Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Irwan x Vanya


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Va.." Ucap Irwan dari ambang pintu.


Vanya yang tengah berkutat dengan pekerjaannya pun menoleh pada Irwan.


"Ya kak?" Tanya Vanya.


"Lu di suruh ke ruangannya pak Tomi." Kata Irwan.


"Okay.. Habis ini gua kesana."


"Ok." Irwan pun kembali ke ruangannya.


Vanya lantas menyimpan data hasil kerjanya kemudian beranjak dari meja kerjanya untuk segera menuju ke ruangan milik Pak Tomi.


Sesampainya di ruangan pak Tomi, Vanya segera mengetuk pintu.


Tok.. Tok.. Tok..


Vanya lantas mendorong pintu kaca itu perlahan.


"Misi pak, bapak manggil saya?" Tanya Vanya.


"Iya, masuk sini." Sahut pak Tomi.


Vanya pun duduk di kursi yang berhadapan dengan pak Tomi.


"Ada apa ya pak?" Tanya gadis itu.


"Gini, berhubung Wulan ga ada. Saya minta tolong sama kamu buat jadi penanggung jawab siswa magang di di visi bagian kamu ya." Tutur Pak Tomi.


"Duh, bukannya saya ga mau pak. Cuma kan masih ada senior, nanti mereka ngiranya gimana-gimana lagi kalo saya yang bertanggung jawab buat hal ini." Vanya berkata dengan sedikit tidak enak hati.


Tomi menyunggingkan senyum kecilnya, dia mengerti apa yang mrnjadi keresahan Vanya. Karena ya, sebelum dia menjadi seperti sekarang ini. Dia juga melewati masa-masa seperti Vanya.


"Udah, ga usah mikirin senior. Saya nunjuk kamu di antara yang lainnya yang ada di divisi kamu itu karena emang kamu yang bisa saya percaya. Ga usah mikirin senior, yang penting kamu fokus sama kerjamu aja. Saya juga dulu gitu kok, yang penting fokus sama apa yang jadi tujuan kami." Tutur pria itu.


Vanya seketika saja mengusap tengkuknya canggung.


"Baik pak kalo gitu.." Ucap gadis itu.


"Yaudah, kalo gitu, ini data siswa yang bakalan masuk di divisi kamu." Tomi menyerahkan berkas data siswa pada Vanya. "Tapi itu baru sebagian. Yang sebagiannya lagi besok saya kasih pas siswanya udah pada dateng. Soalnya data yang lainnya baru di bawa besok sama siswanya sendiri."


"Baik pak, kalo gitu saya permisi dulu."


Vanya lantas beranjak dari duduknya kemudian hendak berlalu pergi dari sana.


Namun, sebelum Vanya membuka pintu, Tomi sudah lebih dulu menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Oh ya Va.." Ucap Tomi.


Vanya pun menoleh pada Tomi. "Giman pak?"


"Sama ini, besok bakalan ada karyawan baru yang masuk di divisi kamu buat gantiin posisi Dayah. Tolong di bimbing ya.. Kalo kerjanya jelek, boleh kamu marahin sesuka hati kamu. Dia anak saya soalnya." Tutur Tomi kemudian terkekeh kecil.


Vanya seketika saja mengerjapkan matanya, namun gadis itu tetap menganggukkan kepalanya.


"Baik pak." Ucap gadis itu.


"Yaudah, kalo gitu kamu boleh kembali ke ruangan kamu."


"Baik pak, terima kasih." Ucap Vanya kemudian benar-benar berlalu pergi dari sana.


Saat Vanya hendak menuju ruangannya, tatapan matanya bertemu dengan tatapan Irwan. Melihat Irwan yang menyunggingkan senyumnya, lantas membuat Vanya menyunggingkan senyum kecilnya untuk membalas senyuman Irwan.


Saat Vanya hendak masuk ke ruangannya, Irwan yang tengah berbincang dengan temannya segera menghampiri Vanya.


"Va.." Ucap Irwan.


Vanya pun menghentikan langkahnya tepat di depan pintu.


"Ya kak? Ada apa?" Tanya gadis itu.


"Makan siang bareng yuk.." Ajak Irwan tanpa basa basi.


Vanya lantas melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya, gadis itu terlihat berpikir untuk sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.


"Boleh deh.. Tapi aku naro ini dulu ya." Vanya berkata seraya menunjukkan berkas yang dia bawa.


Vanya lalu segera menyimpan berkas itu ke atas mejanya kemudian kembali menghampiri Irwan yang menunggunya di luar ruangan.


"Udah?" Tanya Irwan.


Vanya menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua lalu segera menuju cafeteria perusahaan.


.....


Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Vanya dan Irwan memutuskan untuk menghabiskan sisa jam istirahat mereka di sana.


"Lu jadi penanggung jawab siswa PKL ya?" Irwan mencoba untuk membuka obrolan.


Vanya yang mendengar hal itu lantas menatap Irwan dengan dahi yang mengernyit bingung. "Kok kakak tau?"


Irwan mengedikkan bahunya. "Soalnya gua yang nyaranin."


"Tcih!" Vanya memutar bola matanya malas. "Pantesan.."


Irwan yang melihat hal itu pun terkekeh kecil, dia sudah bisa menebak reaksi seperti apa yang akan di tunjukkan oleh Vanya ketika gadis itu tau bahwa dialah yang menyarankan agar gadis itu yang menjadi penanggung jawab siswa magang.


Karena ya, selain dulu Vanya sudah sempat menghabiskan masa PKL nya di sini. Selama beberapa waktu terakhir ini juga Irwan sering kali memperhatikan gadis itu.

__ADS_1


Terlebih lagi, kini tidak ada Haidar yang selalu berdekatan dengan Vanya. Semakin membuat Irwan sering memperhatikannya. Jadi, Irwan sedikit banyaknya sudah mengetahui beberapa hal kecil tentang gadis itu.


"Btw Va, hubungan lu sama Haidar gimana? Kok gua ga pernah liat dia jemput atau nganterin lu kerja?" Tanya Irwan.


Vanya menaikkan sebelah alisnya. "Kakak merhatiin gua? Setau gua, kakak bukan orang yang kepo deh."


Mendengar hal itu, lantas membuat Irwan kembali terkekeh kecil. "Ya gimana ya.." Pria itu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Agak aneh aja gitu, biasanya dulu si Haidar nempel banget sama lu. Sekarang gua malah ga pernah ngeliat dia ada di sekitar lu."


"Emang segitu nempelnya ya?" Tanya Vanya.


Irwan mengedikkan bahunya.


"Hmmm..." Vanya lantas menghela nafasnya untuk sejenak. "Emang lagi sibuk sama kegiatan masing-masing aja sih.. Jadi ga banyak waktu buat jalan bareng." Vanya berkata seolah semuanya baik-baik saja.


Vanya tidak ingin menceritakan masalahnya pada Irwan. Vanya tidak ingin Irwan sampai menjadikan hal ini sebagai kesempatan untuk pria itu masuk ke dalam kehidupannya dengan tujuan untuk apa pun itu.


Terlebih lagi, selama beberapa waktu terakhir ini. Irwan memberikan perhatian padanya secara terang-terangan. Hal itu semakin membuat Vanya merasa waspada terhadap niat pria itu.


Irwan pun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Gua kira kalian udah pisah."


"Kenapa emangnya?" Tanya Vanya cepat.


"Tadinya gua pengen ngedeketin elu." Irwan berkata dengan terus terang.


Vanya lantas menyunggingkan senyum simpulnya. Benarkan apa yang baru saja Vanya katakan, pria itu memang berniat untuk masuk ke dalam kehidupan Vanya.


"Kayak ga ada cewek lain aja.." Ucap Vanya.


"Cewek lain mah banyak.. Tapi nyari cewek yang sesuai dengan selera itu susah." Sahut Irwan.


Vanya seketika saja menaikkan sebelah alisnya. "Selera?"


Irwan mengangguk tanpa ragu. "Gua lebih suka tipe cewek yang kayak elu. Acuh tak acuh.. Enak aja gitu kayaknya kalo di jadiin pasangan. Ga ribet, ga bakalan terlalu bikin over thinking juga buat guanya. Soalnya gua tipe cowok yang cemburuan banget." Tutur pria itu dengan senyum kecil yang terus tersungging di bibirnya.


Yang mana, hal itu membuat Vanya terkekeh kecil. Gadis itu melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya.


"Balik ke dalem yuk, jam istirahatnya udah abis." Gadis itu berkata seolah mengabaikan apa yang baru saja di katakan oleh Irwan.


Mendapat respon seperti itu, lantas membuat Irwan hanya bisa menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Namun, meskipun begitu, pria itu tetap menganggukkan kepalanya.


"Yaudah yuk.." Ucap Irwan.


Mereka pun akhirnya kembali menuju ruangan mereka masing-masing.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2