Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Cinta Haidar Untuk Vanya


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah Haidar bersusah payah membujuk Vanya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Haidar pun akhirnya mengetahuinya.


Lalu, tanpa berpikir panjang lagi, Haidar pun memutuskan untuk berhenti dari masa PKL nya saat itu juga.


Awalnya, Haidar ingin memberikan pelajaran pada Wulan atas apa yang telah gadis itu perbuat. Namun, Vanya melarang keras niat Haidar untuk melakukan hal itu. Vanya beralasan, dia sudah tidak ingin lagi berurusan dengan gadis itu.


Saat Haidar mengajukan surat pemberhentian masa PKL nya dan Vanya yang tinggal 1 minggu lagi, Tomi sempat bertanya apa alasannya. Namun, Haidar tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi karena Vanya melarangnya.


Jadi, Haidar hanya memberikan alasan dengan nilai yang dibutuhkan mengenai masa PKL mereka sudah lebih dari cukup.


Dan ya, Tomi pun hanya bisa menyetujuinya. Toh juga Tomi tidak memiliki hak untuk melarang Haidar mau pun Vanya karena mereka bukan lah karyawan tetap di perusahaan tempatnya bekerja.


Ya meskipun Tomi sedikit enggan melepaskan Haidar dan Vanya karena hasil kinerja mereka yang cukup bagus, namun mau tidak mau Tomi tetap tidak bisa menahan mereka.


Yang Tomi bisa lakukan hanyalah meminta mereka untuk kembali bekerja jika mereka sudah lulus nanti.


Tapi, Tomi tidak terlalu kecewa. Karena kalian juga sudah tentu mengetahui kalau Vanya mengambil job freelance di PT. Rumah Linux yang Tomi tawarkan. Jadi, setidaknya, Tomi masih bisa merasakan hasil dari kinerja Vanya.


Lalu, untuk Wulan sendiri. Setelah kejadian itu, Vanya mau pun Haidar sama sekali tidak mengetahui keadaan gadis itu. Karena di saat Haidar mengajukan pemberhentian masa PKL nya, dia sama sekali tidak melihat tanda-tanda keberadaan gadis itu.


Tapi, Haidar dan Vanya sama sekali tidak peduli bagaimana keadaan gadis itu. Yang terpenting sekarang, sudah tidak ada lagi orang yang akan mengganggu hubungan mereka.


Saat ini, Haidar dan Vanya tengah bersiap untuk berkunjung ke rumah Haidar demi memenuhi permintaan Andi tempo hari.


Sebenarnya, bisa saja mereka berkunjung ke sekolah.. Namun, apa yang akan mereka lakukan di sana. Karena ya, kegiatan belajar mengajar seperti hari-hari biasanya akan di lakukan dalam waktu 1 minggu lagi.


Jadi, dari pada mereka menghabiskan waktu hanya dengan berdiam di diri di rumah, lebih baik Haidar mengajak Vanya untuk berkunjung ke rumahnya.


Setelah Haidar selesai memakai sepatunya, Haidar pun melangkah menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya kemudian menyendarkan tubuhnya pada daun pintu, pria itu menatap Vanya yang masih duduk di depan meja rias. Meja rias yang belum lama ini sengaja Haidar beli untuk Vanya karena gadis itu kini sering menginap di apartmentnya.


"Masih lama ga Va?" Tanya Haidar kemudian.


Vanya lantas melirik Haidar menggunakan ekor matanya melalui pantulan cermin rias yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Udah sih.. Tapi, kok gua tiba-tiba nervous ya.." Gadis itu berkata dengan wajah yang terlihat sedikit memelas.


Yang mana, hal itu seketika membuat Haidar terkekeh geli.


"Tumben lu nervous, ga biasanya kayak gitu.. Udah, slow aja.. Bokap gua baik kok.." Pria itu berusaha menenangkan Vanya.


Vanya mencebikkan bibirnya. "Tapi kan tetep aja.."


"Udah ah ga usah tapi-tapian, ayok berangkat.. Keburu siang, udh jam 9 nih.."


Vanya pun akhirnya mau tidak mau beranjak dari sana meskipun sedikit enggan. Gadis itu melangkah mendekati Haidar dengan langkah yang sedikit gontai.


"Kalem napa kalem.. Kek mau ketemu sama presiden aja.."


Haidar merangkul bahu Vanya menggunakan tangan kanannya dengan sedikit erat.


Gadis itu menghela nafasnya kemudian melepaskan rangkulan Haidar pada bahunya, dia lalu meraih sepatu kets yang akan di kenakannya.


"Udah nyoba buat kalem ini itu.. Tapi ga tau kenapa ya, jantung gua dari tadi dag dug dag dug terus.. Masih baik ketemu presiden, cukup nyapa abis itu pergi.. Lah ini.." Gadis itu menggerutu seraya memakai sepatunya.


Haidar mengembangkan senyum kecilnya. "Apa kita perlu ke rumah sakit dulu buat ngobatin jantung lu?"


Karena harus kalian ketahui, membuat Vanya salah tingkah seperti ini adalah hal yang sangat sulit untuk di lakukan oleh Haidar. Bahkan 10 jari tangan Haidar saja masih tersisa jika di gunakan untuk menghitung berapa kali dia bisa membuat Vanya salah tingkah seperti ini.


Karena seperti kalian kethui, Vanya merupakan gadis yang memiliki hati sekeras batu besar yang tidak akan pecah hanya karena di lemparkan atau di jatuhkan. Batu yang hanya akan bisa di pecah menggunakan palu besi, itu pun kalian harus menggunakan alat bantu berupa pemecah batu.


Secara tidak langsung, Vanya merupakan gadis yang sangat sulit untuk di ambil atu pun di ketuk hatinya. Gadis itu benar-benar tipikal gadis yang hampir tidak memiliki empati.


Tidak hanya itu saja, bahkan hingga saat ini pun, Haidar sama sekali tidak tau apa yang selalu ada di pikiran Vanya. Gadis itu benar-benar sangat sulit untuk di baca. Haidar hanya bisa mengetahui apa yang di rasakan atau apa yang di pikirkan gadis itu jika Haidar bertanya. Tanpa bertanya, Haidar benar-benar tidak tau apa-apa.


Namun, Haidar tetap bersabar dalam menghadapi Vanya. Karena ya, sudah pasti kalian ketahui, Haidar benar-benar tergila-gila pada gadis itu. Jadi, se keras apa pun hati gadis itu. Haidar tidak akan pernah menyerah untuk menghadapinya.


Bagi Haidar sendiri, menghadapi sifat Vanya yang seperti itu merupakan tantangan besar yang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menghadapinya.


Jadi, Haidar tidak akan pernah menyia-nyiakan Vanya begitu saja. Haidar bahkan berjanji di dalam hatinya, di tidak akan pernah melepaskan Vanya. Haidar akan melakukan segala hal agar gadis itu tetap berada di sampingnya.


Kecuali jika suatu saat nanti gadis itu sendiri yang meminta untuk Haidar melepaskannya, maka Haidar mau tidak mau akan melepaskan Vanya. Karena ya, Haidar tidak ingin menjadi penghalang terbesar untuk Vanya meraih kebahagiannya sendiri.


Haidar akan ikut bahagia jika Vanya merasa bahagia, walaupun kebahagian Vanya tidak berasal dari Haidar. Begitu besarnya cinta Haidar untuk Vanya hingga Haidar rela melakukan hal apa pun.

__ADS_1


Melihat Haidar yang hanya terdiam seraya menatapnya dengan hampir tidak berkedip, lantas membuat Vanya mengernyitkan dahinya.


"Dar.." Vanya mencoba untuk membuyarkan lamunan Haidar.


"Oiy Dar.."


Namun Haidar sama sekali tidak merespon.


Vanya lantas mendekati Haidar, gadis itu menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Haidar.


"Heeeey... Sadar oiiy.."


Haidar pun sedikit berjengkit karena merasa terkejut.


"Eh ya, ada apa? Lu ngomong apa?"


"Ck, siapa yang ngomong.. Lu tuh ya ngalamun.."


Haidar seketika mengusap tengkuknya. "Ya maap.."


Vanya lantas bersedekap dada seraya menatap Haidar dengan menaikkan sebelah alisnya. "Ngelamunin apa sih?"


"Ga ada.." Haidar menggelengkan kepalanya. "Udah kan, ayok.."


Pria itu merangkul bahu Vanya kemudian menuntun gadis itu untuk segera pergi menuju rumahnya guna bertemu dengan Andi.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2