Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Hilang Tanpa Kabar


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Si Haidar belum ada kabar juga?" Tanya Nisa seraya mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.


Vanya yang tengah membantu Nisa melipat baju pun menoleh pada gadis itu lalu menggelengkan kepalanya.


Nisa menatap Vanya dengan dahi yang mengernyit. "Dari semenjak pembagian ijazah itu sampe sekarang belum ada kabar sama sekali?"


Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sedikit lesu.


"Berarti dia ilang selama hampir seminggu ini dong?"


Vanya kembali menganggukkan kepalanya, gadis itu menghela nafasnya kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Gua bingung harus ngapain. No nya ga aktif, apartmentnya juga kosong. Gua juga ga tau salah gua apa sampe-sampe dia tiba-tiba ngilang kayak gini.."" Gadis itu berkata dengan sedikit memelas.


Ya, selama 1 minggu terakhir ini. Dari semenjak pembagian ijazah kelulusan, Haidar sama sekali belum memberikan kabar pada Vanya.


Vanya benar-benar merasa bingung atas hal ini. Karena sebelum Haidar menghilang, hubungan mereka baik-baik saja. Bahkan, di malam sebelum Haidar menghilang, mereka sempat melakukan kencan di pantai yang biasa mereka kunjungi.


Di hari pertama Haidar menghilang, Vanya merasa takut jika saja terjadi sesuatu hal yang buruk pada pria itu. Oleh sebab itu, Vanya memeriksa apartemen Haidar guna memastikan keadaan pria itu.


Namun sayangnya, Vanya sama sekali tidak menemukan keberadaan Haidar. Bahkan apartemen pria itu terlihat sangat rapi dan sedikit berdebu seolah sudah berhari-hari tidak di tinggali.


Tidak hanya pada hari itu saja. Vanya mengunjungi apartemen Haidar di setiap Harinya dengan harapan dia akan bertemu dengan Haidar. Tapi, meskipun begitu, Vanya tetap tidak dapat menemukan tanda-tanda keberadaan Haidar.


Di satu sisi, Vanya merasa khawatir akan keadaan Haidar. Di sisi lain, Vanya juga bingung, apa yang membuat Haidar menghilang tanpa kabar seperti ini.


Melihat Vanya yang sangat gelisah, lantas membuat Nisa tergerak untuk menepuk-nepuk bahu gadis itu.


"Yang sabar, mungkin aja dia lagi ada urusan penting." Nisa berkata seraya mengelus kepala Vanya dengan lembut.


Vanya menatap Nisa dengan mencebikkan bibirnya. "Tapi ini udah seminggu Nis.." Gadis itu kini terlihat semakin memelas.


Nisa menghela nafasnya sejenak kemudian berkata. "Lu udah coba ke rumahnya apa belum? Siapa tau aja dia ada di sana."


"Oh iya ya. Kok gua ga kepikiran sih.."


"Yaudah, kalo gitu nanti mending lu cek ke rumahnya aja."


Vanya menganggukkan kepalanya. "Nanti deh abis nganterin lu ke bandara."


"Senyum dulu dong. Bosen gua liat muka cemberut lu terus.. Ya kali gua mau ninggalin elu di saat elunya sedih kayak gini."


Vanya lantas menyunggingkan senyum kecilnya. "Kayak gini?"


"Kurang lebar.. Segini nih.." Nisa berkata seraya merentangkan kedua sudut bibir Vanya agar gadis itu tersenyum lebih lebar.


Vanya pun menurutinya kemudian terkekeh geli. "Udah ah ayo ngepak baju-baju lu lagi.. Telat nanti." Gadis itu berkata seraya beringsut untuk duduk.


Mereka lantas kembali melanjutkan kegiatan mereka dalam mengemasi barang-barang milik Nisa ke dalam koper.

__ADS_1


*****


Setelah selesai dengan barang-barang bawaan. Vanya kini mengantarkan Nisa dan Rima menuju bandara dengan gadis itu sebagai supirnya.


"Va, kalo besok atau kapan pun itu kamu berubah pikiran, bilang sama tante ya. Nanti tante beliin tiket buat kamu nyusul tante sama Nisa ke bali." Kata Rima.


Vanya lantas melirik Rima sekilas melalui kaca spion depan. "Beres tan.. Udah, tante jangan mikirin Vanya terus. Mending tante fokus ke resto yang baru tante buka.. Vanya di sini baik-baik aja kok."


Rima menatap Vanya dengan mata yang sedikit memicing. "Gimana ga di pikirin, kamu itu juga anak gadis tante.. Masa iya tante ga boleh mikirin anak gadis tante."


Vanya seketika terkekeh kecil. "Iya deh iya.. Pokoknya tante tenang aja, Vanya di sini baik-baik aja kok. Aman deh pokoknya.. Besok kalo Vanya pengen nysusul tante sama Nisa, Vanya pasti langsung minta tante buat beliin tiket."


Nisa seketika menatap Vanya dengan tatapan menyelidik. "Bener loh ya va.." Gadis itu berkaya seraya menunjuk Vanya.


Vanya menyunggingkan senyum kecilnya. "Iya Nis, beneran.."


Nisa kini memicingkan kedua matanya. "Janji loh.."


Vanya menganggukkan kepalanya. "Janji."


Hingga tak lama setelah itu, mereka pun sampai di tempat tujuan.


Setelah menurunkan koper yang akan di bawa oleh Rima dan Nisa, mereka lantas menatap Vanya dengan tatapan sendu.


"Jaga diri kamu baik-baik ya.." Rima berkata seraya memeluk Vanya dengan erat.


"Iya tan.. Tante juga jaga diri baik-baik ya."


Rima mengangguk kemudian melerai pelukannya.


Vanya membalas pelukan Nisa dengan sangat erat kemudian menganggukkan kepalanya.


Setelahnya, Rima dan Nisa pun segera ke dalam karena sebentar lagi pesawat yang mereka tumpangi akan segera lepas landas.


"Hati-hati ya.." Vanya berteriak seraya melambaikan tangannya pada Nisa dan juga Rima.


Rima dan Nisa pun membalas lambaian tangan Vanya. "Kamu juga hati-hati.."


Vanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


Setelahnya, gadis itu memutuskan untuk segera pergi dari sana menuju ke rumah Haidar.


Saat dalam perjalanan, Vanya mencoba untuk menghubungi pria itu.


Tapi tetap saja, berapa kali pun Vanya mencoba, Vanya tetap tidak bisa menghubunginya karena pria itu mematikan ponselnya.


Vanya yang merasa kesal pun sedikit membanting ponselnya pada jok penumpang di sampingnya.


"Ck! Kemana sih sebenernya.. Kalo emang mau ninggalin gua tu bilang, jangan tiba-tiba ngilang kayak gini!!" Gadis itu menggerutu seraya menambah kecepatan laju mobilnya.


Sesampainya di rumah Haidar, Vanya memarkirkan mobilnya di luar gerbang kemudian segera keluar dari dalam mobil.


"Kok sepi ya?" Vanya bergumam seraya menatap keadaan rumah itu yang seperti tidak berpenghuni.

__ADS_1


Gadis itu lantas menekan bel rumah yang terpasang di tembok samping gerbang.


Hingga ketika dia menekan bel untuk yang ke 4 kalinya, keluarlah seorang yang mengenakan pakaian pelayan yang sedikit asing untuk Vanya.


Vanya pun menatap pelayan itu dengan dahi yang mengernyit bingung.


"Pelayan yang baru kali ya? Tapi, bukannya orang-orang yang kerja di sini pada ga pake seragam ya? Kok ini dia pake seragam?" Gadis itu bergumam di dalam hatinya.


Hingga ketika si pelayan itu sudah berada di hadapan Vanya, dia pun segera membuka pintu gerbang kemudian keluar untuk menemui Vanya.


"Maaf non, non cari siapa ya?" Tanya si pelayan itu.


"Haidarnya ada ga ya mbak?" Tanya Vanya.


Namun, si pelayan itu justru mengernyitkan dahinya seolah tidak mengenal siapa itu Haidar.


"Maaf Non, Haidar siapa ya?" Tanya si pelayan itu.


"Yang punya rumah ini." Vanya menjawab dengan sedikit bingung.


Si pelayan itu lantas tersenyum canggung. "Aduh, maaf non, saya kurang tau siapa yang di maksud sama non.. Saya baru 3 hari kerja di sini dan ga ada yang namanya Haidar."


"Maksudnya gimana ya?" Vanya kini merasa semakin bingung.


"Ada apa ya?" Tanya seorang pria muda yang baru saja datang menghampiri Vanya dan juga si pelayan.


Vanya lantas menatap pria itu dengan tatapan bingungnya karena pria itu benar-benar asing untuk Vanya.


"Ah, ini tuan.. Non ini cari yang namanya Haidar." Ucap si pelayan.


"Oooh.. Haidar anaknya Om Andi ya?" Tanya pria itu.


Vanya menganggukkan kepalanya.


"Mereka udah pindah dari seminggu yang lalu." Ucap pria itu.


"Pindah?" Vanya mengernyitkan dahinya.


"Iya pindah. Rumah ini di beli sama orang tua ku." Jelas pria itu.


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh pria itu, seketika saja membuat Vanya benar-benar merasa sangat terkejut.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2