Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Bertemu


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Udah boleh tau, rumah papah mu yang mana?"


Vanya menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya. "Bentar dulu, gua masih takut.."


Haidar menggaruk pelipisnya. Pasalnya, mereka sudah hampir 1 jam lamanya berdiam diri di suatu area perumahan. Yang di katakan Vanya, kalau area perumahan itu merupakan tempat tinggal Bagas, ayah Vanya.


Tidak, Haidar bukannya merasa tidak sabar karena harus terus berdiam diri di sini dan menunggu kesiapan Vanya. Haidar justru merasa gemas karena Vanya sedari tadi hanya terus menghela nafasnya berulang kali.


Kalau saja Vanya mengajaknya berbicara, mungkin saja Haidar tidak akan merasa gemas seperti ini.


Ayolaaahh.. Siapa yang tidak akan merasa bosan jika harus menemani seseorang yang terus membungkam mulutnya.


Haidar lantas menoleh pada Vanya.


"Va..."


"Bentar Dar.. Bentar lagi aja.. Gua masih ngumpulin keberanian ini.."


"O, ok.."


Haidar pun memutuskan untuk menghidupkan music melalui ponselnya yang di sambungkan pada perangkat audio yang ada di mobilnya.


Jeng jeng!


Suara itu mampu membuat Vanya yang sedang melamun seketika berjengkit karena merasa sangat terkejut.


Haidar lantas segera mematikan audio mobilnya. Karena jujur saja, bukan hanya Vanya yang merasa sangat terkejut, dia juga benar-benar merasa sangat terkejut. Dia lupa mengecilkan volume audio mobilnya sehingga membuat suara yang keluar begitu besar.


"Ya ampun! Haidar. Lu ngehidupin music apaan si?!"


"He he.." Haidar menampilkan cengiran lebarnya.


"Sound efectnya film horror.. Sorry kepencet."


"Haish!! Yaudah ayok, tuh yang pagernya warna black gold."


Haidar menatap rumah yang di maksud Vanya dengan mata yang mengerjap. Pasalnya, mereka sedari tadi sudah berada di depan rumah yang di maksud Vanya.


Haidar kira, mereka masih jauh dari rumah ayah Vanya. Ternyata, mereka hanya perlu turun dari mobil kemudian masuk ke dalam rumah itu.


"Jadi dari tadi kita udah ada di depan rumah bokap lu?"


Vanya menganggukkan kepalanya.


"Yaudah ayok turun."


Haidar hendak membuka pintu mobilnya, namun Vanya segera menahan Haidar dengan menggenggam tangan pria itu.


"Kenapa?" Haidar menatap Vanya dengan sedikit bingung.


Apa kah kekasihnya itu masih belum siap?


Vanya terdiam untuk sejenak kemudian menggelengkan kepalanya. Vanya pun melepaskan tangan Haidar yang dia genggam.

__ADS_1


"Yaudah yok turun."


Haidar menganggukkan kepalanya.


Mereka pun segera turun dari mobil.


Walaupun Vanya merasa sangat ragu, namun Vanya tetap masuk ke dalam rumah yang sudah tidak pernah dia datangi entah untuk berapa lama.


Ting Tong...


Ting Tong...


Vanya menekan bel rumah itu.


Tak perlu menunggu lama, seseorang membukakan pintu rumah itu.


Seseorang yang membukakan pintu rumah itu terdiam mematung, dia merasa sangat terkejut melihat kalau Vanya lah yang datang.


"Non Vanya.." Lirih bi Asih.


Air mata perlahan mulai menumpuk di kelopak matanya yang kini sudah berkeriput.


Meskipun sudah bertahun-tahun lamanya, namun bi Asih tetap mampu mengenali wajah Vanya. Tidak ada perubahan signifikan yang terjadi pada wajah Vanya. Hanya saja, gadis itu kini sudah bertumbuh besar dan semakin tinggi.


Jika dulu Vanya masih setinggi pinggang bi Asih, kini Vanya sudah tumbuh tinggi yang bahkan tingginya melebihi Bi Asih.


"Non.. Non kemana aja? Bibi kangen banget sama non.."


Bi Asih tak kuasa menahan rasa rindunya, dia mendepak Vanya di dalam pelukannya dengan sangat erat. Sungguh, dia benar-benar merindukan gadis ini.


Gadis yang semasa kecilnya dia rawat dengan penuh kasih sayang. Gadis yang selalu mengadu padanya di saat Ayu dan Bagas menyakitinya. Gadis selalu tidur di dalam pelukannya saat gadis ini merasa ketakutan. Gadis yang bahkan sudah dia anggap seperti putrinya sendiri.


Bi Asih tak kuasa menahan tangisnya, air matanya luruh membasahi pipi keriputnya.


Vanya membalas pelukan Bi Asih dengan tak kalah eratnya.


"Vanya juga kangen sama bibi.."


Suara Vanya terdengar sedikit bergetar, gadis itu berusaha untuk menahan tangisannya.


"Khem!"


Haidar memalingkan wajahnya, dia tidak kuasa menahan rasa harunya. Dia juga tidak tahu, kenapa dia bisa se melankolis ini.


Ah, apa kah ini karena Vanya?


"Aduh, maaf.. Bibi ga sadar kalo non engga dateng sendiri."


Bi Asih segera melepaskan pelukannya, dia mengelap air matanya dengan sedikit canggung.


"Ga papa bi, saya udah biasa kok. Soalnya Vanya juga sering kayak gitu, sering engga nganggep saya. Aduh! Sakit Va.."


Haidar mengusap pinggangnya yang di cubit Vanya.


Bi Asih seketika saja terkekeh kecil.


"Udah udah, ayok masuk."


Bi Asih menggandeng Vanya untuk masuk ke dalam. Namun Vanya justru hanya berdiam diri seolah enggan untuk masuk.

__ADS_1


"Bi.."


"Kenapa non? Masuk aja ga papa.."


"Anu.. Papah?"


Bisa Asih menyunggingkan senyum lembutnya, dia cukup mengerti akan keraguan yang di rasakan oleh Vanya. Ah tidak, lebih tepatnya, bi Asih benar-benar mengerti. Bukan hal yang aneh atau pun mengejutkan bagi Bi Asih kenapa Vanya bisa bersikap seperti itu.


"Ga papa non.. Masuk aja.. Pak Bagas pasti seneng banget kalo tau non dateng kesini."


Vanya menatap bi Asih dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan. Jujur saja, Vanya merasa sedikit sanksi pada apa yang di katakan oleh bi Asih.


"Non.. Percaya deh sama bibi.. Bapak pasti seneng liat non. Bahkan bapak selama ini berharap banget buat ketemu sama non."


"Tapi bi.."


"Di coba aja dulu Va.." Haidar mencoba untuk membantu meyakinkan Vanya.


"Yaudah deh.."


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah.


"Papah di mana bi?"


"Bapak ada di halaman belakang, lagi nyiramin taneman."


Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bibi sejak kapan ada di sini lagi?"


Bi Asih menoleh pada Vanya, dia menyunggingkan senyumannya.


"Sejak bapak pisah sama bu Ayu, bapak jemput bibi di kampung, nyuruh bibi buat balik ke rumah ini lagi.'


Vanya pun ber "oh" ria.


"Yaudah kalo gitu, kalian tunggu di sini ya. Bibi panggilin bapak dulu."


Vanya menganggukkan kepalanya, dia dan Haidar pun duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


Vanya menatap sekeliling rumah itu, tidak ada perubahan yang signifikan. Tanpa Vanya sadar, senyum kecil perlahan tersungging di bibirnya, semuanya masih sama seperti sebelum dia meninggalkan rumah itu. Hanya saja, tidak ada satu pun potret pernikahan Bagas dan Ayu yang terpasang di dinding atau pun terpajang di meja.


Meskipun di rumah ini tersimpan banyak kenangan buruk, tapi tidak seidkit pula kenangan manis yang juga tersimpan di rumah ini.


"Vanya.."


Senyum yang tersungging di bibir Vanya seketika saja luntur, raut wajahnya kini berubah menjadi sedikit gelap. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat seolah memaksa untuk keluar dari tempatnya.


Perlahan, Vanya menoleh ke arah suara. Di mana di sana ada Bagas yang tengah berdiri seraya menatapnya dengan tatapan sendu.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2