Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Kasih Sayang


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Masih sama kayak yang dulu.."


Vanya menatap kamarnya di waktu dulu dengan tatapan penuh kerinduan. Tidak ada yang berubah dari kamarnya. Design ruangannya, cat temboknya, kasurnya, bahkan tata letak setiap barang-barangnya pun masih sama seperti sebelum Vanya tinggalkan.


Hanya saja, kamar ini terlihat lebih rapi di bandingkan dengan sebelum Vanya pergu dari rumah ini. Ya, bisa di katakan, Vanya meninggalkan kamarnya dalam keadaan yang cukup berantakan.


Vanya tiba-tiba saja terkekeh kecil menginga kejadian waktu itu. Di mana Vanya menyelinap keluar di malam hari dalam keadaan yang sangat menyedihkan.


Vanya sedikit tidak menyangka kalau dia akan kembali menginjakkan kakinya di kamar ini.


Tapi, kini Vanya kembali dalam keadaan yang berbeda. Tidak lagi dalam kondisi yang menyedihkan, melainkan dalam kondisi yang baik secara fisik mau pun mental.


Itu semua berkat Haidar yang selalu ada di sisinya, selalu mendukungnya, juga selalu menyemangatinya dalam segala hal. Ya meskipun pria itu sempat menyakitinya, tapi pria itu tidak sepenuhnya menyakitinya. Itu juga tidak sepenuhnya salah Haidar, semua itu bisa terjadi karena keadaan. Ya, keadaan..


Yang terpenting, sekarang semuanya sudah kembali seperti sedia kala. Tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi masalah, tidak ada lagi air mata.


Sejatinya, mungkin suatu saat nanti Vanya dan Haidar pasti memiliki masalah. Tapi Vany harap, masalah itu bukanlah masalah yang sangat besar dan bisa di selesaikan secara baik-baik. Berdoa saja, semoga apa yang di inginian Vanya bisa jadi kenyataan.


Karena pada dasarnya, Vanya merasa sudah terlalu lelah jika harus terus menghadapi masalah yang sangat besar.


"Ini kamar lu?"


Vanya menoleh pada Haidar, dia menganggukkan kepalanya.


"Ga mencerminkan kamar anak perempuan."


Vanya seketika saja menatap Haidar dengan tatapan datarnya saat pria itu berkata dengan begitu santainya.


"Lu ngejek gua?"


Haidar menggelengkan kepalanya. "Kenyataannya kayak gitu.. Biasanya kan kamar anak perempuan tu nuansanya lembut, banyak boneka, pajangannya juga mainan anak perempuan. Lah ini, cat temboknya aja warna abu-abu gelap. Atapnya aja langit malam. Boneka pun ga ada sama sekali. Pajangan juga, tuh.. Mana ada anak perempuan mainannya miniatur mobil balap, motor-motoran, sama ada tamia lagi."


Vanya mengusap tengkuknya, semua kata umpatan yang hendak dia lontarkan pada Haidar seketika saja menghilang entah kemana. Karena ya, apa yang di katakan Haidar memang benar adanya. Tidak asa kesan kamar anak perempuan sama sekali. Semuanya benar-benar mencerminkan kamar anak laki-laki.


Tapi ya mau bagaimana lagi, selera Vanya memang sudah seperti itu sejak kecil.


"Ck! Yaudah si, yang penting kan jati dirinya cewek."


Haidar menaikkan sebelah alisnya. "Yakin cewek?"


"Ck!"


Vanya bersiap hendak mencubit pinggang Haidar.


Namun, karena sudah terlalu sering mendapat serangan dari Vanya. Haidar kini bisa menghindari cubitan dari Vanya dengan sangat gesit.

__ADS_1


"Uuuuhh.. Mon maap nih, gua udah apal banget gerak gerik lu."


"Dih.. Bodo ah.."


Vanya lantas masuk ke dalam kamarnya, dia mendekati kaca besar yang menjadi pintu menuju balkon kamarnya. Vanya membuka kaca besar itu kemudian melangkah menuju balkon kamarnya.


Gadis itu merentangkan kedua tangannya, menikmati semilir angin lembut yang menerpa wajahnya. Sungguh, Vanya merindukan suasana balkon kamarnya yang begitu menenangkan.


Di mana dari balkon kamarnya, Vanya bisa langsung melihat pemandangan perbukitan yang begitu asri dan hijau.


Vanya tidak sadar, kalau sedari tadi Haidar sudah memperhatikannya.


Sekali lagi.. Ah tidak, entah untuk ke berapa kalinya, Haidar lagi-lagi terpesona pada Vanya.


Wajahnya yang begitu cantik nan menggemaskan, hidungnya yang mungil nan mancung, bibir tipisnya yang begitu penuh, keningnya yang sempit namun bulat. Semuanya terbentuk dengan begitu apik.


Melihat wajah Vanya dari samping, di tambah lagi dengan uraian rambut Vanya yang tertiup angin, membuat Haidar merasa seolah tengah melihat karya pahatan yang di ciptakan oleh seseorang yang sngat profesional.


Haidar merasa Tuhan seolah menunjukkan kalau Vanya merupakan salah satu manusia ciptaannya yang terbentuk dengan sempurna.


Sungguh, Haidar rasanya tidak menemukan celah kesalahan barang sedikit pun dari wajah dan tubuh Vanya. Semuanya benar-benar terbentuk dengan apik yang hampir mendekati sempurna.


Ya meskipun Vanya memiliki bekas luka di beberapa bagian, namun hal itu tidak mengurangi keindahan wajah dam tubuh yang di miliki Vanya.


Haish! Apa yang di pikirkan Haidar. Kenapa dia tiba-tiba saja memikirkan hal yang tidak-tidak!!


Tapi mau bagaimana lagi? Memang begitulah adanya.. Haidar di setiap harinya selalu terpesona akan aura kecantikan yang di miliki Vanya.


"Cantik.." Gumam Haidar.


"Lu ngomong sesuatu?"


Vanya menoleh pada Haidar yang menandarkan tubuhnya pada pinggiran pintu yang menuju balkon. Karena meskipun Haidar bergumam, namun Vanya tetap bisa mendengar gumamam pria itu meskipun tidak terlalu jelas.


Haidar menyunggingkan senyum kecilnya kemudian melangkah mendekati Vanya.


"Lu cantik."


Vanya memicingkan matanya. "Biasanya kalo lu muji, lu pasti ada maunya."


"Emang ga boleh ya muji lu tanpa minta apa pun?"


"Biasanya kan gitu. Lu muji kalo ada maunya aja.. Entah minta di masakin ini lah, entah minta di pijitin lah. Pokoknya lu kalo muji pasti ada maunya.."


Haidar seketika saja terkekeh kecil, karena pada dasarnya, memang seerti itu adanya. Haidar selalu memuji Vanya di saat dia akan meminta tolong pada gadis itu. Ya anggap saja itu sebagai bayaran atas bantuan yang di berikan Vanya.


Tanpa memberikan aba-aba, Haidar tiba-tiba saja menarik Vanya kemudian mendekap gadis itu dari belakang.


Vanya tentu saja merasa terkejut akibat gerakan Haidar yang begitu tiba-tiba.


"Dar! Lepasin ih.. Ini di rumah papah.. Kalo papah liat gimana?!"

__ADS_1


Vanya berusaha untuk melepaskan diri dari Haidar.


"Yaudah si Va.. Liat juga ga papa. Lagian juga papah kan udah tau kalo sebentar lagi kita mau nikah."


"Ya tapi kan ga gini juga.. Ga enak kalo di liat papah."


"Diem Va.. Sebentar aja.. Coba deh lu nikmatin suasananya. Lagian di sini juga dingin, anggep aja gua lagi ngangetin badan lu."


"Tcih!" Vanya menyunggingkan senyum simpulnya. "Ini mah bukan lu yang ngangetin badan gua, tapi lu nyari kesempatan buat nempel-nempel sama gua."


Meskipun menggerutu, namun Vanya memilih untuk diam. Dia membiarkan Haidar mendekap tubuhnya dengan sangat erat, karena sejatinya, Vanya cukup menikmati posisi mereka sekarang ini.


"Ya ga ada salahnya kan nempel sama calon istri sendiri. Dari pada nempel-nempel sama cewek lain. Emang lu ngijinin?"


Vanya menyikut perut Haidar. "Hih! Mulutnya!!"


"Astaga Va.. Bisa ga sih sehari aja ga nyakitin gua. Gua ni calon suami lu loh.. Kalo kita udah nikah, nanti ini masuknya dalam kategori kekerasan dalam rumah tangga loh ini.."


Vanya seketika saja terkekeh geli, dia menyandarkan kepalanya pada dada bidng Haidar.


"Kalo kayak gitu ya tinggal di laporin aja.. Nanati gua putar balikan fakta, anggap aja gua ngasih pembelaan diri."


Tangan Haidar terangkat untuk mencubit pipi Vanya dengan gemas.


"Otaknya emang lancar ya.."


"Kalo ga gitu, lu ga mungkin suka sama gua."


"Iya juga sih.."


Mereka seketika saja tertawa renyah, mereka menikmati moment indah itu dengan di penuhi canda tawa.


Tanpa mereka sadari kalau Bagas sedari tadi sudah memperhatikan mereka. Bagas yang berniat memanggil Vanya dan Haidar untuk makan malam, mengurungkan niatnya saat melihat Haidar yang sudah memeluk Vanya.


Jujur saja, Bagas merasa sedikit cemburu pada Haidar karena pria itu bisa begitu dekat dengan Vanya.


Namun, meskipun begitu. Bagas sangat bersyukur karena Vanya bisa bertemu dengan pria yang begitu mencintai dan menyayanginya.


Yaaaa.. Setidaknya, Vanya bisa merasakan kasih sayang dari seorang pria. Anggap saja itu menggantikan kasih sayang dari Bagas yang tidak bisa Bagas berikan pada Vanya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2