Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Terlalu Menutup Diri


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelumnya...


Karena satu hal yang tidak di ketahui oleh Haidar.


Di sana, di salah satu tempat yang ada di dekat pohon kelapa. Tengah duduk seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sangat di kenali oleh Vanya..


Siapa lagi jika bukan Bagas dan Ayu..


*****


"Dar.. Mending kita cari tempat lain aja.." Vanya berkata seraya menahan tangan Haidar.


Haidar pun menghentikan langkahnya kemudian menatap Vanya. "Kenapa? Lu ga suka sama tempatnya?"


"Suka sih, cuma ini rame banget.. Lu tau kan gua ga suka tempat yang terlalu rame kyk gini.." Vanya menjawab dengan sura yang sedikit bergetar.


Ok, untuk saat ini, hanya itu yang bisa di jadikan sebagai alasan oleh Vanya. Bukannya Vanya tidak ingin menceritakan bagaimana kehidupan pahitnya dulu pada Haidar. Namun, banyak hal yang jadi pertimbangan gadis itu.


Bukan hanya karena mereka yang baru mengenal, tapi juga masih ada sedikit rasa mengganjal di hati Vanya yang membuatnya masih merasa enggan untuk menceritakan bagaimana kehidupan pahitnya dulu pada pria yang sekarang menjadi kekasihnya itu.


Lagi pula, satu hal yang membuat vanya kesal untuk saat ini. Entah kenapa, setiap dirinya melihat Bagas, tubuhnya mendadak menjadi tremor begitu saja. Ingin rasanya Vanya melawan, tapi apa lah daya, reaksi tubuhnya bertentangan dengan apa yang ada di dalam pikirannya.


Haidar yang melihat tubuh Vanya semakin bergetar pun seketika merasa sedikit panik. "Yaudah, yaudah, ayo kita cari tempat lain.. Atau kita balik aja? Hmmm??" Pria itu berkata dengan nada yang di penuhi rasa kekhawatiran.


Karena sungguh, Haidar tidak tahu jika Vanya memiliki gejala tremor yang sangat parah jika berada di tempat yang begitu ramai.


"Cari tempat lain aja yang agak sepi.." Vanya berkata dengan sedikit gugup..


"Mending kita ke mobil aja dulu yuk, tenangin diri dulu di mobil, abis itu kita pikirin mau kemana.."


Vanya pun menganggukan kepalanya.


Haidar lantas memapah Vanya menuju mobil dengan sangat hati-hati. Tanpa tau jika Bagas kini tengah memperhatikan mereka. Tapi beruntungnya, Ayu sedang dalam posisi memunggungi mereka, jadi wanita itu sama sekali tidak tau akan kehadiran Vanya dan Haidar.


"Ini, minum dulu.." Haidar berkata seraya menyodorkan sebotol air mineral pada Vanya.

__ADS_1


"Calm down honey.. Pelan-pelan.. Ok.." Ucap Haidar seraya mengelus punggung Vanya dengan lembut saat Vanya meneguk air itu dengan sedikit terburu-buru hingga tersisa setengahnya.


"Gimana, udah baikan?" Tanya Haidar setelah memastikan nafas Vanya kembali normal.


Vanya menganggukkan kepalanya. "Udah kok.. Makasih ya.."


"Lu emang kaya gini ya kalo di tempat rame?"


"Engga juga sih.. Cuma emang tadi terlalu rame aja, krodit banget.. Pusing banget ngeliatinnya..."


Haidar pun menghela nafasnya sejenak lalu berkata. "Yaudah, gimana? Masih mau cari tempat lain atau pulang aja?"


Vanya menggelengkan kepalanya. "Cari tempat lain aja ga papa.. Kan dari ujung ke ujung pantai semua.. Kita udah jauh-jauh kesini masa langsung pulang gitu aja.."


"Ok.. kalo gitu kita cari makan dulu.. Kita kan belum makan dari pagi.."


"Ok.." Vanya menyahut seraya mengembangkan senyum manisnya.


Haidar lantas mengusak kepala Vanya dengan gemas kemudian mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


*****


Setelah menyelesaikan makan siang, Haidar lantas membawa Vanya untuk berjalan-jalan sore di pinggir pantai yang tidak memiliki begitu banyak pengunjung.


Hingga setelah berpikir untuk waktu yang cukup lama. Sejenak, Haidar menatap tangan Vanya yang tengah berada dalam genggaman tangannya sebelum akhirnya berucap. "Va.."


Vanya yang mendengar itu pun lantas menoleh pada Haidar. "Hmmm?"


"Lu ga mau tinggal bareng gua aja di apartment?" Haidar bertanya dengan sedikit ragu.


Ya, setelah beberapa bulan sekolah di SMK Pelita Jaya, Haidar meminta di belikan sebuah apartment kepada Andi. Karena selain jarak rumahnya terlalu jauh dengan sekolah, dia juga berjaga-jaga jika suatu saat nanti Vanya berubah pikiran dan mau satu atap bersama dengan Haidar.


Vanya yang mendapat pertanyaan seperti itu pun seketika menatap haidar dengan mengerutkan keningnya. "Gimana maksudnya?"


Haidar mengedikkan bahunya. "Ya lu tinggal bareng gua gitu di apartment.. Kan lumayan bisa ngehemat pengeluaran elu.."


Namun, Vanya tidak memberikan tanggapan apapun atas perkataan Haidar. Gadis itu hanya menatap Haidar dengan menaikkan sebelah alisnya.


Seakan mengerti apa yang ada di pikiran Vanya, Haidar pun berkata. "Kalem.. Apartment gua ada 2 kamar, masing-masing kamar punya kamar mandi dalem.. Serius, gua ga ada niat macem-macem kok sama lu.. Kalo pun ada ya gua tahan.." Pria itu mengakhiri kalimatnya dengan tertawa canggung.


Yang mana, hal itu seketika membuat Vanya terkekeh geli. "Gua ngerti kok maksud lu baik Dar.. Tapi mending kaya gini aja.. Gua ga mau ngerepotin lu terus.. Belum lagi nanti kalo di tanyain sama tante Rima, harus jawab apa gua coba.."

__ADS_1


"Iya sih ya.. Yaudah deh, gimana baiknya aja.." Haidar berkata seraya mengusap tengkuknya canggung.


Vanya yang menyadari hal itu pun mengembangkan senyum tulusnya. "Tapi, makasih loh ya lu udah peduli banget sama gua.."


"Pasti peduli lah, masa iya sama pacar sendiri ga peduli.." Sahut Haidar cepat.


"He em si paling peduli..."


Haidar pun menanggapinya dengan terkekeh kecil. "Va.."


"Hmm?"


"Gua udah pernah bilang kan sama lu, kalo lu ada masalah apa-apa tu cerita sama gua.. Tapi kok lu ga pernah mau cerita sih sama gua?"


Vanya mengangkat bahunya acuh. "Kalo gua ga ada masalah, terus apa yang mau gua ceritain ke elu?" Gadis itu berkata dengan sedikit acuh tak acuh..


Haidar yang mendengar itu pun hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah. Pria itu lantas menghentikan langkahnya kemudian menggenggam kedua tangan Vanya.


"Va.. Lu ga bisa apa percaya sama gua? Sejauh ini juga gua selalu nyeritain kehidupan gua ke elu.. Gua ga maksa lu buat nyeritain kehidupan lu ke gua Va.. Cuma tolong, percaya sama gua.. Kalo lu butuh apa-apa atau kenapa-kenapa tu ngomong sama gua.. Gua pasti ada buat lu, gua bisa banget di andelin dalam segala hal Va.." Haidar berkata dengan sedikit pasrah.


Karena sungguh, meyakinkan Vanya sama saja seperti merobohkan pohon yang tumbuh ratusan tahun hanya dengan menggunakan sebilah pisau buah. Benar-benar sangat sulit..


Vanya yang tidak tau harus menanggapi seperti apa pun hanya bisa menyunggingkan senyum kecilnya kemudian kembali berjalan menyusuri tepi pantai.


Meninggalkan Haidar yang menatap Vanya dengan sedikit rasa kekecewaan. Kecewa pada dirinya sendiri yang tidak mampu menarik Vanya dari belenggu kesedihannya..


Bukannya Haidar menggebu untuk mengetahui kehidupan masa lalu Vanya.. Hanya saja, Haidar ingin gadis itu sedikit terbuka dan tidak terlalu menutup diri.


Tapi, apalah daya.. Sekuat apa pun Haidar mencoba, jika itu memang bukan kehendak gadis itu sendiri. Maka sampai kapan pun, usahanya akan tetap sia-sia.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2