Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Kedatang Rima dan Nisa


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Bandara...


"Ya ampun.. Gua sedih!!!"


Nisa memeluk Vanya dengan sangat erat.


"Hushh!! Harusnya kamu tu bahagia."


Rima menepuk bahu Nisa.


"Ya sedih lah mah.. Kalo Vanya nikah, terus aku sama siapa?"


"Heleh.. Biasanya juga lu gangguin gua lewat telpon."


Nisa menggaruk pelipisnya, cengiran lebar terpampang nyata di bibirnya.


"Iya juga sih.."


"Yaudah, kayak gitu aja terus.. Ga bakal ada yang berubah kok."


"Bagus deh kalo kayak gitu.. Eh, btw nih ya, Haidar mana? Lu jemput kita sendirian?"


Nisa menoleh ke arah kanan dan kirinya.


"Iya, dari tadi tante ga liat Haidar."


"Haidar lagi ketemu sama pihak WO nya tan.. Sebenernya kemaren udah deal-dealan sih, cuma ada beberapa hal yang minta di ubah sama kakeknya Haidar."


Nisa dan Rima pun ber "oh" ria.


"Yaudah kalo gitu, mending kita langsung ke rumah aja. Kalian juga pasti capek kan?"


Rima dan Nisa menganggukkan kepala.


"Ya lumayan lah ya.. Dari bali ke Jogja, meskipun naik pesawat, tetep bikin punggung agak pegel."


Vanya menyunggingkan senyum kecilnya. "Yaudah yuk kalo gitu."


Mereka pun bergegas menuju kediaman Haidar.


.......


.......


.......


Rumah Haidar...


"Non, biar kita bantu bawain kopernya."


Dia mang Soleh, pria yang bekerja sebagai kepala pelayan di rumah Haidar. Pria itu menghampiri Vanya dengan seorang pria yang lebih muda darinya, yang di mana pria itu merupakan putranya sendiri yang juga ikut bekerja di rumah itu.


"Oh, iya mang. Sama yang di bagasi juga ya."


"Siap non.. Ini di bawa ke kamar atas kan ya?"


"Iya.." Vanya menganggukkan kepalanya. "Di kamar yang deket ruang baca ya mang."


"Siap non.."

__ADS_1


"Makasih ya mang."


Mang Soleh menyunggingkan senyumnya. Meskipun ini bukan kali pertama baginya mendapatkan ucapan terima kasih dari Vanya, namun dia masih saja merasa tersentuh.


Terhitung sudah puluhan tahun lamanya mang Soleh bekerja di keluarga Oktavio. Namun, baru kali ini mang soleh bertemu dengan seseorang dari luar keluarga Oktavio yang memiliki kepribadian yang sangat baik seperti kepribadian yang di miliki Vanya.


Hingga saat ini, mang Soleh bahkan masih saja merasa sangat kagum atas kepribadian yang di miliki oleh Vanya. Terlebih lagi Vanya hidup di jaman seperti sekarang ini, di mana kebanyakan anak muda jaman sekarang sudah kehilangan sopan santunnya terhadap orang yang lebih tua.


Bukannya mang Soleh gila akan rasa hormat. Tapi ya, bukan kah memang seharusnya seperti itu? Seseorang yang lebih muda, setidaknya harus memiliki sopan santun terhadap yang lebih tua. Setidaknya, ucapkan lah kata tolong dan terima kasih kepada seseorang yang membantunya.


Tapi ya, mau bagaimana lagi, jaman sudah berubah. Jaman di mana yang lebih tua justru harus lebih sopan dan santun terlebih dahulu kepada yang lebih muda. Tapi untung saja, Vanya tidak seperti kebanyakan anak gadis di luar sana.


Mang Soleh bahkan bisa membayangkan, betapa senangnya keluarga Haidar karena mendapatkan menantu seperti Vanya. Cantik, baik, pintar, kaya akan sopan santun. Hah... Paket komplit lah pokoknya..


Mang Soleh berharap, semoga saja anaknya bisa menikah dengan gadis seperti Vanya. Tidak harus sama semuanya, setidaknya memiliki tata krama dan sopan santun yang baik.


"Sama-sama non.. Udah tugas saya.."


"Mang Soleh bisa aja.."


"Yaudah kalo gitu, ini langsung kita bawa ke atas ya non."


"He em.. Iya pak.."


Mang Soleh dan anaknya pun membawa koper itu menuju ke kamar yang di maksud oleh Vanya.


"Mau lihat-lihat rumah dulu atau langsung ke kamar?"


"Ke kamar aja deh, capek.."


Nisa menggelayut manja di lengan Vanya.


"Jangan di teken Nis.. Ntar gua tambah pendek!"


Vanya menjauhkan kepala Nisa dari bahunya.


Rima hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua anak gadisnya yang tidak pernah berubah. Selalu saja seperti itu.. Bertemu, tidak pernah akur. Tapi ketika jauh, saling merindukan. Hah.. Beginilah rasanya memiliki dua anak gadis.


"Udah ah.. Ayok tan, Vanya anterin ke kamar."


Rima menganggukkan kepalanya.


Mereka pun menuju lantai 2, letak di mana kamar Nisa dan Rima berada.


"Kok sepi Va?"


"He em tan, lagi pada pergi. Paling juga bentar lagi pada pulang."


Rima mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Nah, ini kamar tante, yang sebelahnya kamar Nisa."


Rima mengernyitkan dahinya. "Engga di satuin aja?"


Nisa seketika saja menggeleng cepat. "Jangan, berabe nanti. Nanti yang ada malah aku ga bisa ngegosip sama Vanya."


Rima menghela nafasnya jengah. "Kamu nih ya, pikirannya gosiiiip aja terus."


"Hehe.. Biasa lah mah, anak muda. Kayak yang ga pernah muda aja."


"Eeeh.. Muda nya mamah ga kayak kamu ya.."


"Udah udah.. Kok jadi berantem sih?"


Vanya menepuk dahinya.

__ADS_1


"Sahabat kesayangan kamu tuh yang mulai duluan.."


"Dih.. Kok jadi aku sih mah? Mamah tuh yang mulai duluan.."


"Ck! Udah Nis! Udah ah, yok masuk kamar."


Vanya menarik Nisa untuk masuk ke dalam kamarnya. Namun, sebelum itu, Vanya terlebih dulu menoleh pada Rima.


"Tante kalo mau tidur dulu juga ga papa. Nanti jam 7 Vanya bangunin buat makan malem."


"Ok.."


Rima lantas masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan Nisa dan Vanya? Mereka tentu saja langsung merebahkan diri mereka di atas kasur.


"Nyamannya...."


Nisa mengusakkan wajahnya pada bantal guling yang dia peluk.


"Hih! Jorok.. Cuci muka dulu sana."


"Yaudah si, ga papa.. Orang yang tidur di sini juga kan cuma gua."


Vanya memutar bola matanya. "Serah deh."


"Eh Va?"


Nisa memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Vanya.


"Hm?" Vanya menoleh pada Nisa.


"Btw, ini rumah siapa? Gede banget.. Setau gua, rumah Haidar ga segede ini deh."


"Kalo dari yang gua tau sih ya, ini rumah punya kakeknya Haidar. Cuma ya gitu, udah lama ga di tinggalin, kan 15 tahun yang lalu kakeknya Haidar pindah ke California. Katanya sih buat mengenang mendiang istrinya."


"Jadi si Haidar nih blasteran?"


"Lebih tepatnya sih mendiang nyokapnya yang blasteran."


"Terus, rumah ini kosong gitu?"


"Engga juga sih, orang masih ada yang ngurusin. Penanggung jawabnya mang Soleh, yang tadi bawain koper lu. Rencananya juga gua sama Haidar di suruh tinggal di sini, soalnya kan papa Andi juga undah pindah ke California buat ngurusin perusahaan yang di sana. Tapi kayaknya gua ga mau deh tinggal di sini."


"Kenapa?"


"Rumahnya kebesaran, gua takut ngeliat hal yang iya iya."


"Si kambing, gua kira kenapa. Udah ah, gua mau tidur, ngantuk."


"Iya, gua juga ngantuk.."


Vanya menganggukkan kepalanya, dia setuju dengan apa yang di katakan Nisa. Karena pada dasarnya, tadi malam dia juga tidak bisa tidur karena memikirkan pernikahan dadakan yang akan dia lakukan bersama dengan Haidar.


Tapi ya sudahlah.. Semuanya sudah terjadi..


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2