
Tama kesal? tentu saja ia sangat kesal karena ulah sahabatnya yang mengganggu malam pertamanya. Ya... untuk pertama kalinya Serena setuju untuk menyerahkan diri padanya malam ini dan saat ia baru akan memulai, Alfa telah membuatnya malu. Saat ini Tama bersama Serena menuju hotel dengan mengendarai motornya.
Tama menghentikan motornya disebuah hotel bintang tiga yang tidak jauh dari asramanya. "Kalau sampai terdengar lagi ditelinga Alfa berarti dia setan," ucap Tama.
"Siapa yang setan?" tanya Serena.
"Nggak ada kamu salah dengar, ayo Ren kita masuk!" ucap Tama segera turun dari motornya.
Serena menatap Tama dengan heran, apa iya ia harus melakukannya dihotel ini. Tama melangkahkan kakinya masuk kedalam hotel sambil memegang tangan Serena. Namun ia menghentikan langkahnya saat melihat beberapa orang polisi dengan memakai baju bebas tanpa seragam sedang menangkap beberapa orang tersangka.
"Hai Tam," ucap salah seorang polisi yang merupakan salah satu perwira yang Tama kenal. Beberapa orang polisi lainnya mengangkat tanganya memberi hormat kepada Tama. Tama membalasnya dengan memberi penghormatan dan ia segera menurunkan tangannya diikuti mereka semua yang juga menurunkan tangannya. Rio meminta semua bawahannya segera pergi membawa tersangka.
"Kasus apa?" tanya Tama.
"Mucikari dan artisnya," ucap Rio.
"Ngapain Tam?" tanya Rio sambil melirik Tama. Rio berbisik ditelinga Tama namun masih bisa terdengar oleh Serena "Cantik banget Tam, mana cantik sama bini lo anak Pak Idris?" ucap Rio yang salah sangka menganggap Serena adalah selingkuhan Tama.
__ADS_1
"Ren dia Rio teman saya dan Rio, ini istri saya anaknya Pak Idris!" ucap Tama membuat Rio terkejut.
"Hai Mbak, saya Rio."
"Serena istrinya Tama dan bukan simpanan Tama!" kesal Serena membuat Rio menelan ludahnya dan kemudian ia menahan tawanya melihat ekspresi Serena yang terlihat sangat marah.
Tama menarik tangan Rio agar menjauh dari Serena. "Yang bener aja kamu Rio, bisa-bisa istri saya ngembek gara-gara kamu!" kesal Tama.
"Tam, lo itu ada-ada aja. Tinggal di Asrama dekat sini malah ngajakin istri bobok di hotel, gue pikir dia pacar lo Tam, bukan istri lo!" ucap Rio.
"Oke biar gue jelasin sama bini lo Tam!" ucap Rio.
Keduanya kembali mendekati Serena yang masih terlihat kesal. "Mbak Serena, Tama ini ternyata romantis juga ya, ngajakin bobo dihotel pada hal asrma tempat tinggal kalian tidak jauh dari sini," ucap Rio membuat Tama menghembuskan napasnya.
"Nggak tahu tiba-tiba udah malam begini ngajak ke sini, biasanya dia nggak begini!" ucap Serena.
"Hehehe... Tam imajinasi lo ternyata liar juga ya hahaha... ya udah gue permisi ya Tam. Mbak Serena duluan... " ucap Rio tersenyum jahi dan ia memilih untuk segera pergi menyelamatkan diri dari amukan Tama.
__ADS_1
Serena menatap Tama dengan sengit namun tidak membuat Tama mengurungkan niatnya untuk menginap di Hotel ini. Tama menarik tangan Serena agar mengikutinya. Tama segera memesan sebuah kamar dan setelah menerima kartu kunci, keduanya mengikuti karyawan hotel yang mengantar mereka ke kamar yang mereka pesan. Mereka sampai didalam kamar dan saat ini hanya ada Tama dan juga Serena didalam kamar ini.
Tiba-tiba suasana menjadi sedikit canggung. Serena memilih untuk duduk disofa dan Tama masih berdiri sambil memegang tengkuknya. "Ngapain ke hotel, orang jadi salah paham sama kamu Kak. Masa aku dibilang selingkuhan kamu!" kesal Serena membuat wajah Tama memerah karena malu.
"Kalau nggak pindah ke hotel kamu nggak bisa teriak-teriak Ren!" ucap Tama.
"Ngapain juga Teriak-teriak memang kita lagi marahan apa?" tanya Serena membuat Tama menghela napasnya.
"Bukan gitu Ren, tadi saat kita mau melakukannya Alfa bilang kedengaran," jelas Tama membuat wajah Serena memerah karena sekarang ia mengerti maksud Tama.
"Ya udah sekarang mau apa?" tanya Serena pelan dan ia memejamkan matanya sambil menundukkan kepalanya karena malu.
"Mau kamu Ren boleh ya, kita lanjutin!" pintaTama. Serena menganggukkan kepalanya membuat Tama tersenyum dan ia segera mendekati Serena dan menggedong Serena seperti memikul sekarung beras dibahunya membuat Serena terpekik karena terkejut dengan prilaku Tama yang tiba-tiba menggendongnya. Tama membaringkan tubuh Serena dan ia menindih tubuh Serena.
"Baru digendong kayak gini kamu udah teriak Ren, apalagi kalau kita sedang... " ucapan Tama terhenti saat Serena tiba-tiba mengecup bibirnya.
Tama tersenyum dan tentu saja ajakan Serena ini tidak akan ia lewatkan. Tama menyetuh tiap jengkal tubuh istrinya dengan lembut dan dengan penuh cinta. Keduanya sama-sama menikmati malam panjang yang penuh kebahagiaan. Malam ini Serena menjadi istri Tama yang seutuhnya dan Tama berharap agar ia bisa memenuhi keinginan orang tuanya yaitu segera memberikan cucu untuk mereka.
__ADS_1