
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setibanya Haidar di apartment setelah dia pergi untuk mencuci mobilnya, Haidar sedikit mengerutkan keningnya tat kala melihat Vanya yang tengah bersiap di meja riasnya.
"Mau kemana?" Haidar bertanya seraya meletakkan kunci mobilnya di atas nakas yang ada di kamarnya.
"Mau pergi." Sahut Vanya cepat tanpa menoleh atau pun melirik pada Haidar.
Hidar lantas berjalan mendekati Vanya, pria itu kemudian duduk di tepi kasur yang jaraknya dekat dengan Vanya.
"Pergi sama siapa?" Tanya pria itu kemudian.
Vanya yang sudah selesai bersiap pun membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan Haidar.
"Mau pergi sama Winda."
Haidar menaikkan sebelah alisnya. "Winda? Adik kelas yang lu ajarin bahasa inggris itu?"
"He, em..." Vanya menganggukkan kepalanya.
"Sore-sore gini?"
Vanya kembali menganggukkan kepalanya.
"Emang mau pergi kemana?"
"Museum galeri pribadi punya Om nya si Winda."
Mendengar hal itu, seketika membuat Haidar mengernyitkan dahinya. "Museum galeri pribadi? Emang ada?"
"Ada.. Gua juga baru tau sih.." Vanya menengadahkan tangannya pada Haidar.
"Apa? Minta uang saku?" Haidar bertanya dengan sedikit bingung.
"Ck, ish.. Bukan.. Sejak kapan gua minta usang saku sama lu.. Maksud gua, siniin hp lu.."
Tanpa bertanya apa pun lagi, Haidar pun merogoh ponsel yang ada di saku celananya kemudian memberikannya pada Vanya.
Setelah menerima ponsel milik Haidar, Vanya lantas mencari akun sosial media milik Om Heru.
Menemukan apa yang dia cari, Vanya kemudian memberikan ponsel itu kembali pada Haidar.
"Tuh, galerinya kayak gitu.."
Setelah mengetahui galeri seperti apa yang di maksud oleh Vanya, Haidar pun kini mengerti kenapa gadis itu bersedia untuk keluar pada jam sore seperti ink bersama dengan Winda.
Karena ya, Haidar sangat mengetahui tentang ketertarikan Vanya terhadap negara Vatikan.
Haidar pun menganggukkan kepalanya kemudian kembali menatap Vanya.
"Perlu gua anterin?" Pria itu bertanya kemudian.
Vanya menggelengkan kepalanya. "Ga usah, Winda katanya mau jemput ke sini."
"Pulang jam berapa?"
"Ga tau, se bosennya paling.."
Haidar menganggukkan kepalanya. "Mau di jemput?"
"Boleh, nanti gua shareloc.." Sahut Vanya cepat. "Ga enak juga soalnya kalo si Winda harus nganterin gua balik lagi."
"Okay.." Ucap Haidar.
Hanya selang beberapa detik setelahnya, ponsel Vanya berdering menandakan dia mendapatkan panggilan masuk.
__ADS_1
Haidar lantas meraih ponsel Vanya yang ada di atas kasur kemudian memberikan ponsel itu pada Vanya.
"Halo?"
(Aku udah di depan kak.. Apartment Lila Stiles kan?)
"Wih.. On Time banget." Vanya menyahut seraya melirik jam yang terpasang di dinding. Yang di mana, jam itu kini menunjuk tepat pada pukul 17.00 WIB. "Yaudah kalo gitu, tunggu bentar ya, kakak turun sekarang."
(Okay..)
Sambungan pun terputus.
"Udah nyampe?" Tanya Haidar.
Vanya menganggukkan kepalanya. Gadis itu lantas beranjak dari duduknya kemudian menyambar jaket dan tas nya yang tergantung di dekat meja riasnya.
Setelah memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas yang akan dia gunakan, Vanya pun menghampiri Haidar kemudian mengecup sekilas pipi kanan pria itu.
"Gua jalan dulu ya, bye.." Ucap Vanya kemudian berlalu pergi dari sana.
Namun, saat Vanya di ambang pintu, Haidar menghentikannya.
"Va?"
"Hm?"
Vanya pun menghentikan langkahnya kemudian membalikkan tubuhnya ke arah Haidar.
Haidar lantas beranjak dari duduknya kemudian melangkah menghampiri Vanya.
"Kalo ada apa-apa, jangan lupa buat kabarin gua ya.. Sama hp lu jangan lupa lu bawa terus.. Jadi, kalo terjadi sesuatu, lu bisa langsung hubungin gua.."
Mendengar apa yang di katakan oleh Haidar, seketika membuat Vanya menaikkan sebelah alisnya.
"Lu kek mau ngelepas gua buat ngejalanin misi aja.."
"Udah si, kalem.. Gua pergi sama Winda, bukan sama orang jahat.."
Haidar menghela nafasnya kemudian semakin mendekat ke arah Vanya, pria itu lantas mengecup bibir Vanya untuk beberapa saat.
"Dah, lu boleh pergi." Pria itu berkata setelah kembali menjauhkan wajahnya.
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Vanya menyunggingkan senyum kecilnya.
"Yaudah.. Bye.." Ucap vanya kemudian berlalu pergi.
"Bye.. Love You.." Haidar menyandarkan tubuhnya pada daun pintu untuk melihat Vanya.
"Love you too.." Sahut Vanya tanpa menoleh pada Haidar.
Setelah melihat Vanya menghilang di balik pintu keluar, Haidar pun kembali masuk ke dalam kamar. Pria itu lantas merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Ck!! Kok perasaan gua ga enak ya.."
Pira itu bergumam seraya menatap langit-langit kamarnya, dengan perasaannya yang kini semakin terasa tidak menentu.
*****
"Eh, kalian jadi dateng ternyata.. Kirain om ga jadi.." Heru menyambut kedatangan Vanya dan Winda.
"Jadi lah om.. Masa ga jadi.. Kalo ga jadi, nanti ada yang kecewa dong.." Sahut Winda dengan mata yang melirik menggoda pada Vanya.
Vanya yang mendapatkan lirikan seperti itu dari Winda pun hanya menyunggingkan senyum kecilnya.
"Yaudah kalo gitu, nih kuncinya.." Haru menyerahkan kunci galeri itu panda Winda. "Om mau pulang dulu.."
"Loh, Om udah mau pulang?" Tanya Vanya.
"Iya, Om buru-buru soalnya.." Sahut Heru cepat.
__ADS_1
"Emang om mau kemana?" Tanya Winda.
"Halaaahh.. Kamu kayak ga tau kegiatan Om aja.. Om kan setiap 1 bulan sekali emang pergi ke semarang buat ngurus bisnis Om yang ada di sana, gimana sih kamu tuh.."
"Oh iya.. Winda lupa Om.." Winda menepuk pelan keningnya. "Terus, kapan Om pulangnya?"
"Paling cepet lusa, paling lama hari kamis. Nanti kalo udah, terserah kamu aja kuncinya mau di bawa atau mau di balikin ke tante."
"Ok deh Om.." Winda menampilkan senyum manisnya.
"Yaudah, kalo gitu Om pergi dulu ya.. Kalian liat-liat aja sepuasnya kalian.."
Winda dan Vanya tersenyum lalu menganggukkan kepala.
"Makasih ya Om.." Ucap Vanya.
"Iya.." Heru pun berlalu pergi dari sana.
Setelahnya, Winda lantas mengajak Vanya untuk segera masuk ke dalam galeri seni itu.
"Wuih.. Keren ya.." Ucap Vanya pelan dengan mata yang terus bergulir ke setiap penjuru arah.
"Apa kerennya sih kak.. Aku mah ga begitu paham.." Sahut Winda cepat.
Vanya lantas menoleh pada Winda yang berjalan di samping kirinya. "Yaudah sih kalo ga paham.. Kamu cukup paham pelajaran sekolahmu aja dulu.."
"Hehe... Iya, itu lebih baik.." Sahut Winda dengan cengiran lembar yang di tampilkannya.
Mereka pun terus menyusuri setiap sudut bangunan berlantai 2 yang lumayan luas itu. Dengan Vanya yang tidak hentinya berdecak kagum melihat betapa indahnya galeri seni pribadi milik Om Heru itu.
Saat mereka menaiki tangga untuk naik ke lantas 2, Winda tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
Vanya yang menyadari hal itu pun juga ikut menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Winda yang berada 2 langkah di belakangnya.
"Kenapa?" Tanya Vanya.
"Aku haus kak.. Dari tadi belum minum.." Winda menatap Vanya dengan tatapan memelas.
"Mau kakak beliin minum?"
Winda menggelengkan kepalanya. "Ga usah kak, Winda punya minum kok di mobil. Winda ambil sendiri aja.. Kalo kakak mau naik ke atas, naik aja duluan.. Nanti Winda susul."
"Ga papa nih?" Vanya bertanya tanpa menaruh kecurigaan sedikit pun terhadap Winda.
"Iya ga papa.." Sahut Winda cepat.
"Yaudah kalo gitu.."
"Yaudah, aku ambil minum dulu ya.."
Vanya menganggukkan kepalanya.
Winda pun segera berlalu pergi dari sana.
Lantas, Vanya pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ke lantai 2. Tanpa dia ketahui, kalau sebentar lagi dia akan mengalami hal buruk yang tidak terbayangkan dalam benaknya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1