Karina Dan Alfa

Karina Dan Alfa
Mama


__ADS_3

Karina datang ditemani Alfa ke Rumah sakit jiwa tempat Mamanya dirawat. Sebenarnya ia ingin sekali Mamanya bisa menemani Sakti bersanding di pelaminan saat resepsi pernikahannya. Ia juga mendengar dari dokter jika keadaan Herlina Mamanya saat ini telah membaik. Herlina bahkan saat ini menghabiskan waktunya dengan membaca. Namun ketika Sakti mengajak Herlina untuk pulang, Herlina menolaknya karena ia masih ingin tinggal di Rumah sakti.


"Bang Karina takut Mama nggak mau datang Bang" ucap Karina sendu.


Alfa tersenyum lembut dan ia memeluk Karina dengan erat. Saat ini keduanya sedang didalam mobil yang telah terpakir diparkiran rumah sakit ini. "Apapun nanti keputusan Mama kamu harus terima Rin!" ucap Alfa membuat Karina menganggukkan kepalanya.


"Ayo kita kita temui Mamamu!" ucap Alfa. Karina menganggukkan kepalanya dan segera turun dari mobil bersama Alfa.


Keduanya melangkahkan kakinya melewati koridor rumah sakit. Didalam rumah sakit ini terlihat agak sepi karena pasien saat ini sedang berada didalam kamarnya masing-masing. Karina berdoa semoga Mamanya mengenalinya dan tidak mengusirnya. Ia ingin Mamanya memeluknya dan Mamanya bisa seperti dulu lagi.


Alfa memegang tangan Karina yang terasa dingin "Jangan khawatir insyaallah Mama pasti mengenal anak kesayangannya" ucap Alfa membuat Karina menahan rasa harunya dan menganggukkan kepalanya.


Bagi Karina Mamanya mengenalnya itu lebih dari cukup. Jika Mamanya nanti masih membencinya, ia akan menerimanya dari pada Mamanya yang tidak mengenalnya lagi. Mereka sampai di depan kamar perawatan Herlina. Sebelum datang kemari ia telah menghubungi Dokter yang menangani Mamanya dan Dokter mengatakan ia bisa langsung menemui Mamanya didalam kamar perawatannya. Karina menghembuskan napasnya dan Alfa mengelus rambut Karina dengan lembut. Alfa mengetuk pintunya dan suara Herlina terdengar.


"Masuk!" ucap Herlina.


"Ayo kita masuk!" ucap Alfa membuat Karina menganggukkan kepalanya.


Alfa menarik handel pintu dan keduanya masuk kedalam ruang perawatan Herlina. Karina menatap Herlina yang saat ini sedang menatapnya tanpa ekspresi. Tanpa mengatakan apapun Karina melepaskan tangan Alfa yang memegang tangannya dan ia melangkahkan kakinya dengan cepat mendekati Herlina yang sedang duduk diranjang sambil menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang. Herlina saat ini sedang membaca novel dan kemudian keseriusannya membaca terganggu karena ketukan pintu yang terdengar ditelingannya.


Karina segera memeluk Herlina. Ia seakan tidak peduli jika Herlina memukulnya atau bahkan mendorongnya hingga jatuh. Apapun nanti yang dilakukan Mamanya akan ia terima, asalkan ia bisa memeluk Mamanya.

__ADS_1


"Karin kangen Mama hiks...hiks... maafkan Karina ya Ma. Mama jangan sakit lagi. Ini Karina putri Mama!" lirih Karina sambil terisak.


Karina melihat kehadiran Alfa dan kemudian ia memejamkan matanya saat Karian menangis terseduh-seduh dipelukannya. "Kamu tidak bekerja?" tanya Herlina membuat Karina melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang Mama yang saat ini terpejam dan perlahan membuka matanya yang terlihat sendu dengan air mata yang tergenang dipelupuk matanya.


"Karina libur Ma" lirih Karina.


Karina kembali memeluk Herlina dengan erat. "Mama Karina minta maaf Ma, Karina sayang sama Mama hiks... hiks..." ucap Karina.


"Mama yang minta maaf sama kamu nak!" ucap Herlina dan tangis Herlina pun pecah.


Sementara itu Sakti terlihat tergesa-gesa dan ia segera masuk kedalam ruang perawatan Herlina. Tadinya ia masih berada di perusahaan dan berencana untuk ke super market membeli buah-buahan untuk Herlina. Namun saat membaca pesan dari Karina yang mengatakan jika saat ini ia akan menemui Herlina membuat Sakti kahwatir dan segera datang ke Rumah sakit. Sakti tidak ingin ibu dan adiknya itu saling menyakiti lagi.


"Mama" ucap Sakti.


"Kita sayang Mama, Ma!" ucap Sakti.


"Mama jangan menyalahkan diri sendiri lagi, Karina nggak mau Mama nggak ingat Karina lagi Ma!" pinta Karina.


"Iya Ma, Sakti janji akan membahagiakan Mama! Masalah perusahan juga sudah Sakti atasi Ma. Mama harus bisa sembuh dan menerima kepergian Papa dengan ikhlas, Ma!" ucap Sakti.


"Iya Mama ikhlas hiks...hiks... Mama salah nak... Papa... " lirih Herlina kembali mengingat mendiang suaminya.

__ADS_1


"Papa sudah bahagia disana Ma, Papa tidak merasa sakit lagi! Papa bilang ke Saki Tugas Mama sekarang bahagia bersama Sakti dan Karina. Papa pasti tidak suka Mama sedih kayak gini!" ucap Sakti membuat Herlina menganggukkan kepalanya.


Alfa merasa haru dan ia juga lega karena keadaan mertuanya telah membaik. "Ma, Mama datang ke resepsi pernikahan Karina Ma!" ucap Karina.


"Mama tidak pantas nak, Mama udah nyakitin kamu dan Papa. Kalau saja Mama nggak egois,mungkin Mama dan Papa bisa bersanding menemani kamu dan Alfa dipelaminan" ucap Herlina.


Karina menggigit bibirnya sambil terisak membuat Herlina mengelus kepala Karina dengan lembut. "Tapi Karina mau Mama datang hiks...hiks... Karina sedih Mama dan Papa nggak ada diresepsi Karina" ucap Karina.


"Ini hukuman Mama Karina, betapa Mama ingin sekali berada dipelaminan mendampingi kamu tapi Mama belum sekuat itu tanpa Papa. Maafkan Mama nak, maafkan Mama!" pinta Herlina. "Mama bukan ibu yang baik buat kamu Mama... ".


"Bagi Karin hanya Mama, Mamanya Karina Ma. Tidak ada yang lain. Mama Kirana adalah ibu yang mehirkan Karin, tapi Mama Herlina adalah ibu yang membesarkan Karin Ma!" jelas Karina.


Herlina melepaskan pelukannya dan ia kemudian menghapus air mata Karina dan juga air mata Sakti yang ikut menetes tanpa suara. "Sakti akan menemanimu dipelaminan Karina, ini cara Mama agar bisa menjadi kuat nak dan bisa menerima kenyataan. Mama janji akan segera sembuh dan akan menjadi nenek yang baik untuk cucu-cucu Mama kelak!" ucap Herlina.


Herlina tidak ingin menghancurkan resepsi pernikahaan putrinya hanya karena ia pasti akan menangis saat mengingat mendiang suaminya. Ia akan menjadi sorotan karena sedih dipernikahaan putrinya dan membuat suasana bahagia karena hancur karena sikapnya yang masih saja sedih karena kepergiaan suaminya.


"Mama akan berdoa agar kamu dan Alfa bahagia. Mama merestui kalian!" ucap Herlina membuat Karina kembali menangis haru dan Alfa tersenyum mendengarnya.


"Nak Alfa maafkan saya! Saya telah salah menilaimu selama ini. Kamu adalah laki-laki yng paling pantas menjadi menantu Mama karena putri Mama ini sejak dulu mencintai kamu!" ucap Herlina.


"Dia tidak bisa masak, anak manja yang sampai SMA saja kukunya masih Mama potong kalau tidak dia pasti lupa dan Mama akan dimarahin Papa" ucap Herlina mengenang masa lalu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Jaga Karina ya nak, jangan sakiti dia nak! dia harta yang berharga bagi keluarga kami!" ucap Herlina membuat Karina mengeratkan pelukannya. Sakti dan Alfa tersenyum mendengar ucapan Herlina.


"Tentu saja Ma, Alfa akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Karina dan juga menantu yang terbaik untuk Mama!" ucap Alfa membuat Herlina tersenyum haru.


__ADS_2