannya cuma tinggal 2 minggu lagi" Vanya bergumam seraya menelungkupkan wajah pada lipatan tangannya di atas meja.


"Ck, mana celengannya ketinggalan di rumah itu lagi.." gadis itu kembali bergumam seraya menolehkan wajahnya ke arah kiri.


Gadis kecil itu kini melamun dengan menatap pemandangan luar kelasnya dari jendela kaca tanpa berkedip, hingga tidak menyadari Nisa yang kini sudah duduk di sampingnya.


"Va.." 1x, tidak ada jawaban..


"Vaaaaa.." 3x, tetap tidak ada respon..


"IVANYA" Nisa sedikit berteriak di dekat telinga Vanya.


Yang mana hal itu membuat Vanya berjengkit kaget. "Wait, what.. Hey.. Waaaaaahh.. Nisa ih ya ampun, ngagetin tau!!"


"Ya abisnya, kamu ga dengerin aku manggil kamu.. Kamu tu ngelamunin apa sih.."


"Hehe.. Ga papa, aku cuma keasyikan liatin kakak kelas yang lagi main basket.."


Mendengar jawaban Vanya yang terlihat meyakinkan, seketika membuat Nisa menatap Vanya dengan memicingkan matanya. "Kamu naksir kakak kelas ya..." Nisa berkata seraya menunjuk-nunjuk Vanya dengan senyum jahilnya.


Vanya menatap Nisa dengan sedikit memiringkan bahunya. "Dih.. Mana ada.. Masih kecil, jangan ngomongin naksir-naksir deh... Sekolah aja dulu yang bener" ucap Vanya. Karena memang begitulah adanya..


"Heleeeh... Awas aja ya kalo ada kakak kelas yang kamy taksir.."

__ADS_1


"Udah-udah.. Duduk yang bener, tuh Bu Isda udah mau masuk kelas" ucap Vanya seraya menggeserkan tubuh Nisa agar menghadap ke depan.


Nisa pun hanya menanggapinya dengan mencebikkan bibirnya.


*****


Satu minggu berlalu setelah Vanya mendapat surat tagihan dari sekolah. Kini gadis kecil itu tengah menyantap sarapannya dengan tanpa minat.


Rima yang melihat hal itu lantas meletakkan sebuah amplop kecil ke hadapan Vanya.


"Eeeh, ini apa tante?"


"Buat bayar SPP kamu, kamu udah dapet surat tagihan dari bendahara sekolah kan.. Anggap aja itu bayaran buat kamu yang udah bantuin tante ngurusin loundryan"


Ya, selama 2 bulan terakhir ini, Vanya membantu Rima mengurusi cabang laundry baru milik Rima yang terletak tepat di samping rumah Rima.


Awalnya, Rima menolak permintaan gadis kecil itu. Karena tidak mungkin Rima tega mempekerjakan gadis kecil yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri itu. Namun, setelah gadis kecil itu mengatakan enggan untuk tinggal di rumahnya jika Rima tidak mengijinkannya untuk membantu mengurus loundry, Rima pun akhirnya terpaksa menyetujui keinginan gadis kecil itu.


"Tante tau dari mana?" Vanya bertanya setelah menatap amplop itu untuk beberapa saat.


"Aku yang ngasih tau mamah.. Salah sendiri nyembunyiin surat tagihannya di tempat yang ga aman.. Ya aku jadi gampang kan nemuinnya" Nisa menyahut dengan santainya.


Vanya seketika mengusap tengkuknya dengan canggung. "Tapi.."


"Udah, ga ada tapi-tapian.. Di pake aja, dari pada nanti kamu ga bisa ikut ujian tengah semester.." ucap Rima.


Vanya kemudian menatap Rima dengan mata yang berkaca-kaca. "Beneran tante?"


Rima tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "He em, beneran"


Vanya lantas beranjak dari kursinya lalu berhambur ke dalam pelukan Rima. "Tante, makasih banyak" ucap Vanya seraya terisak kecil.


Rima pun membalas pelukan Vanya lalu menepuk-nepuk punggung gadis kecil itu dengan lembut. "Iya.. Sama-sama..."


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..

__ADS_1


Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2