Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Membuka Diri


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi harinya...


Terlihat Haidar yang tengah berbaring menyamping seraya memperhatikan wajah damai Vanya yang masih terlelap. Tangan kanan pria itu lantas terangkat untuk mengelus pipi putih Vanya yang masih terlihat memar akibat insiden kemarin.


Vanya yang merasakan hal itu pun terlihat mengerjapkan matanya.


"Good morning Honey.." Haidar berkata setelah Vanya menatap ke arahnya.


Vanya pun tersenyum kemudian membalas sapaan Haidar. "Good morning.."


Namun, sedetik kemudian gadis itu menatap Haidar dengan sedikit terkejut. "Bentar, bentar.. Ini udah pagi?" Gaids itu bertanya dengan wajah yang terlihat bingung.


Haidar yang melihat kebingungan Vanya pun menatap gadis itu dengan mengangkat sebelah alisnya. "He em.. Ini udah pagi.. Kenapa emangnya? Ada yang salah?"


"Ini beneran udah pagi kan?" Vanya mencoba kembali meyakinkan dirinya.


Haidar menganggukkan kepalanya.


"Tumben gua bisa tidur sampe pagi." Vanya bergumam seraya beringsut untuk duduk.


"Lu bilang sesuatu?"


"Ah.. Engga." Vanya menggelengkan kepalanya. "Gua ga bilang apa-apa.."


Haidar kembali menaikkan sebelah alisnya. "Ga ada yang mau lu ceritain gitu ke gua?"


"Cerita apa?" Vanya bertanya dengan alis yang sedikit menukik.


Haidar mengedikkan bahunya. "Ya apaaa gitu.. Tentang mimpi lu semalem mungkin.."


Vanya yang mendengar hal itu pun seketika menatap Haidar dengan sangat intens, gadis itu tampak berpikir untuk beberapa saat.


Haruskah Vanya menceritakan tentang mimpinya pada Haidar?? Haruskah Vanya mulai percaya pada pria itu?? Haruskah Vanya yakin pada pria itu??

__ADS_1


Haidar yang melihat hal itu pun hanya diam dan memperhatikan tentang apa yang akan di katakan Vanya kepadanya. Jika boleh jujur, Haidar sangat ingin mengetahui tentang hal apa yang sebenarnya di alami oleh Vanya.


Hal yang membuat raut wajah gadis itu terlihat menyimpan beban yang begitu berat. Hal yang bahkan membuat gadis itu tidak tenang dalam tidurnya.


Namun, meskipun Haidar benar-benar ingin mengetahui hal itu, Haidar mencoba untuk bersabar menahan rasa penasarannya. Karena, meskipun kini mereka memiliki sebuah hubungan. Haidar sadar, hal itu tidak bisa dia jadikan alasan untuk menuntut Vanya menceritakan semuanya.


Karena selain Haidar mengerti jika Vanya belum bisa mempercayainya. Haidar juga mengerti, jika hal itu merupakan hal yang sangat pribadi untuk Vanya.


Melihat Vanya yang tak kunjung memberikan respon apa pun, Haidar pun menghela nafasnya. "Kalo emang lu ga siap buat cerita ya ga papa.. Gua ga maksa kok.. Kalo gitu, lu mandi ya.. Gua siapin sarapan buat lu.." Pria itu berkata kemudian hendak beranjak dari kasur.


Namun, belum sempat Haidar beranjak, Vanya terlebih dulu menghentikan pergerakan Haidar dengang menggenggam tangan pria itu.


Haidar lantas menatap Vanya dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"


"Gua bisa percaya sama lu ga?" Vanya bertanya kemudian.


Karena ya.. Setelah menimang dengan cukup matang, Vanya memutuskan untuk menceritakan tentang apa yang di alaminya pada Haidar.


Haidar yang mendengar pertanyaan itu pun tersenyum lalu menggenggam kedua tangan Vanya dengan lembut. "Gua udah bilang kan sama lu, lu bisa percayain hal apa pun itu ke gua.."


Vanya lantas menghela nafasnya kemudian mulai menceritakan tentang semua hal yang di alaminya pada Haidar secara garis besar.


Termasuk tentang hal yang di alaminya di dalam gudang bertahun-tahun yang lalu. Hal yang membuat dirinya sama sekali tidak bisa merasakan tidur nyenyak di setiap malamnya.


"Gua bisa komen apa-apa.." Haidar berkata dengan suara yang sedikit tertahan.


Karena sungguh, Haidar benar-benar tidak menyangka jika Vanya menjalani hal yang sangat pahit di masa kecilnya. Jujur, awalnya Haidar pikir jika Vanya merupakan gadis nakal yang kabur dari rumahnya dan memilih untuk hidup bersama dengan Nisa.


Namun, meskipun Haidar berpikir seperti itu. Setelah melihat sikap dan tingkah Vanya dalam waktu sehari-harinya, Haidar mulai meragukan pemikiran awalnya itu.


Dan setelah mendengar langsung tentang apa yang di alami Vanya dari mulut Vanya sendiri. Seketika membuat Haidar merasa sangat bersalah karena telah berpikiran yang tidak-tidak terhadap Vanya.


Haidar lantas menghela nafasnya kemudian menarik Vanya masuk ke dalam pelukannya. "Sorry ya.. Gua sempet mikir yang engga baik tentang lu.." Pria itu berkata seraya mengelus punggung Vanya dengan lembut.


Vanya yang mendengar hal itu pun seketika terkekeh kecil. "Ga papa, gua ngerti kok.. Pasti aneh kalo ada anak yang punya orang tua lengkap tapi milih tinggal di rumah temennya.." Gadis itu berkata seperti tidak memiliki beban apa pun.


Karena sungguh, setelah menceritakan semuanya pada Haidar, Vanya merasakan sedikit perasaan lega di dalam hatinya.


Haidar kemudian melepaskan pelukannya kemudian menatap Vanya untuk beberapa saat kemudian bertanya. "Terus, kok lu bisa sekolah sampe sekarang? Bukannya harus ada surat-surat dari wali ya?"

__ADS_1


Vanya mengangkat bahunya acuh. "Waktu itu, pas tante Rima minta surat-surat gua ke bokap. Bokap ngasih semua surat-surat gua gitu aja tanpa ngomong apa-apa.. Padahal, tadinya tante Rima udah nyiapin argumen panjang kalo misal bokap gua nolak buat ngasih semua surat-surat gua.."


Haidar yang mendengar hal itu pun seketika menatap Vanya dengan di penuhi rasa terkejutnya. "Segitunya ya??"


Vanya kembali mengangkat bahunya acuh. "Ya mau gimana.. Emang udah harusnya kaya gitu kali.. Tapi sekarang gua udah punya KK sendiri, 4 bulan yang lalu baru aja jadi.. Pas bikin KTP, sekalian bikin KK sendiri.. Tapi wali gua tetep tante Rima, cuma udah pisah KK aja.. Ga enak soalnya kalo harus ngerepotin tante Rima terus.."


"Gua ga nyangka ortu lu se jahat itu.."


"Gua aja ga nyangka.." Gadis itu lantas sedikit merebahkan tubuhnya kemudian menatap langit-langit kamar Haidar dengan pandangan sendu. "Bahkan sampe sekarang aja gua masih sering nanya ke diri gua sendiri.. Salah gua apa, kok mereka bisa memperlakukan gua kaya gitu.. Padahal nih ya, seandainya gua bisa milih.. Gua juga ga akan mau di lahirin dari rahim nyokap gua.. Lucu kan cerita hidup gua.." Vanya berkata kemudian terkekeh geli.


"Tapi Va, buat masalah mimpi lu.. Kita ke psikolog yuk.. Siapa tau bisa sembuh.. Ga ada salahnya kan buat nyoba.." Haidar berkata dengan sedikit ragu.


Karena jujur, Haidar merasa sedikit takut jika perkataannya menyinggung perasaan gadis itu.


"Lu pasti tau kan kalo psikolog ga cuma buat orang yang punya penyakit mental.." Haidar kembali berkata karena Vanya tak kunjung memberikan respon.


Vanya yang mendengar hal itu lantas menegakkan tubuhnya kemudian menatap Haidar. "Gua tau.. Tapi.. Kapan-kapan aja ah, kalo ada biaya.."


"Gua bisa biayain.." Sahut Haidar cepat.


Vanya seketika menaikkan sebelah alisnya. "Pake duit siapa? Bokap lu? Elu kerja aja engga.. Udah ah, ga usah ngaco deh.. Gua udah terbiasa kok.."


"Gua beneran punya duit Va.."


"Udah ah, katanya mau nyiapin sarapan.. Gua mau mandi.." Vanya berkata kemudian beranjak dari kasur.


"Tapi Va..."


Namun, Vanya tidak menghiraukan Haidar.. Gadis itu memilih untuk berlalu masuk ke kamar mandi dengan menulikan pendengarannya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2