Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Rasa Syukur Vanya


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelumnya..


"Benar begitu Vanya?" Bu Laila bertanya kemudian menatap Vanya.


Namun, ketika Vanya hendak menjawab pertanyaan Bu Laila, kalimatnya harus dia telan kembali ketika mendengar seseorang kini tengah mengetuk pintu BK yang tertutup.


*****


Bu Laila lantas membuka pintu lalu sedikit mengernyitkan dahinya tat kala melihat orang yang mengetuk pintu itu adalah Haidar.


"Ada apa?" tanya Bu Laila.


"Sebelumnya maaf kalo saya lancang.. Tapi, kayaknya lebih baik kalo Ibu keluar dulu," ucap Haidar.


Bu Laila pun menuruti permintaan Haidar, wanita itu keluar dari ruangan BK lalu menutup pintu.


Haidar lantas menyerahkan sebuah ponsel pada Bu Laila.


"Di situ ada vidio lengkap dari awal kejadian sampe akhirnya Ibu dateng," Haidar berkata setelah Bu Laila menerima ponsel itu.


Bu Laila pun segera memutar vidio yang di maksud oleh Haidar.


Setelah menonton Vidio itu, Bu Laila seketika menghela nafasnya. Wanita itu tidak habis pikir, bisa-bisanya seorang gadis terpelajar seperti Rina melakukan hal yang tidak terpuji seperti itu.


Karena ya, mau tidak mau, dia juga harus mengakui satu hal. Meskipun Rina adalah gadis yang memang sedikit bermasalah, gadis itu tetaplah seorang gadis pintar yang selalu mendapat nilai di atas rata-rata.


Bu Laila lantas menyerahkan kembali ponsel itu pada Haidar. "Ini kamu yang nge vidioin?" tanya Bu Laila.


Haidar menggelengkan kepalanya. "Bukan Bu."


"Terus?"


Flashback On..


Ketika Haidar, Angga, dan Nisa hendak masuk ke dalam kelas mereka masing-masing, tiba-tiba saja Tania berlari menghampiri mereka.


Tania berhenti tepat di depan Nisa lalu memegang lututnya yang terasa lemas karena sehabis berlari. "Tunggu.. Tunggu dulu.. Jangan masuk kelas dulu.. Gua, ini nih ini.. Aduh, gua capek.." gadis berkata dengan nafas yang tersengal-sengal seraya mengulurkan ponselnya pada Nisa.


"Kalem oy kalem, tarik nafas dulu baru ngomong" ucap Nisa lalu memperagakan cara mengatur nafas.


Tania lantas menegakkan tubuhnya kemudian mulai mengatur nafasnya. "Ini ambil," gadis itu kembali mengulurkan ponselnya pada Nisa. "Gua tadi sempet nge vidioin kejadiannya dari awal sampe akhir. Tadinya gua mau ngasih tau sendiri ke Bu Laila. Tapi ga jadi, soalnya gua ada jadwal ujian praktek. Jadi mending lu aja yang ngasihin."

__ADS_1


Nisa lalu menerima ponsel itu sengan senyum lebar yang terpatri di wajahnya. "Aaaaa, makasih banget.. Sayang banyak-banyak deh buat elu pokoknya.. Besok makan siang gua yang traktir, ok..." ucap Nisa.


Tania seketika mengibaskan tangan kirinya. "Alah.. Gampang itu mah.. Toh pas kita sekelas juga kan si Vanya udah banyak bantuin gua buat belajar. Yaudah ya, gua tinggal dulu.. Entar hpnya gua ambil sepulang sekolah.. Bye.."


Tania pun segera berlalu pergi dari sana.


Nisa kemudian menyerahkan ponsel itu pada Haidar. "Nih, lu aja yang ngasih.. Gua mau belajar, biar pinternya bisa nyaingin Vanya"


Setelah Haidar menerima ponsel itu, Nisa pun segera masuk ke dalam kelas.


Haidar lantas menatap Angga yang terlihat menganggukkan kepalanya kemudian berlari menuju ruang BK.


Flashback Off..


"Yaudah, kalo gitu Ibu masuk lagi. Kamu buruan balik ke kelas, pelajarannya pasti udah di mulai. Makasih ya udah ngasih tau Ibu." Ucap Bu Laila.


Haidar pun menganggukkan kepalanya. "Sama-sama Bu."


Setelahnya, Bu Laila pun masuk kembali ke dalam ruang BK.


Bu Laila lantas menatap Rina untuk beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Rina yang samar-samar mendengar percakapan antara Bu Laila dan Haidar pun seketika semakin menundukkan kepalanya.


"Sia..lan emang, siapa yang udah berani-beraninya nge vidioin kejadiannya!!" Rina menggerutu di dalam hatinya.


Vanya pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Yaudah, kamu boleh masuk ke kelas," ucap Bu Laila.


"Baik Bu, makasih," ucap Vanya kemudian berlalu pergi dari sana tanpa menghiraukan Rina yang kini tengah meliriknya dengan sinis.


*****


Saat Vanya berada di depan pintu kelasnya, tangan gadis itu terangkat untuk mengetuk pintu yang tertutup.


"Misi Bu, saya boleh masuk?" Vanya bertanya pada Miss Tata yang sudah membukakan pintu.


Miss Tata menatap murid kesayangannya itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum lembut lalu berkata. "Mending obatin luka kamu dulu di UKS gih.. Ibu juga cuma ngadain kuis kok, jadi kamu ga usah takut ketinggalan pelajaran."


"Apa ga papa bu?"


"Ga papa, udah sana, dari pada nanti lukanya infeksi. Itu juga kepala kamu, basah gitu masa ga di keringin dulu.. Kalo kamu sakit, nanti ga ada yang bantun ibu bikin soal kuis."


Vanya lantas mengembangkan senyumnya. "Makasih Bu," ucap gadis itu lalu menundukkan kepalanya kemudian berlalu pergi menuju UKS dengan senyum kecil yang terpatri di wajahnya.


Gadis itu melangkah seraya mengucapkan rasa syukur di dalam hati karena ternyata banyak orang yang menyayanginya. Gadis itu juga berjanji di dalam hatinya. Setelah ini, dia akan berusaha lebik baik lagi dalam menjalani kehidupannya.

__ADS_1


Sesampainya di UKS, setelah meminta ijin pada guru penjaga. Vanya segera meraih handuk kecil yang biasanya di gunakan untuk mengompres, lalu mulai mengeringkan rambunya seraya mencari kotak P3K yang dia butuhkan untuk mengobati lukanya.


Namun, gadis itu menghela nafasnya tat kala melihat letak kotak P3K itu berada di tempat yang cukup sulit untuk di gapainya.


"Haaah.. Kenapa badan gua tingginya cuma 160 cm sih.." gadis itu menggerutu seraya menatap kotak P3K itu dengan tatapan malas.


"Lu ga pendek, cuma kurang tinggi aja"


Teya seketika menoleh pada Haidar yang kini tengah berdiri di ambang pintu.


"Lu ngapain di sini?" Vanya bertanya dengan sedikit sinis.


Haidar mengangkat bahunya acuh. "Ga salah kan kalo gua khawatir sama calon pacar gua."


"Cih, PD banget.." Gadis itu bergumam seraya memperhatikan Haidar yang kini berjalan ke arah kotak P3K.


Setelah meraih kotak P3K itu, Haidar lantas menghampiri Vanya lalu menarik gadis itu agar duduk di tepian brankar.


"Taro aja, gua bisa sendiri," ucap Vanya.


Haidar menggelengkan kepalanya. "Udah, duduk diem, biar gua yang ngobatin. Lagian mana bisa lu liat bibir lu sendiri." pria itu berkata seraya mulai menuangkan cairan alkohol di atas selembar kapas.


"Kalo mata lu masih normal, harusnya lu bisa liat kalo di samping lemari obat ada kaca segede gaban."


Haidar lantas menolehkan kepalanya pada lemari yang di maksud Vanya. "Mana? Ga ada.. Ga keliatan, itu kacanya goib paling.."


Vanya seketika memutar bola matanya malas. Vanya sedikit merasa heran pada Haidar. Kenapa sikap dingin pria itu selalu berubah 180° jika berhadapan dengannya. Yang mana, hal itu membuat Vanya merasa sedikit frustasi.


"Haaahh, terserahlah.." Ucap Vanya kemudian menutup mulutnya rapat-rapat saat Haidar mulai membersihkan lukanya.


Karena selain Vanya merasa sedikit lelah untuk berdebat, menentang keinginan pria itu pun percuma. Pria itu tetap akan melakukan segala cara agar Vanya mau menerima bantuannya. Jadi, dari pada membuang-buang tenaganya, Vanya lebih memilih untuk diam.


Vanya yang terlalu fokus menatap ke depan pun tidak menyadari jika kini Haidar tengah menatapnya dengan sangat intens.


Hingga tiba-tiba saja...


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2