Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Peringatan


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mendengar suara langkah sepatu yang menuruni tangga, seketika membuat Andi sedikit menurunkan koran yang tengah di bacanya. Pria itu mengembangkan senyum kecilnya tat kala melihat Haidar yang sudah berpakaian rapi seperti biasanya.


"Kamu udah mau berangkat ke kantor?" Andi bertanya pada Haidar yang sudah duduk di meja makan.


Haidar menganggukkan kepalanya. "Rencananya sih berangkat, siapa tau Vanya juga berangkat. Kalo dia masih ga berangkat ya udah, Haidar juga bolos aja. Mending nyari Vanya dari pada nanti jadi kerjanya ga fokus." Pria itu berkata seraya mulai melahap sarapannya yang sudah di sediakan.


Andi yang mendengar hal itu pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sedikit tidak menyangka jika anaknya kini benar-benar sedang di mabuk cinta.


"Mau papah bantu nyari ga?" Tanya Andi kemudian.


Haidar seketika mengangkat wajahnya untuk menatap Andi. "Emang papah bisa?"


"Sebenernya sih papah udah tau Vanya ada di mana." Andi menyahut dengan acuh tak acuh.


Haidar kini mengernyitkan dahinya. Dia merasa sedikit sanksi pada apa yang baru saja di katakan oleh Andi. "Papah tau dari mana?"


"Kamu lupa sama apa yang papah bilang semalem? Mata sama telinga papah itu ada di mana-mana."


Haidar yang baru memahami apa yang di maksud oleh Andi pun seketika menatap Andi dengan menaikkan sebelah alisnya. "Bentar dulu, jangan bilang kalo selama ini papah ngawasin pergerakan Haidar."


Andi mengangkat bahunya acuh kemudian melipat korannya. "Engga ngawasin, cuma merhatiin." Pria itu berkata seraya meletakkan koran itu di atas meja.


"Papah cuma mau mastiin keselamatan kamu aja. Kalo misalnya nanti di jalan kamu di rampok atau di begal, kalo papah ga nyuruh orang buat ngawasin kamu, siapa nanti yang mau nolong kamu? Ya meskipun papah percaya kalo kamu bisa jaga diri, tapi namanya juga orang tua, mau gimana pun juga tetep ngerasa khawatir. Papah tuh udah kehilangan istri sama anak bungsu papah, masa iya papah harus kehilangan anak sulung papah.."


Meskipun Andi berbicara dengan nada yang begitu santai, tapi ketahuilah, hal itu mampu membuat hati Haidar merasa sedikit tercubit. Yang mana, hal itu juga mampu membuat kalimat protesan yang hendak di layangkan Haidar tiba-tiba saja hilang entah kemana.


"Terserah papah aja.." Ucap Haidar kemudian.


Andi lantas menatap Haidar dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kamu ga mau protes?"

__ADS_1


Haidar menggelengkan kepalanya. "Tapi, apa papah juga ngawasin Vanya?"


Andi menganggukkan kepalanya. "Buat jaga-jaga aja.. Yang namanya musibah kan ga ada yang tau.. Kamu juga kan belum bisa sama dia selama 24 jam full.. Ya kecuali kalo dia nginep di apartment kamu, itu udah pasti full 24 jam."


"Uhuk.. Uhuk.." Haidar seketika tersedak makanannya. Pria itu memukul-mukul dadanya secara perlahan seraya mulai meneguk segelas air mineral.


Andi yang melihat hal itu pun hanya bisa menghela nafasnya. "Heeeehhmm, dasar anak muda.." Pria itu lantas beranjak dari duduknya. "Udah sana berangkat.. Kalo Vanya ga ada di kantor, datengin aja rumah temennya. Dari awal kalian berantem juga dia ada di sana." Andi kemudian berlalu pergi dari sana.


Meninggalkan Haidar yang menatap punggung Andi dengan sedikit heran. Bagaimana bisa papahnya bersikap se santai ini?


Namun, Haidar segera mengenyahkan pikirannya itu kemudian segera menyelesaikan sarapannya.


Setelah menyelesaikan sarapannya Haidar pun beranjak dari duduknya untuk segera berangkat ke kantor. Pria itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, berharap hari ini Vanya akan datang ke kantor.


Namun, setibanya di kantor, Haidar harus menelan kekecewaan tat kala tidak melihat tanda-tanda keberadaan Vanya.


Saat Haidar hendak kembali menuju tempat dia memarkirkan mobilnya, langkahnya terhenti tat kala Wulan menghalangi jalannya.


"Dar, gua mau ngomong sama lu."


"Ga ada yang perlu gua omongin sama lu." Haidar menyahut dengan sangat dingin.


Namun, Haidar tidak menghiraukannya. Pria itu memilih untuk melanjutkan langkahnya.


Wulan yang melihat hal itu pun segera nengejar langkah Haidar seraya berkata. "Dar, tolong jangan marah sama gua.. Gua, gua cuma ga bisa ngendaliin perasaan gua. Tapi kalo buat masalah yang di parkiran, gua ga bakalan minta maaf karna gua ngelakuinnya secara sadar dan atas kehendak gua sendiri. Dar.. Gua beneran sayang sama elu.. Tolong jangan cuekin gua.. Gua ben.."


Kalimat Wulan seketika terhenti tat kala Haidar menghentikan langkahnya kemudian menatapnya dengan sangat tajam.


"Jangan pernah ganggu kehidupan gua atau kehidupan Vanya lagi!! Kalo Vanya sampe ga mau maafin gua dan hubungan gua sama Vanya berakhir. Lu bakalan tau akibatnya!" Haidar berkata dengan suaranya yang terdengar sangat dingin hingga membuat Wulan merasa sedikit gugup.


Namun, Wulan segera menekan rasa gugupnya itu kemudian menatap Haidar dengan tatapan sendu. "Kok lu jadi ngancem gua sih..."


"Ini bukan anceman, tapi peringatan. Dan lu juga harus inget, gua berasal dari keluarga Oktavio.. Jadi, bukan hal susah buat gua ngehancurin kehidupan lu maupun kehidupan keluarga lu. Camkan itu baik-baik!" Haidar pun melanjutkan kembali langkahnya.


Pria masuk ke dalam mobilnya kemudian segera melajukan mobilnya. Meninggalkan Wulan yang kini mulai terisak kecil.

__ADS_1


Gadis itu lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Setelah panggilan itu tersambung, Wulan pun berkata seraya menangis tersendu-sendu. "Taaaan, hubungannya jadi ancur berantakan kayak gini.."


*****


Kembali ke sisi Haidar...


Setelah meredam emosinya, Haidar pun mulai memelankan laju mobilnya. Haidar sedikit tidak menyangka jika gadis dengan kepribadian lemah lembut seperti Wulan akan bertindak senekat itu. Terlebih lagi, dari informasi yang Haidar dapatkan, Wulan merupakan seorang gadis yang berasal dari keluarga baik-baik yang sangat taat pada agamanya.


Memikirkan hal itu, seketika membuat Haidar teringat kembali akan perkataan Andi semalam. -Banyak orang baik yang berasal dari keluarga buruk, dan banyak orang buruk yang berasal dari keluarga baik-


Haidar pun kini hanya bisa menghela nafasnya, berharap agar Wulan tidak lagi mengusik hubungannya dengan Vanya. Pria itu lantas kembalu menambah kecepatan laju mobilnya agar segera sampai di kediaman Nisa.


Mengingat nama Nisa, seketika membuat Haidar berdecih kecil karena tiba-tiba teringat kembali akan perkataan Andi sebelum dia berlalu pergi.


"Jadi, dari awal Vanya ada di sana?" Pria itu bergumam dengan wajah tidak percayanya.


"Mereka emang bener-bener sahabatan.."


Haidar pun hanya bsia menyunggingkan senyum tidak percayanya. Merasakan betapa bodohnya dia karena bisa dengan mudahnya di bohongi oleh Nisa.


Seharusnya Haidar sadar sejak awal, tidak mungkin Vanya pergi ke tempat lain selain tempat tinggal Nisa.


Haidar pun kini hanya bisa menertawakan kebodohannya itu seraya menambah kecepatan laju mobilnya. Dirinya benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu dengan Vanya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2