
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebelumnya...
"Nah, nyanyi cepet.. Lagu apa aja terserah.." Irwan berkata seraya hendak kembali memetik gitarnya.
"Hah? Gua? Nyanyi?" Vanya masih terlihat bingung sekaligus terkejut.
*****
Oh ayolah.. Lagi pula, siapa yang tidak akan terkejut jika tiba-tiba saja ada orang yang menyuruhmu menyanyi tanpa persiapan apa pun.
Irwan yang menyadari kebingungan Vanya pun kembali menatap gadis itu. "Iya, elu nyanyi.. Gua pernah denger lu nyanyi waktu lu lagi ngeprint berkas. Suara lu bagus, jadi elu aja yang nyanyi. Dari pada gua ham hem ham hem doang.."
Vanya seketika mengusap tengkuknya canggung.
Ya, kala itu.. Waktu Vanya sedang mencetak berkas yang di berikan oleh Pak Tomi. Karena berkas yang dia print cukup banyak, Vanya tidak sengaja bersenandung kecil selama menunggu berkas itu tercetak semuanya.
Vanya tidak tau jika di sana ada orang lain yang mendengarkan nyanyian yang di senandungkannya.
Haidar yang tidak tahu akan hal itu lantas menoleh pada Vanya. "Lu bisa nyanyi?"
Vanya seketika menoleh pada Haidar seraya menampilkan senyum canggungnya. "Dikit.."
Vanya lalu kembali menatap Irwan. "Nyanyi lagu apa?" Tanya gadis itu kemudian.
"Terserah, sebisanya elu.. Gua apa aja bisa.. Lu nyanyi aja, nanti gua ngikutin nadanya.." Sahut Irwan.
Vanya yang mendengar hal itu pun hanya bisa tersenyum kecil. Gadis itu lantas berdehem kecil sebelum akhirnya mulai menyenandungkan nyanyian yang dia ketahui.
"Hmmmmmm..."
"Terlalu manis.. Untuk di lupakaaan..."
Vanya mencoba untuk menyanyikan nadanya terlebih dahulu, meminta Irwan untuk menyesuiakan petikan gitar pria itu dengan nada suaranya.
Irwan Tersenyum simpul kemudian mulai memetik gitarnya..
"Jreeeeeeng..."
G C
Kuambil gitar dan Mulai memainkan
Em F C
lagu lama yang biasa kita nyanyikan
G C
Tapi tak sepatah kata Yang bisa terucap
Em F C
Hanya ingatan yang Ada dikepala
Vanya menyanyikan lagu itu dengan suara yang terdengar sangat merdu.
Mereka yang ada di sana pun terpukau akan suara Vanya yang terdengar seperti penyanyi profesional.
Begitu pula dengan Haidar, pria itu sedikit terkejut karena ternyata Vanya memiliki suara yang sangat merdu.
Sedangkan Wulan, dia yang mengetahui 1 lagi kelebihan yang di miliki oleh Vanya pun semakin menambah rasa ketidaksukaannya terhadap gadis itu.
__ADS_1
G C
Hari berganti angin Tetap berhembus
Em F C
Cuaca berubah daun-daun tetap tumbuh
G C
Kata hatiku pun tak pernah berubah
Em F C
Berjalan dengan apa adanya
Vanya mengembangkan senyumnya, menikmati alunan gitar yang di petik oleh Irwan. Gadis itu melirik Haidar sekilas kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada gitar yang tengah di petik oleh Irwan.
D Am
Di malam yang dingin dan gelap sepi
D Am F C
Benakku melayang pada kisah kita
G F C
Terlalu manis untuk dilupakan
Am Em F Em D C
Kenangan yang indah Bersamamu tinggalah mimpi
G F C
Terlalu manis untuk dilupakan
Walau kita memang tak saling cinta tak akan terjadi
musik (versi suka2) : Em A 4x
musik (versi jualan) : Em D G C F F G
C G
syalala ... syalala ... 3x
C Em
syalala ...
^^^Song : Terlalu manis^^^
^^^Band : Slank^^^
^^^Lyric by : KORDINDONESIA.COM^^^
"Hmmmmmm..."
Vanya mengakhiri nyanyiannya dengan gumaman lembut nan merdu.
Menghasilkan tepukan riuh dari mereka yang mendengarkannya. Kecuali Wulan, gadis itu hanya bisa memalingkan wajahnya karena merasa muak akan keadaan ini.
Sedangkan Vanya, gadis itu hanya bisa mengusap tengkuknya canggung. Gadis itu merasa sedikit malu karena menerima pujian dari mereka-mereka yang mendengarkan nyanyiannya.
"Udahan ah, udah malem, ngantuk.." Wulan tiba-tiba saja beranjak dari duduknya, wajah gadis itu terlihat merengut kesal.
__ADS_1
Mereka yang ada di sana pun menatap Wulan dengan sedikit bingung.
"Lu mau kemana?" Irwan melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Baru juga jam 9, masih pagi ini.."
"Gua capek, gua mau tidur, kalo kalian masih mau lanjut ya di lanjut aja." Wulan kemudian berlalu pergi tanpa menunggu tanggapan dari siapa pun.
"Udah lah biarin aja, lagi PMS paling. Kita lanjutin aja.." Irwan berkata kemudian.
Mereka pun kembali melanjutkan kegiatan mereka, menyanyi, bercanda, dan tertawa bersama.
Hingga tak terasa, malam kini semakin larut. Api unggun pun mulai redup karena sudah tidak ada lagi yang bisa dia bakar.
Mereka pun memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing.
Saat Haidar masuk ke kamarnya, teman satu kamarnya yang bernama Riko tiba-tiba saja mengajaknya untuk minum bersama.
"Dar, lanjut minum yuk? Nanggung nih, masa iya kumpul-kumpul tapi ga ada pemanasnya." Riko berkata seolah-olah mereka sudah saling mengenal.
Haidar tidak langsung menerima ajakan itu, dia menatap curiga pada Riko karena sebelumnya mereka tidak lah saling mengenal. Mereka baru tau satu sama lain pada acara ini.
"A elah, liatnya gitu banget.. Cuma minum bir doang, ga ada yang lebih.. Masa iya gua minum sendirian.. Mau ngajakin si Rista tapi ga enak." Riko berusaha membujuk Haidar.
Namun, Haidar masih saja mengabaikan Riko. Pria itu memilih untuk melepaskan jaketnya karena merasa gerah.
"Dar, ayok.. Sebotol lah, sebotol.." Riko kembali membujuk Haidar.
Setelah beberapa kali bujukan, Haidar pun akhirnya menyetujui ajakan dari Riko.
Riko lantas mengajak Haidar untuk minum di balkon kanar hotel mereka. Riko memberikan 1 botol minuman kepada Haidar.
Haidar pun menerima minuman itu dengan sedikit ragu. Namun, dia tetap meminumnya demi untuk menghargai Riko.
Hingga tak berselang lama kemudian, setelah Haidar menghabiskan setengah dari botol tersebut, Haidar tiba-tiba saja merasakan kantuk yang teramat sangat.
"Lu lanjut aja, gua mau tidur." Hadar berkata kemudian berlalu masuk ke dalam kamar tanpa menunggu tanggapan dari Riko.
Karena sejujurnya, Haidar kini merasa yakin jika Riko memiliki niat terselubung dari ajakan minumnya itu. Ayolah, Haidar tidak bodoh.. Haidar bisa membedakan yang mana rasa kantuk alami dan yang mana rasa kantuk karena obat.
Kini Haidar merasa sedikit menyesal karena telah menerima ajakan Riko untuk minum.
Haidar yang sudah tidak kuat mempertahankan kesadarannya pun akhirnya memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pria itu berdoa di dalam hatinya, semoga tidak terjadi sesuatu hal yang buruk yang mungkin saja sekiranya akan menimpanya.
Di balik itu, Riko yang melihat Haidar kini telah terlelap dalam mimpinya pun mengembangkan senyum kecilnya. Pria itu lantas meraih ponselnya kemudian mengetikan pesan pada seseorang yang memintanya untuk melakukan hal ini.
(Done!) - Isi pesan yang di kirimkan oleh Riko.
Dan ya, tidak sampai 10 detik, pesan itu sudah di baca oleh sang penerima.
Riko yang melihat itu kini tersenyum sumringah.
"Lumayan dapet uang jajan tambahan." Pria itu terkekeh kemudian keluar dari kamarnya dengan pintu yang sengaja tidak dia kunci.
Meninggalkan Haidar yang tidak sadar jika sebentar lagi dirinya benar-benar akan mengalami hal buruk.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1