Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Gara-gara Wedding Gown


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Haidar menyunggingkan senyumnya melihat wajah Vanya yang lebih berseri dari biasanya. Memang benar kata orang, seseorang yang akan menikah pasti memancarkan aura yang lebih cerah.


Sama hal yang seperti Vanya, gadis itu tampak lebih berseri. Aura kecantikannya terpancar dengan sangat kuat.


Haidar tiba-tiba saja merasa takut, takut kalau ada pria yang pastinya akan melirik Vanya.


Hah... Harus kah Haidar mengurung Vanya di rumah saja?


"Va?"


"Hm?"


Vanya, yang saat ini tengah duduk seraya menyandarkan kepalanya pada bahu Haidar, pun mendongakkan kepalanya untuk menatap Haidar.


"Maaf ya, aku ga bisa nganterin kamu ke boutique, kerjaanku banyak banget soalnya."


Haidar menyelipkan helaian rambut Vanya ke belakang telinga gadis itu, dia menatap Vanya dengan sangat tidak enak hati.


Ini bukan kali pertama Haidar membiarkan Vanya pergi sendiri. Mengambil cincin pernikahan, membayar biaya WO, membayar biaya catering, bahkan untuk fitting baju pengantin, sekarang Vanya lakukan sendiri.


Haidar benar-benar merasa bersalah tentang hal itu. Tapi mau bagaimana lagi, pekerjaan yang dia miliki mengharuskan dia untuk membiarkan Vanya melakukannya sendiri.


"Ya ga papa.. Namanya juga kewajiban, harus di selesein sampe tuntas. Toh ini juga kan fitting pertama, masih ada fitting yang kedua kan."


"He em.. Berangkat jam berapa kamu?"


"Bentar lagi, nunggu Nisa. Tu anak dari tadi mandi ga kelar-kelar. Heran deh.."


Haidar terkekeh kecil. "Ya namanya juga cewek."


"Terus aku bukan cewek gt mentang-mentang aku mandinya sebentar."


"Ya kamu kan beda.."


"Mesra-mesraan muluu.. Jadi ga nih?"


Haidar dan Vanya seketika saja menoleh pada Nisa yang baru saja datang.


"Jadi lah.. Gua nungguin lu dari tadi. Lu sih, mandinya pake ritual dulu."


"Ya sorry.." Nisa menggaruk pelipisnya seraya menampilkan cengiran lebarnya.


"Tcih!" Vanya mendengus kemudian menegakkan tubuhnya, dia menoleh pada Haidar.


"Aku pergi dulu ya."


"Hmm.." Haidar menganggukkan kepalanya.


"Astagaaa!!! Mata gua ternodaiiii!!"


Nisa menutup kedua matanya saat melihat Haidar yang mengecup bibir Vanya dengan begitu mesra di hadapannya.


"Apa sih Nis?"


Haidar bertanya seolah tanpa dosa.


"Au ah! Berasa jomblo banget gua!"


Vanya seketika saja terkekeh geli. "Makanya cari pacar.."


"Bodo! Terserah!!"


Nisa lantas berlalu pergi dari sana dengan sedikit menghentakkan kakinya.


Vanya pun hanya bisa tersenyum geli kemudian beranjak dari tempatnya untuk menyusul langkah Nisa.


.......

__ADS_1


.......


.......


Talita Boutique...


"Jadinya yang ini, ini, sama yang ini ya?"


Seorang stylist menunjuk beberapa gambar wedding dress yang menarik perhatian Vanya.


"Iya, minta tolong lihat yang itu ya."


Stylist itu menyunggingkan senyumnya. "Baik, mohon di tunggu ya, saya ambilkan contohnya terlebih dahulu."


"Baik, terima kasih."


"Sudah menjadi tugas saya nona."


Stylist itu pun beranjak dari kursinya kemudian segera berlalu pergi dari saja untuk melakukan tugasnya.


"Cakep-cakep ya gaunnya.."


Nisa menatap deretan wedding dress yang terpajang di dalam lemari dengan sangat apik.


"Pengen kan lu."


Vanya menyenggol bahu Nisa yang menatap deretan wedding dress itu dengan mata berbinarnya yang hampir tidak berkedip.


"Pengen lah.. Suatu saat nanti, tapi ga tau kapan."


Vanya menghela nafasnya untuk sejenak. "Yaaaa moga aja Tuhan nemuin lu sama jodoh lu dalam waktu dekat ini."


Nisa menoleh pada Vanya, senyum kecil tersungging di bibirnya. "Amiiin.."


Sungguh, Nisa masih merasa seperti mimpi kalau sahabatnya akan menikah dalam waktu yang kurang dari 2 pekan.


Nisa masih membayangkan masa di waktu ke kemarin. Di mana dia dan Vanya masih saling memaki dan saling bercerita lewat panggilan video tanpa mengenal waktu.


Ah, sepertinya tidak akan sama. Nisa tahu, Vanya tidak akan merasa keberatan untuk mengangkat setiap panggilan darinya, meskipun dalam keadaan apa pun itu, di waktu kapan pun, dan di mana pun.


Tapi.. Nisa bukan orang se tidak tahu diri itu. Nisa mengerti, dia tidak akan bisa lagi mengganggu Vanya di waktu yang sembarangan setelah Vanya menikah nanti.


Meskipun semuanya terasa sangat berat, namun mau aa di kata. Entah itu sekarang, nanti, esok atau pun lusa, semua orang juga lambat laun pasti akan memiliki kehidupan pribadinya masing-masing.


Terlebih lagi, baik itu kehidupan, kesehatan, rejeki juga jodoh, Tuhan sudah mengatur semuanya. Kita sebagai manusia, hanya bisa menerima, berdoa dan berusaha untuk menjalaninya.


Yaaah... Apa lagi yang bisa Nisa lakukan untuk saat ini selain berdoa untuk Vanya. Berdoa untuk kesehatan Vanya, kehidupan Vanya, rejeki Vanya. Yang utama, Nisa harus berdoa untuk kebahagiaan Vanya.


Cukup sudah Vanya merasa menderita selama seumur hidupnya. Bukan hanya tentang kehidupannya saja, tapi juga tentang kebahagiaan di hatinya.


Apa lah baiknya kebahagiaan fisik jika hatinya tidak ikut bahagia. Bukan kah seperti itu?


"Mikirin apa sih Nis?"


Nisa menggelengkan kepalanya.


"Gua cuma masih ga percaya aja kalo sebentar lagi lu udah mau nikah."


Vanya menyunggingkan senyum kecilnya. "Jangankan elu, gua aja yang mau nikah masih ngerasa ga percaya."


"Bisa gitu?"


Vanya menganggukkan kepalanya. "Menurut gua sih, ini terlalu cepat. Lu tau sendiri kan perjalanan hubungan gua sama Haidar kayak gimana."


"Engga terlalu cepat Vaaa.. Namanya juga udah takdir jodohnya. Kalo Tuhan emang nyuruh lu buat nikah hari ini, lu mau ngehindarinnya dengan cara apa pun juga akhirnya lu bakalan tetep nikah."


Vanya menoleh pada Nisa, dia menatap Nisa dengan mata yang sedikit memicing.


"Tumben banget kata-kata yang keluar dari mulut lu berbobot."


Nisa seketika saja menatap Vanya dengan wajah datarnya.


"Gua tabok nih!"

__ADS_1


"Canda kali can..."


"Vanya?"


Nisa dan Vanya menoleh ke arah asal suara, di mana di sana ada seseorang yang begitu dia kenal.


"Loh.. Kak Vin.. Apa kabar? Kakak ngapain di sini?"


"Bentar ya Nis."


Nisa menganggukkan kepalanya. "Iya sok.."


Vanya beranjak dari duduknya kemudian melangkah menghampiri Vino.


"Kabar ku baik. Kamu sendiri gimana?"


"Seperti yang kakak lihat, aku baik."


"Syukurlah kalo gitu."


"Ah ya, kakak ngapain di sini? Beli baju?"


"Engga, aku nganterin mamahku. Nah tu, kesini dia."


Vino menunjuk seorang wanita yang tengah berjalan ke arah mereka.


"Mah, kenalin, ini Vanya."


Rindu tampak berpikir untuk sejenak.


"Ooooh.. Vanya, Ivanya itu ya? Yang kerja di PT. Rumah Linux itu kan?"


"Iya tante.. Kenalin, saya Vanya."


Vanya mengulurkan tangannya pada Rindu.


Rindu pun menerima uluran tangan Vanya.


"Ah ya, saya Rindu. Mama nya Vino."


"Tante habis beli dress ya?"


"Iya nih. Biasalah, perempuan kan gitu ya, kalo mau pergi ke acaranya tu suka berasa ga punya baju."


"A haha.. Tante bisa aja."


"Kamu sendiri ngapain di sini? Beli dress juga?"


"Iya tan, kebetulan saya lagi nyoba dress."


"Dress? Buat acara?"


"Iya, buat acara pernikahan."


"Nikahannya siapa? Temen kamu?"


Vanya menggelengkan kepalanya. "Bukan tan, acara pernikahan saya."


Rindu seketika saja terdiam, senyum yang tersungging di bibirnya luntur saat itu. Dia lantas menoleh pada Vino secara perlahan.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2