
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
"Lu yakin ga mau keluar Va?"
Nisa menatap Vanya dengan sangat memelas, tangannya sedari tadi tidak hentinya menggoyang-goyangkan tangan Vanya yang ada di genggamannya.
"Lu aja deh yaaa.."
Vanya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Nisa.
Sudah hampir 1 jam lamanya Nisa membujuk Vanya untuk pergi keluar dari kamarnya.
Nisa ingin mengajak Vanya untuk pergi ke pantai atau tempat wisata apa pun yang di inginkan oleh sahabatanya itu.
Nisa tak kuasa menahan sedihnya melihat Vanya yang hanya berdiam diri dan mengunci diri dari kerasanya dunia luar.
Bukannya Nisa ingin mendorong Vanya untuk kembali ke kehidupan kerasanya. Tapi ya mau bagaimana lagi, se jauh apa pun kita menghindar, kehidupan dunia luar memang lah sangat keras.
Tujuan Nisa pulang ke jogja bukan hanya untuk sekedar bermain, melainkan untuk membantu Vanya beradaptasi kembali dengan kehidupannya.
Rima tentu saja menyetujui niat Nisa setelah Nisa menceritakan apa yang di alami Vanya. Terlebih lagi, Nisa memang sedang dalam masa liburan semester, tidak ada alasan untuk Rima melarangnya.
Bahkan, Rima meminta Nisa untuk membujuk Vanya agar dia mau kembali hidup bersama dengan mereka.
Tapi, sepertinya itu hal yang mustahil untuk Nisa lakukan.
Jangankan membujuk Vanya untuk kembali hidup bersama dengan mereka, membujuk Vanya untuk keluar dari kamarnya saja sudah membuat Nisa pusing tujuh keliling.
"Vaaa.. Iiiihh.. Ayolah.. Masa lu tega ngebiarin gua keluar sendirian. Kalo nanti gua kesasar gimana?"
Vanya memutar bola matanya. "Lu aja lahir di sini, ya kali kesasar.. Emangnya lu amnesia, sampe lupa jalan pulang?"
"Ck! Hish! Yaudahlah, terserah!!"
Nisa menghempaskan tangan Vanya, gadis itu melangkah menuju sofa yang terletak di sudut ruangan dengan langkah yang menghentak.
Vanya mengangkat bahunya acuh, dia kembali memainkan ponselnya, sebentar lagi juga Nisa pasti akan kembali pada sikap awalnya.
Namun...
Vanya meletakkan ponselnya saat telinganya samar-samar mendengar suara isakan kecil.
Dia lantas menoleh pada Nisa yang kini menelungkupkan wajahnya pada lipatan kedua tangannya yang bertumpu pada kedua lututnya yang di tekuk.
Pict by : Pinterest
*Note : Anggap aja Nisa lagi duduk di sofa.
"Eeh, Niss.."
Vanya menghampiri Nisa.
__ADS_1
"Lu nangis?"
Vanya mencoba untuk mengangkat kepala Nisa dengan lembut.
Namun, Nisa segera menghindari Vanya.
"Duh Nis.. Kok lu nangis sih.."
Nada suara Vanya terdengar sedikit panik.
"Ya abisnya lu gitu.. Gua udah jauh-jauh dateng kesini buat bikin lu balik lagi kayak biasanya, tapi lu nya malah kayak gitu ke gua.. Gimana bisa sembuh kalo lu nya aja ga mau berusaha.. Sia-sia dong 3 hari libur gua kalo lu nya kayak gitu.. Kalo tau lu nya bakalan kayak gini, mending gua ga usah ke sini aja!!" Nisa berkata dengan suaranya yang tersendat-sendat.
Vanya mengusap wajahnya. "Ok, ok.. Gua minta maaf.. Kita keluar, kita jalan, terserah deh mau kemana. Tapi jangan nangis lagi ok.."
Nisa seketika saja mengangkat kepalanya, wajahnya yang berlinang air matanya.
"Beneran keluar? Beneran jalan?"
Vanya menganggukkan kepalanya. "Tapi lu ga boleh nangis lagi, cepet hapus air mata lu.. Gua siap-siap dulu."
Nisa mengangguk kecil.
Vanya lantas bergegas untuk mengganti pakaiannya.
Ketahuilah.. Diam-diam, Nisa kini tengah mengulum senyumnya.
"Kenapa ga dari tadi aja ya gua nangisnya? By the way, bisa nih gua jadi pemain film atau drama, keknya akting gua natural banget sampe tu anak percaya."
Nisa bergumam di dalam hatinya , dia mencoba untuk tidak terkekeh.
Karena ya, dia tidak benar-benar menangis. Dia hanya melakukan sedikit drama agar Vanya bersedia untuk keluar dengannya.
Dan juga, tidak kah Vanya merasa bosan dan suntuk? Selama lebih dari satu minggu, gadis itu hanya melihat tembok dan atap kamarnya saja. Atau kalau tidak, gadis itu mungkin hanya melihat sosial media saja.
Tapi kan tetap saja, se addict apa pun Nisa terhadap sosial media, Nisa tetap saja merasa bosan jika harus terus menerus tenggelam pada dunia sosial media.
Nisa benar-benar tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Vanya.
Bahkan gadis yang menjadi sahabatnya itu tidak mencuci pakaiannya karena merasa enggan untuk keluar dari kamarnya.
Pakaian yang di miliki Vanya memang banyak. Tapi, apakah gadis itu tidak merasa jengah melihat cucian pakaian yang begitu menumpuk?
Nisa yang memang dasarnya gadis pemalas saja merasa cukup jengah melihatnya.
Lantas, bagaimana dengan Vanya yang notabenenya gadis yang sangat rajin?
Hah.. Sungguh, andai saja Nisa memiliki kekuatan spiritual, Nisa sudah pasti akan masuk ke dalam pikiran Vanya untuk mengetahu apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.
Nisa mengembalikan raut wajah sedihnya saat Vanya sudah selesai mengganti pakaiannya.
"Udah, ayok.. Jangan sedih gitu mukanya, kan gua udah setuju buat jalan keluar sama lu.."
Nisa mencebikkan bibirnya. "Ikhlas ga??"
Vanya menghela nafasnya. "Ikhlas Nis.. Ikhlas.."
"Yaudah ayoookk.."
__ADS_1
Vanya menatap Nisa dengan tatapan datarnya melihat sikap Nisa yang begitu antusias.
"Lu tadi nangisnya ga boongan kan?"
Nisa mencoba untuk tidak menelan salivanya, gadis itu menoleh pada Vanya dengan mata yang memicing.
"Lu ga percaya? Perlu gua nangis darah dulu biar lu percaya sama gua?"
"Yaudah yaudah.. Ga perlu, gua percaya.. Ayok.."
Vanya menghela nafasnya untuk sejenak sebelum akhirnya dia melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamarnya.
.......
.......
.......
Nisa menyunggingkan senyumnya saat melihat Vanya yang begitu menikmati semilir angin laut.
Perasaan bahagia menjalar memenuhi ruang di hatinya, Nisa sangat senang melihat Vanya yang akhirnya bisa kembali tersenyum.
Tidak sia-sia ternyata usahanya dalam membujuk Vanya untuk kembali pada kenyataan.
Ya meskipun harus melakukan sedikit drama, tapi setidaknya drama yang dia lakukan membuahkan hasil yang cukup memuaskan.
Nisa lantas menghampiri Vanya.
"Nih, minum.."
Nisa memberikan sebotol minuman dingin pada Vanya.
"Thanks.."
"Mmm.." Nisa mengangguk kecil. "Gimana? Udah enakan belum hatinya?"
Vanya menyunggingkan senyum tipisnya. "Udah.. Ternyata, balik ke kenyataan ga seburuk yang gua kira."
"Thanks ya lu udah mau bela-belain jauh-jauh dateng kesini cuma buat nenangin hati gua."
"Dih.." Nisa melirik Vanya dengan sedikit sinis. "Di bilang cuma lagi.. Lu tu ga boleh pake kata cuma.. Lu tu penting buat gua. Kalo ga ada elu, gua juga ga bakalan jadi Nisa yang kayak gini. Coba aja dulu lu ga sabar ngajarin gua banyak hal, mungkin otak gua stak di situ aja. Mungkin juga gua ga bakalan bisa kuliah di kampus ternama."
Vanya seketika saja terkekeh kecil. "Iya deh iya.. Thanks pokoknya.."
Nisa tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..