Karina Dan Alfa

Karina Dan Alfa
Mencari bukti


__ADS_3

Kejadian saat resepsi pernikahannya membuat Alfa harus segera mendapatkan bukti untuk menjerat pelaku. Kali ini Alfa dan Tama mendatangi sebuah rumah yang merupakan orang yang menyiram Karina dengan darah saat resepsi pernikahannya. Wajah pelaku berhasil didapatkan dan juga bukti sidik jari yang tertempel di botol yang berisi darah telah diamankan Tama saat kejadian itu. Dari hasil penyelidikan, ternyata pelaku adalah seorang laki-laki berumur dua puluh tahunan.


Alfa dan Tama telah mengintai laki-laki yang bekerja sebagai kasir disebuah super market. Alfa dan Tama sebenarnya ingin menyergap tersangka di Rumahnya, namun ketika keduanya mendapatkan informasi ibu korban memiliki penyakit jantung, membuat Alfa dan Tama mengurungkan niatnya.


"Al, sebaiknya kita cegat dia saat dia keluar dari rumahnya!" ucap Rama.


"Iya dan kita tunggu sampai jam dua belas malam!" ucap Alfa.


Tama menganggukkan kepalanya. "Calon pengantin besok akan menikah dan malam ini membantu sahabatnya menyelidiki masalah sahabatnya, kau memang luar biasa Tama" ucap Alfa membuat Tama menyunggingkan senyumannya.


"Kalau malam ini malam pertama saya bersama istri, saya tidak akan rela menemanimu Al" ucap Tama membuat Alfa tersenyum.


"Sebagai sahabatmu pasti aku mengerti Tam" ucap Alfa menepuk bahu Tama.


Tiba-tiba keduanya menatap seseorang yang keluar dari rumahnya dan berjalan kaki melewati mobil mereka. Alfa segera menghidupkan mesin mobilnya dan kemudian mengikuti laki-laki itu dengan pelan. Saat jalan terlihat sepi Alfa sengaja memajukan mobilnya hingga ia sengaja menepi dan laki-laki itu tidak menyadari jika ia sedang diikuti. Alfa segera membuka pintu mobilnya dan menarik kera baju laki-laki itu saat laki-laki itu berjalan mendekati mobilnya.


"Lepaskan! apa yang kau lakukan?" teriaknya membuat dua orang yang lewat disekitar mereka mendekati Alfa namun Tama segera keluar sebelum perkelahian terjadi.


"Kami polisi" ucap Alfa menujukan pistol yang berada dipinggangnya dan kemudian memperlihatkan kartu anggota kepada mereka. "Dia tersangka pengancaman dan akan segera kami amankan!" ucap Tama membuat keduanya hanya bisa menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Alfa membawa masuk laki-laki itu danTama memborgol kedua tangan laki-laki itu. Laki-laki itu terlihat ketakutan. "Apa salah saya? saya harus pergi membelikan ibu saya obat Pak?" ucapnya.


"Kau tidak ingat saya? Saya adalah suami dari pengantin wanita yang kau siram dengan darah" ucap Alfa dingin membuat wajah laki-laki itu memucat.


"Saya tidak tahu Pak, saya tidak melakukan apa-apa" ucapnya.


"Namamu Danang bukan? sidik jarimu terdapat di botol yang berisi darah. Video cctv juga menunjukan wajahmu dengan jelas" ucap Alfa membuat laki-laki menangis karena ketakutan.


"Maafkan saya Pak, saya terpaksa melakukannya agar mendapatkan uang untuk operasi ibu saya dan juga untuk membeli obat ibu saya, Pak!" ucap Danang.


Alfa memejamkan matanya membuat Tama menghembuskan napasnya. "Siapa yang membayarmu untuk melakukan semua ini?" tanya Alfa.


"Seorang perempuan Pak, saya tidak mengenalnya tapi dia tahu saya membutuhkan uang Pak. Saya menerima uang dan dia memberikan saya uang. Tadinya ia meminta saya untuk menusuk istri Bapak tapi saya tidak mau menjadi pembunuh dan saya memutuskan untuk menyiramkan darah ketubuh istri bapak agar saya bisa mendapatkan uang dengan menunjukan darah ditangan saya. Saya berpura-pura telah menusuk istri bapak. Dia juga mengancam saya saat ini karena saya tidak menusuk istri Bapak!" ucap Danang.


"Tidak Pak, dia mengirimkan pesan kepada saya dengan nomor ponsel yang berbeda-beda" ucap Danang.


Tama dan Alfa saling menantap. "Kau ikut kami dulu!" ucap Alfa. "Jika kau berkata jujur kami akan melepaskanmu!" jelas Alfa.


"Saya tidak berbohong Pak, saya melakukan ini karena terpaksa. Saya ingin menyelamatkan ibu saya!" ucap Danang.

__ADS_1


Alfa membawa Danang ke Rumah Riskan karena ia ingin menyelesaikan masalah ini sendiri karena merasa simpati kepada pelaku. "Kalau kamu melukai istri saya, kamu tidak akan lolos dari jeratan hukum" ucap Alfa.


Saat ini mereka sedang berada di salah satu kamar kosong di Rumah Riskan. Riskan ingin memukul laki-laki ini tapi Alfa melarangnya. "Dia bisa menjadi umpan agar kita mendapatkan pelakunya" ucap Alfa.


"Lacak nomor ponsel terakhir yang telah mengirimkan pesan kepada Danang dan juga beberapa nomor sebelumnya!" ucap Tama.


"Oke itu masalah gampang!" ucap Riskan dan ia segera mencari informasinya dengan laptop yang ia pakai.


"Kita petakan mereka, aku yakin pola lingkungan agak mempersempit tempat dan waktu serta kedekatan pelaku pengancaman yang sebenarnya" ucap Alfa.


Tama menatap Alfa dengan tatapan serius "Bawakan foto para sahabatmu itu Alfa dan kita bisa menunjukan foto ini kepada mereka" ucap Tama


"Oke" ucap Tama.


Riskan masuk kedalam kamar ini dan menunjukkan alamat, tempat bekerja dan juga foto pemilik no ponsel yang dipakai tersangka. Alfa menderetkan keterangan itu dan kemudian ia mendapatkan jika lima dari pemilik no ponsel itu bekerja diseputaran tempat yang sama dan itu merujuk ke dua nama.


"Tempat ini dekat dengan tempat Fefin dan Viona bekerja" ucap Alfa.


Fefin saat ini telah bekerja didaerah yang tidak jauh dari tempat Viona bekerja. "Dua orang ini adalah tersangkanya Al" ucap Riskan ikut memikirkannya.

__ADS_1


"Pelaku sangat licik dan pintar. keduanya seingatku tidak memiliki sikap psikopat seperti ini" ucap Alfa.


"Mereka pintar bersembunyi Alfa" jelas Riskan.


__ADS_2