
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Haaahhh... Haaahh.. Haaah..." Nisa mengatur nafasnya yang sangat tersengal-sengal.
Gadis itu menunduk untuk memegang kedua lututnya yang terasa lemas agar dirinya mampu menopang berat beban tubuhnya sendiri.
Tapi tidak dengan Haidar, karena dia yang memang dasarnya seorang pemain basket, dia tampak bernafas dengan normal seperi biasanya. Padahal, dia berlari lebih cepat dari pada Nisa. Tapi, dia justru terlihat biasa saja seolah tidak sehabis berlari.
Sedangkan Winda, dia yang mulai bisa menormalkan nafasnya pun hanya bisa kembali menundukkan kepalanya tat kala Haidar menatapnya dengan sangat tajam.
Setelah Nisa berhasil mengatur nafasnya, gadis itu kemudian melangkah mendekati Winda.
Haidar yang melihat itu pun hanya diam dan memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh Nisa. Karena dia pikir, akan lebih baik jika Nisa saja yang berbicara dengan Winda.
Melihat Winda yang juga merasa kelelahan, Nisa lantas memutuskan untuk duduk bersila di hadapan gadis itu.
"Win.. Lu tau kan siapa gua sama cowok yang berdiri di sana itu?" Tanya Nisa kemudian.
Winda menganggukkan kepalanya perlahan.
"Tunggu dulu, ganti deh pertanyaannya.. Lu kenapa lari ngehindarin kita?" Nisa mencoba untuk bersikap tenang.
Namun, Winda hanya menundukkan kepalanya seolah enggan untuk menjawab pertanyaan Nisa.
"Win.. Gua masih nyoba buat ngomong baik-baik sama elu.." Nisa menekankan setiap perkataannya.
Namun tetap saja, Winda tidak memberikan respon apa pun.
Nisa yang mulai merasa kesal pun menghela nafasnya guna mengendalikan emosinya.
"Ok, gua bakal langsung ke intinya aja.." Nisa masih berusaha untuk mengontrol nada suaranya.
"Winda.. Dengerin gua.. Gua ga tau apa yang sebenernya terjadi kemaren antara elu dan Vanya.. Tapi hari ini, Vanya ilang.. Dia bahkan ga ikut ujian kelulusan.. Lu tau kan kalo ujian kelulusan ini berhubungan sama masa depannya dia? Jadi gua minta sama lu, jawab sejujur-jujurnya.. Lu tau ga, Vanya ada di mana? Masih ada waktu buat Vanya memperbaiki ketertinggalan dia hari ini." Tutur Nisa dengan se tenang mungkin.
Setelah menunggu untuk beberapa saat, Winda pun akhirnya mengangkat wajahnya untuk menatap Nisa.
"Gua ga tau kak.." Winda berkata dengan lirih.
__ADS_1
Nisa kembali menghela nafasnya. "Kalo lu ga tau, terus lu kenapa lari ngehindarin gua sama Haidar?"
Winda yang tidak tau harus mengatakan hal apa pun hanya bisa kembali menundukkan kepalanya.
Yang mana, hal itu seketika membuat Nisa memejamkan matanya sejenak guna menahan emosinya.
"Winda, please.. Gua mohon sama elu.. Bilang yang sejujur-jujurnya!"
"Tapi gua beneran ga tau apa-apa kak.." Winda menyahut tanpa mengangkat wajahnya, dia sedikit takut untuk menatap Nisa.
"Kalo lu ga tau apa-apa, terus kenapa tas Vanya ada di elu, hah!! Vanya bukan orang ceroboh yang bakalan ninggalin barang-barangnya di sembarang tempat!!" Nisa kini mulai sedikit meninggikan suaranya.
Karena sungguh, melihat Winda yang terlalu bertele-tele benar-benar membuay Nisa tidak kuasa lagi menahan emosinya.
Mendengar apa yang baru saja di katakan Nisa, seketika membuat Winda melirik tas yang tergeletak di samping kirinya.
"Ini bukan tasnya kak Vanya, ini tas punyaku sendiri.. Yang make tas kayak gini ga cuma kak Vanya doang.." Winda berusaha untuk mengelak.
"Lu piki gua bodoh karena ga bisa ngenalin barang punya sahabat gua sendiri!! Toh kalo ini emang tas elu, buat apa lu bawa 2 tas ke sekolah? Terlebih lagi ini bukan tas buat sekolah!!" Nisa kini benar-benar sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya.
Nisa kemudian hendak meraih tas itu. Namun, Winda sudah lebih dulu meraih tas itu kemudian menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
Nisa yang melihat hal itu pun kini menatap Winda dengan sangat tajam. Gadis itu lantas merebut paksa tas itu dari tangan Winda.
Awalnya, Winda pikir Nisa akan membuka tas itu. Namun salah, hal yang pertama kali Nisa lakukan bukanlah membuka tas itu. Melainkan membuka gantungan berupa boneka kecil yang terpasang pada tas itu.
Yang mana, hal itu seketika membuat Winda memperhatikan apa yang akan di lakukan Nisa pada boneka itu dengan sangat penasaran.
Hingga ketika Nisa menyingkap pakaian yang di kenakan boneka itu dan membuka retsleting yang tertutupi oleh pakaian boneka itu, Winda merasa sangat terkejut karena di dalam boneka itu terdapat inhaler / obat untuk sesak nafas.
Mendapatkan apa yang dia maksud, Nisa lantas menoleh pada Haidar yang kini tengah menatap inhaler itu dengan tatapan terkejut.
"Kak Vanya punya asma?" Winda bertanya kemudian dengan wajah yang sedikit melongo karena masih merasa sedikit terkejut.
Namun, bukan jawaban yang dia terima. Melainkan Haidar yang mendekat ke arahnya dengan langkah lebar.
Pria itu lantas menunduk untuk mencengkram leher Winda menggunakan tangan kirinya hingga membuat Winda merasa sedikit susah untuk bernafas.
Haidar menatap Winda dengan sangat tajam. "Di mana Vanya?" Pria itu bertanya dengan suaranya yang sangat dingin.
Namun, Winda yang memang merasa sedikit kesulitan untuk berbicara karena cengkraman Haidar pada lehernya sangat kencang pun, hanya bisa memegang tangan kiri Haidar menggunakan kedua tangannya dengan mulut yang terkatup rapat.
__ADS_1
"Di mana Vanya?" Haidar semakin memperkuat cengkramannya pada leher Winda.
Tidak kuat lagi menahan, Winda lantas segera mengeluarkan kunci galeri yang ada di dalam tasnya kemudian menyerahkan kunci itu pada Nisa dengan harapan Haidar segera melepaskan cengkramannya.
Namun sayangnya, Haidar justru semakin mempererat cengkramannya. Yang mana hal itu kini mulai membuat Winda benar-benar kesulitan untuk bernafas hingga wajah Winda kini mulai terlihat memerah.
Melihat hal itu, seketika membuat Nisa segera meminta Haidar untuk melepaskan leher Winda dari cengkramannya. Terlebih lagi, mereka sudah mendapatkan apa yang menjadi tujuan mereka.
"Dar, Dar, Dar.. Mati nanti anak orang!!" Nisa menarik tangan Haidar yang tak kunjung melepaskan leher Winda.
Meskipun enggan, Haidar pun menghempaskan leher Winda dengan sedikit kasar.
Pria itu kembali menegakkan tubuhnya kemudian menatap Nisa dengan sangat nyalang. "Apa peduli gua kalo dia mati?? Gua aja ga tau sekarang Vanya di mana dan masih hidup apa engga!!"
"Aarrgghh!!!" Haidar mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
"Apa salahnya kalo dia mati? Dia aja udah berani ngebunuh anak yang ada di kandungannya tante Ayu!! Sampe-sampe tante Ayu ga bisa hamil lagi!! Jadi biarin aja kalo dia mati!!" Winda berkata dengan sangat berani.
Yang mana, hal itu seketika membuat Nisa tertawa dengan sangat miris.
"Ah, haha.. Haha.. Haa.. Jadi elu emang beneran keponakannya perempuan itu.." Nisa berkata dengan senyum sinis yang dia tunjukkan untuk Winda.
Sedangkan Haidar, dia yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pun seketika menatap Nisa dan Winda dengan di penuhi rasa kebingungan.
"Emang bener ya.. Kalo emang dasarnya orang itu udah jahat, mau sampai kapan pun juga tetep bakalan jadi orang jahat.. Udah ga akan pernah bisa lagi berubah jadi orang baik.. Bahkan setelah dia nerima karma dari apa yang udah dia perbuat aja tetep jadi jahat.. Heh.. Parah sih!!" Nisa lantas menatap Winda dengan tatapan sinisnya.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Nisa, lantas membuat Winda menatap Nisa dengan sedikit bingung.
"Maksud kakak apa?" Gadis itu bertanya dengan nada suara yang kembali normal.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..