
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jika hanya penderitaan yang akan kau berikan padaku, maka lepaskan aku dari semua belenggu jeratanmu"
^^^Ivanya Basudewi^^^
*****
Satu setengah tahun berlalu, kini Vanya sudah menduduki bangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama. Beberapa hari setelah kejadian Ayu jatuh dari tangga hingga menyebabkan janinnya keguguran, Sinta yang juga kebetulan tinggal di jogja, pernah 1x meminta Vanya agar hidup bersamanya. Namun, karena ke egoisan Bagas, Bagas menentang keras hal itu. Karena menurutnya, tidak akan ada orang lain yang bisa mengurus Vanya dengan benar.
Tapi, ucapan dan tindakannya sungguh sangat lah bertolak belakang. Karena setelah kejadian itu, hingga saat ini Bagas sama sekali tidak menegur atau pun menyapa Vanya.
Begitu pula dengan Ayu. Setelah kejadian itu, wanita yang menjadi ibu tirinya itu kini semakin gencar menyiksa Vanya. Ditambah lagi, Ayu juga kini mulai berani bermain fisik kepada Vanya. Membuat Vanya acap kali membolos dari sekolah akibat luka-luka lebam yang di milikinya.
Tidak hanya itu saja, kerap kali Ayu mengurung Vanya di gudang belakang rumah. Gudang yang hanya berukuran 2x2, juga dengan berbagai jenis barang-barang yang memenuhi ruangan itu.
Ketahuilah, Ayu akan mengurung Vanya di dalam gudang itu tidak kurang dari 3 jam. Tak ayal, hal itu menyebabkan Vanya memiliki sedikit trauma terhadap ruang sempit dan kegelapan.
Dan yang lebih parahnya, Bagas seperti sengaja membiarkan hal itu terus saja terjadi. Bagas seakan tidak peduli akan bagaimana nasib Vanya. Bahkan, ketika Bagas melihat Vanya yang penuh dengan luka, Bagas seakan membutakan penglihatannya.
Namun, Vanya lagi-lagi hanya bisa pasrah. Karena jika dia melawan, dia tidak tau lagi harus bernaung pada siapa.
Contohnya seperti sekarang ini, Vanya memutuskan untuk kembali membolos karena memliki luka yang cukup lebam di pipinya. Dia hanya tidak ingin sampai orang-orang mengetahui jika hidupnya tersiksa, biarlah Vanya sendiri yang merasakannya.
Bahkan, Nisa pun juga tidak tahu jika Vanya kerap kali mendapatkan siksaan secara fisik. Sebisa mungkin Vanya berusaha untuk menutupinya. Meskipun Vanya tau jika Nisa mungkin mengetahui tentang apa yang sedang di alaminya.
Mengingat hal itu, seketika membuat Vanya menghela nafasnya dengan sangat berat. Vanya yang sedang berbaring itu sekilas melirik jam yang tertempel di dinding. Melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 08.00, Vanya kembali menghela nafasnya. Seharusnya, sekarang dia sudah membersihkan rumah. Namun, berhubung kepalanya yang masih saja berdenyut, Vanya sedikit enggan untuk beranjak dari kasurnya.
Hingga tak lama kemudian, terdengar Ayu yang menggedor-gedor pintu kamarnya.
"Heh pemalas, keluar kamu!! Bukannya bersihin rumah kok malah enak-enakan tidur!! Cepet keluar!!!" Ayu berteriak dengan masih menggedor-gedor pintu kamar Vanya.
__ADS_1
Vanya yang mendengar itu lagi-lagi menghela nafasnya dengan pasrah. Kali ini, biarkan dia sedikit menentang Ayu. Vanya sudah terlalu lelah jika harus terus menunduk di bawah kaki wanita itu.
Namun, saat Vanya akan memejamkan matanya, dia seketika terkejut karena Ayu yang membuka kamarnya dengan paksa. Vanya lebih terkejut lagi ketika Ayu mendekatinya lalu menggeretnya keluar dengan menjambak rambutnya.
"Ampun mah.. Vanya masih capek, Vanya mau istirahat sebentar" ucap Vanya seraya menggenggam tangan Ayu yang sedang menjambak rambutnya.
"Istirahat istirahat terus!! Semaleman udah istirahat, apa masih kurang?? Hah!!!!"
"Mah jangan mah, Vanya mohon, Vanya bakalan beres-beres mah.. Jangan kurung Vanya lagi" Vanya memohon ketika Ayu menyeretnya ke arah gudang belakang.
"Ga!!! Kamu harus bener-bener di kasih pelajaran biar kapok!!! Hidup kok cuma enak-enakan aja!!" Ayu berkata seraya melemparkan Vanya ke dalam gudang.
Saat Ayu hendak mengunci gudang itu, Vanya berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.
"Mah jangan mah, Vanya mohon mah..." Vanya kembali memohon.
Namun, karena tenaganya yang tidak sebanding, Ayu berhasil mendorong Vanya kembali masuk ke dalam gudang, lalu mengunci gudang itu agar Vanya tidak bisa keluar dari sana.
"Maaaaah... Bukain maaaah... Mah ampun mah, maafin Vanya maaah.." Vanya berteriak seraya menggedor-gedor pintu.
Tidak mendengar sahutan dari Ayu, gedoran Vanya di pintu itu kian melemah..
"Buka maaaah...." ucap Vanya dengan sangat lirih..
Merasa semuanya sia-sia, Vanya lantas memundurkan langkahnya. Dia terduduk dengan lesu seraya menyandarkan tubuhnya pada tumpukkan kardus yang ada di sana, menunggu hingga Ayu akan kembali untuk membukakan pintu.
Namun, entah berapa jam sudah terlewati, Ayu tak kunjung kembali untuk membukakan pintu. Vanya lantas menengadahkan kepalanya untuk melihat ke arah celah genteng, dia bisa melihat jika kini matahari sudah tepat berada di atas kepalanya.
Vanya kembali menghembuskan nafasnya untuk yang ke sekian kalinya, rasa lapar juga haus kini mulai melandanya. Belum lagi hawa panas yang sangat menyengat, membuat keringat mulai bercucuran membasahi seluruh tubuh Vanya.
Tangan gadis kecil itu terangkat untuk menyentuh bibirnya yang mulai mengering.
"Haaaah... Neeeek.. Andai nenek masih ada, Vanya ga akan kayak gini" Vanya berkata dengan sangat lirih.
"Sssshhhhh.." Vanya mendesis seraya memegangi perutnya yang mulai terasa ngilu.
__ADS_1
"Sabar ya perut.. Tunggu sebentar lagi" ucap Vanya lalu mulai merebahkan tubuhnya.
Gadis kecil itu memilih untuk memejamkan matanya, dia mencoba untuk tidur guna menekan rasa sakit di perutnya.
Hingga ketika Vanya kembali membuka mata, gadis kecil itu terkejut karena hari yang sudah gelap. Dia mencoba mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan penglihatannya yang hanya di bantu oleh sinar rembulan.
Saat Vanya mencoba untuk duduk, perutnya terasa begitu linu karena tidak di isi makanan sejak semalam, mulut dan tenggorokannya pun terasa begitu kering. Belum lagi kepalanya yang juga mulai berdenyut dengan sangat kuat.
"Sssshhhhh" Vanya berdesis seraya berusaha mencoba untuk duduk.
Ketika Vanya berhasil duduk, seketika gadis kecil itu memejamkan matanya dengan sangat erat, dengan tangan kirinya yang menekan perutnya yang terasa semakin linu, juga dengan tangan kanannya yang memegangi kepalanya yang terus saja berdenyut.
Vanya menghembuskan nafasnya sejenak lalu mulai membuka matanya, dia mengigit bibirnya dengan sangat kuat guna menahan rasa sakit. Gadis kecil itu menengadahkan kepalanya karena pandangan matanya mulai mengabur.
Hingga saat Vanya melihat ke atas, gadis kecil itu mulai merasa berhalusinasi. Di atas sana, dia samar-samar melihat sepasang kaki yang menjuntai, membuat jantungnya kini mulai berdegup dengan kencang.
Vanya seketika menundukkan kepala seraya mengerjapkan matanya untuk menghilangkan halusinasi itu. Namun, ketika dia kembali melihat ke atas, sepasang kaki yang menjuntai itu kini seakan terlihat dengan sangat jelas, membuat nafasnya kini juga mulai ikut memburu.
Gadis kecil itu mencoba untuk menelusuri dari bagian kaki hingga wajah orang yang tergantung itu dan, Deg.... Saat melihat wajah orang yang tergantung itu, dia berjengkit karena merasa sangat terkejut dengan jantung yang semakin berdetak dengan sangat cepat. Keringat pun mulai kembali bercucuran membasahi seluruh tubunya.
Karena wajah yang Vanya lihat itu adalah wajahnya sendiri.. Wajah penuh penderitaan dengan mata terbuka yang tengah menatapnya dengan tatapan sendu.
Sekali lagi, Vanya mencoba memejamkan matanya untuk menghilangkan halusinasi itu. Namun, nafasnya kian memburu ketika halusinasi itu justru semakin terlihat dengan sangat jelas.
Kini, nafas Vanya kian tersengal-sengal, gadis kecil itu seakan kehilangan suara untuk berteriak. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
Setelah mengerjapkan matanya untuk yang kesekian kalinya, Vanya kembali menatap wajah itu lekat-lekat. Hingga akhirnya, gadis kecil itu pun kehilangan kesadarannya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..