
Alam tidak menyangka jika istrinya Herlina kembali meminta Karina untuk menerima perjodohan yang tidak diinginkannya. Dulu Alam menyutujui Doni karena Doni terlihat sangat baik dimatanya, tapi ternyata Doni tidak sebaik yang ia kira. Mendengar kata perjodohan membuat Alam benar-benar kesal pada Herlina.
Alam menatap wajah putrinya yang terlihat tidak bahagia itu dengan sendu. Wajah cantik yang sangat mirip dengan mendiang istri pertamanya, Kinara. Kinara merupakan istri pertama Alam dan ia sangat mencintai Kirana. Sudah sepuluh tahun ia dan Kirana menikah, tapi mereka tidak kunjung diberi keturunan membuat Siti, ibu kandung Alam meminta Alam untuk menikahi karyawannya sendiri yang merupakan anak kerabat jauh Siti yaitu Herlin. Alam tidak setuju, namun Kirana memohon agar Alam setuju dengan permintaan Siti. kirana merasa selalu diteror oleh Siti yang meminta cucu untuknya atau bercerai dengan Alam.
Kirana sangat mencintai Alam dan tidak ingin bercerai dari Alam, meskipun ia harus merelakan suaminya menikah lagi. Kirana juga melihat Alam terlihat mendambakan seorang anak dan karena ia belum bisa memberikan seorang anak, Kirana akhirnya menyetujui permintaan mertuanya itu. Setelah Alam dan Herlina menikah, tiga bulan kemudian Herlina hamil dan akhirnya mereka memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Sakti.
Herlina merupakan wanita karir dan ia selalu mengikuti Alam, jika Alam pergi bertugas ke luar kota membuat Kirana merasa cemburu. Kirana akhirnya memilih memfokuskan dirinya untuk membesarkan Sakti yang dititipkan padanya sejak bayi dari pada menangisi rasa cemburunya kepada istri kedua Alam. Kirana yang membesarkan Sakti hingga Sakti berumur dua tahun dua bulan dan saat itu ia mendapatkan berita dari dokter jika ia akhirnya mengandung. Berita yang membuat Kirana sangat bahagia dan Alam juga terlihat sangat bahagia karena wanita yang ia cintai akhirnya mengandung anaknya.
"Pak Alam bagaimana kalau pernikahan Karina dan Samuel kita percepat?" ucap Retno membuat Jhoni menatap istrinya itu dengan kesal.
"Yang menikah bukan kalian kenapa tidak menanyakan anak-anak yang menjalaninya!" ucap Jhoni.
"Karin, bagaimana nak kamu mau kan menikah dengan Samuel?" tanya Retno membuat Karina mengangkat wajahnya dan menatap Alam dengan tatapan sendu.
"Maaf Tante, Karin... nggak bisa!" lirih Karina membuat Herlina kesal dan ingin sekali memarahi Karina sekarang juga namun ketika melihat wajah marah suaminya yang ditujukan untuknya membuat Herlina memilih untuk menahan emosinya.
"Nanti kita bicarakan lagi ya Jeng, soalnya Karina masih trauma karena pertunangannya kemarin itu batal!" ucap Herlina.
"Pada hal saya sudah sangat berharap mendapatkan menantu seorang dokter cantik kayak Karina!" ucap Retno.
"Samuel, kita pulang saja! ayo Pi!" ajak Retno kepada suami dan anaknya membuat Herlina terkejut.
"Ya ampun jeng nanti dulu kita selesaikan makan malam kita!" ucap Herlina.
__ADS_1
"Biarkan saja mereka pulang Ma!" ucap Sakti menatap Herlina dengan tatapan kecewa.
"Papa minta Pak Jhoni jangan pulang Pa!" ucap Herlina.
"Biarkan saja jika mereka ingin pulang kita tidak bisa memaksa!" ucap Alam dingin.
"Kami permisi Pak Alam!" ucap Jhoni.
"Iya Pak, maaf dengan kejadian hari ini yang membuat istri bapak marah!" ucap Alam.
"Iya Pak, kita tidak bisa memaksakan kehendak anak-anak Pak!" ucap Jhoni disetujui Alam.
"Papi ingat ya, jangan menginvestasikan dana ke perusahaan mereka yang hampir bangkrut itu!" ucap Retno.
"Karina asal kamu tahu ya, anak saya bisa mendapat perempuan sepuluh kali lebih baik dari kamu, kamu itu pembawa sial makanya pernikahanmu yang dulu itu batal!" teriak Retno membuat Herlina terdiam dan terduduk lemas.
"Lebih baik Tante pulang sekarang juga!" usir Sakti. Ia mendekati Karina dan memeluk Karina dengan erat. "Ada Kakak dek, Kakak nggak akan membiarkan kamu terluka lagi!" ucap Sakti.
Jhoni berserta keluarganya segera meninggalkan rumah kediaman Alam. Retno terlihat kesal karena Karina berani menolak putra semata wayangnya yang kaya, gagah dan tampan.
Sementara itu Herlina menatap Karina dengan tajam. Ia menghenbuskan napasnya karena Karina menolak menikah dengan Samuel padahal ia telah menyiapkan rencana pernikahan yang indah untuk Karina. Bertahun-tahun ia merasakan sakit hati karena harus membesarkan Karina sejak bayi hingga berhenti bekerja. Karina anak dari istri pertama yang ia benci karena memiliki hati suaminya.
Herlina memang menyayangi Karina tapi ketika melihat wajah Karina yang semakin besar mirip dengan Kirana membuat Herlina membuatnya kesal, kenapa ia harus hidup dengan bayang-bayang Kirana.
__ADS_1
"Herlina kali ini kamu sudah keterlaluan!" teriak Alam.
"Karina yang keterlaluan apa, anda saja dia tahu bagaimananya hari-hari yang aku jalani untuk membesarkannya!" teriak Herlina.
"Cukup, masuk ke kamarmu!" teriak Alam.
"Sepertinya Karina harus tahu Pa, biar dia tahu diri dan tidak membangkang Mamanya ini yang telah berkorban mengurusnya dari bayi hingga besar seperti ini!" ucap Herlina menatap Karina dengan tajam.
"Ma, hiks...hiks...maafkan Karina tapi Karina tidak mencintai Samuel Ma!" ucap Karina.
Herlina mendekari Karina dan ingin mengangkat tangannya memukul wajah Karina namun ketika mengingat bagaimana ia merawat Karina yang masih sangat kecil dan selalu menangis membuatnya menurunkan tangannya.
"Pa, selama ini aku sudah banyak berkorban tapi kamu hanya mengingat satu nama Kirana yang ada dihatimu hiks... " ucap Herlina. "Aku hanya ingin Karina menikah dengan laki-laki kaya yang bisa menyukupi kebutuhanya dan juga membantu perusahan kita Pa. Bukan Alfa anak Bagas dan Ratnya itu!" ucap Herlina.
"Cukup Herlina! apa kau tidak sadar? kau telah menyakiti putri kita" lirih Alam dan ia mendekati Karina lalu memeluk Karina dengan erat.
"Pantas saja kau tidak menyayangiku Karina, kau bukan anak yang lahir dari rahim... " ucap Herlina membuat Alam segera melepaskan pelukannya kepada Karina dan ia melempar piring yang ada diatas meja.
prang....
"Sakti bawa adikmu pergi dari rumah ini. Dia tidak pantas menjadi ibunya!" ucap Alam meminta Sakti segera membawa Karina pergi. "Jika kamu menginginkan Alfa menjadi suamimu, bilang sama Alfa temui Papa nak!" ucap Alam.
tbc...
__ADS_1