Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
2 Miliyar


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bruk!!


Vanya menahan nafasnya, mencoba untuk menahan rasa sakit di tubuhnya akibat di lemparkan dengan cara yang tidak berperikemanusiaan oleh orang yang membawanya.


"Heh heh heh!! Bisa ga sih bersikap lebih lembut! Lu mau barang baru kita rusak!"


Seorang wanita setengah baya menatap orang yang melemparkan Vanya dengan tatapan tajamnya.


"Maaf mi."


Pria itu menundukkan kepalanya.


"Ck! Maaf maaf!! Kalo ni barang lecet, lu mau tanggung jawab!"


"Ampun mi.."


Wanita itu menghela nafasnya, dia mendekati Vanya yang terduduk di lantai.


Wanita itu lantas membuka kain yang menutupi kedua mata Vanya.


"Wuiihh.. Cakep nih.." Wanita itu mengapit dagu Vanya, dia menolehkan wajah Vanya ke kanan dan ke kiri. "Pantes aja dia minta harga tinggi, barangnya bagus."


"Mending kita kenalan dulu, kamu bisa manggil saya mami Palkan. Nama kamu siapa? Hmm?"


Vanya hanya diam, dia tidak memberikan respon apa pun. Bahkan raut wajah dan tatapan matanya datar seolah tidak takut menghadapi wanita itu.


Hal itu jelas saja membuat Palkan menaikkan sebelah alisnya. "Boleh juga, nyalinya lumayan nih.. Ganas pasti."


Palkan menyunggingkan senyumnya, dia tidak menghiraukan tatapan datar Vanya. Wanita itu menyelipkan helaian rambut Vanya ke belakang telinga gadis itu.


"Masih perawan apa udah jebol?"


Lagi, Vanya hanya diam. Gadis itu benar-benar menutup mulutnya rapat-rapat.


"Mau jawab, atau harus saya cek sendiri?"


"Kamu tau, saya bukan orang yang main-main."


Vanya masih diam, dia memalingkan wajahnya karena merasa muak mencium bau alkohol yang begitu menyengat dari mulut wanita itu.


Habis sudah kesabaran Palkan, raut wajahnya kini mulai mengeras.


"Pegang dia!"


Dua orang pria lantas mendekati Vanya, mereka megangi Vanya dengan sangat erat.


Vanya seketika saja merasa panik. Terlebih lagi, Palkan kini berusaha untuk membuka celana yang Vanya kenakan.


"Perawan! Aku masih perawan!!"


Palkan pun menghentikan niatnya. Begitu pula dengan dua pria itu, mereka segera melepaskan Vanya.


"Naaaahh.. Gitu dong dari tadi.. Kalo di tanya tu jawab, jangan minta di paksa dulu.."

__ADS_1


Vanya mendengus, dia menatap Palkan dengan sangat tajam.


Palkan hanya menyunggingkan senyum liciknya.


"Percuma kamu natap saya gitu, ga akan ada yang berubah. Kamu tetep bakalan saya jual!"


Kriiiiing!! Kriiiiing!! Kriiiiing!!


Palkan menoleh pada telepon yang terletak di atas mejanya.


Salah satu pria yang ada di sana dengan sigap mengambil gagang telepon itu kemudian menyerahkannya pada Palkan.


"Halo?"


πŸ“ž(Saya ingin membeli gadis yang baru saja datang.)


Palkan mengernyitkan dahinya, dia merasa sangat asing dengan suara pria yang menelponya. Terlebih lagi, suara pria ini terdengar masih sangat muda.


Sungguh, Palkan hapal betul suara semua pria yang menjadi pelanggan di rumah bordirnya.


Namun, meskipun begitu, Palkan tetap menanggapi pria itu.


"Gadis mana yang Tuan maksud?"


πŸ“ž(Gadis yang baru saja datang. Tingginya sekitar 160cm, rambutnya berwarna coklat, panjang rambutnya sekitar se pantat, matanya berwarna coklat, ada tatto angka 8 di belakang kuping kirinya.)


Palkan menoleh pada Vanya, dia menyibakkan rambut Vanya. Dan benar saja, ada tatto kecil angka 8 yang tertera di belakang kuping Vanya.


Hal itu sontak saja membuat Palkan semakin mengernyitkan dahinya.


Palkan menjauhkan gagang telepon itu dari telinganya, dia menatap 4 orang pria yang tadi membawa Vanya.


4 orang pria itu menggelengkan kepala.


Hal itu jelas saja membuat Palkan bertanya-tanya. Dari mana pria ini bisa mendapatkan informasi tentang Vanya dengan sangat mendetail. Terlebih lagi, pria itu bisa mengetahui ciri-ciri tersembunyi mengenai Vanya yang bahkan Palkan saja belum mengetahuinya.


Apa pria ini sangat mengenal Vanya?


Tapi, bagaimana pria itu bisa tau kalau Vanya kini sedang bersamanya?


"Sebentar Tuan, saya belum memposting informasi tentang gadis ini di situs mana pun. Dari mana Tuan bisa dapat informasi tentang gadis ini?"


πŸ“ž(Apa hal itu penting? Bukannya dalam hal jual beli hanya butuh uang, barang dan kesepakatan?)


Palkan berpikir untuk sejenak.


"Baiklah, kalo gitu tuan mau berapa malam?"


πŸ“ž(Serahkan gadis itu ke saya.)


"Maksud Tuan?"


πŸ“ž(Kamu tau maksud saya, Palkan.)


Palkan beranjak dari tempatnya, dia menatap Vanya dengan perasaan heran. Wanita itu menyugar rambutnya dengan perasaan ragu.


"Gini Tuan.. Kalau tuan emang mau gadis ini, tuan harus bayar dengan harga yang tinggi. Perlu tuan tahu, gadis ini masih.."


πŸ“ž(Saya tahu, dia masih perawan. Saya bakalan ngasih harga 2 M buat gadis itu. Kalau kamu keberatan sama harga yang saya tawarkan, kamu bisa minta lebih dari itu.)

__ADS_1


Lagi dan lagi, Palkan harus merasa terkejut untuk yang ke sekian kalinya.


Dari mana pria ini tahu kalau Vanya masihlah seorang gadis yang perawan?


Dan juga, 2 M? Sungguh, itu harga yang sangat fantastis yang pernah palkan terima untuk seorang gadis perawan.


Biasanya, para pria di luar sana hanya akan mengeluarkan uang paling banyak 200 juta untuk membeli keperawanan seorang gadis.


Tapi ini, 2 M? Oh sungguh.. Palkan benar-benar tidak habis pikir.


Palkan tiba-tiba saja merasa sedikit was-was kalau saja pria ini merupakan seseorang dari pihak yang berwajib.


Ayolah.. Pria gila mana yang rela mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk membeli seorang gadis? Ya meskipun gadis itu masih seorang perawan. Tapi, tetap saja kan..


Dengan uang sebanyak itu, alih-alih untuk membeli seorang gadis. Bukan kah uang itu bisa di gunakan untuk membeli rumah atau mobil mewah?


Tapi, tidak mungkin kan jika pria ini merupakan seseorang dari pihak berwajib?


Ayu mengatakan padanya kalau gadis ini hidup seorang diri. Tidak mungkin kan kalau tiba-tiba saja ada seseorang yang melaporkan hilangnya gadis ini pada pihak yang berwajib?


Dari pada Palkan mengalami hal yang tidak tidak, Palkan lebih baik mengakhirinya sekarang juga.


Palkan lantas berniat untuk meletakkan gagang telepon itu.


Namun..


πŸ“ž(Tenang, saya bukan ancaman buat kamu. Saya cuma mau kamu menyerahkan gadis itu ke saya. Saya akan menjamin bisnis kamu berjalan dengan lancar, bahkan mungkin saya bisa bikin bisnis kamu semakin berkembang dengan sangat pesat. Tapi dengan satu syarat, kamu harus mau nyerahin gadis itu ke saya.)


Palkan memijat pangkal hidungnya, dia tiba-tiba saja merasa pusing karena memikirkan hal ini.


Tawaran yang di berikan oleh pria itu memang sangat menggiurkan. Tapi, palkan merasa sedikit ragu. Apa kah yang di katakan pria itu memang benar adanya? Atau hanya sekedar bualan belaka?


"Emm.. Begini tuan.."


πŸ“ž(Kalau kamu ga mau nyerahin gadis itu ke saya, saya jamin kamu bakalan mendapatkan konsekuensi buruk yang bakalan berimbas pada bisnis yang kamu kelola. Anggap saja itu sebagai ancaman dari saya.)


(Dan, kalau kamu ragu sama saya, buka pintu depan tempat kamu sekarang. Bawahan saya sudah ada di situ sejak 10 menit yang lalu, dia bawa koper warna hitam. Di dalam koper itu berisi uang tunai sebesar 500 juta, anggap saja itu sebagai uang muka atas pembayaran untuk gadis itu. Untuk kesepakatan yang lainnya, kamu bisa bahas hal itu sama bawahan saya.)


Tut.. Tut.. Tut..


Pria itu memutus sambungan secara sepihak.


Palkan lantas memerintahkan salah satu anak buahnya untuk membawa masuk seseorang yang di katakan oleh pria tadi.


Dan benar saja, anak buahnya datang bersama seorang pria yang membawa koper hitam.


...-TBC-...


THanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2