
Alfa terlihat sangat panik melihat keadaan istrinya yang tak kunjung sadar. Saat ini ia telah sedang berada di UGD dan Dokter menyarankannya untuk menunggu diluar karena sejak tadi Alfa tidak mau menjauh dari Karina. Alfa sangat terpukul dan ia memilih duduk bersandar di bangku ruang tunggu.
Tama mendekati Alfa, ia mengerti bagaimana khawatirnya Alfa dengan keadaan istrinya. Sama seperti Alfa ia juga sangat khawatit dengan keadaan Serena yang saat ini sedang diperiksa oleh Dokter. Luka dikepala Serena cukup dalam hingga Dokter membutuhkan waktu cukup lama untuk mengetahui kondisi kepala Serena.
"Maaf Tam, telah melibatkan istrimu!" ucap Alfa.
"Kau tidak perlu meminta maaf Al, Serena adalah sahabat Karina sebelum saya dan Serena menikah. Ikatan persahabatan mereka kuat dan Serena pasti akan melakukan apapun saat sahabatnya terancam" ucap Tama.
Dokter mendekati Alfa dan meminta Alfa berbicara kepadanya. Dokter menjelaskan jika kandungan Karina tidak bisa diselamatkan membuat Alfa menghela napasnya. Baginya yang terpenting Karina selamat. Dokter juga memberikan Karina obat penenang karena tadi Karina sempat bangun dan berteriak karena ia telah menyadari jika ia telah kehilangan calon bayinya.
Setelah berbicara kepada Dokter, Alfa mendekati Tama. Ia kembali duduk disebelah Tama. " Saya akan meminta Riskan mengintrogarsi Fefin dan mendapatkan informasi dari Fefin!" ucap Alfa.
__ADS_1
"Iya Al" ucap Tama.
"Pelakunya ini terlalu cerdas dan oleh karena itu saya ragu jika Fefin pelakunya" ucap Alfa.
"Tapi Fefin yang menghubungi Karina hingga Karina dan Serena di cegat saat perjalanan menuju kantor kita" jelas Tama.
"Aku rasa kita memang harus meminta Riskan untuk membuat Fefin mengaku jika dia merupakan dalang dalam masalah ini" ucap Tama sambil tersenyum sinis karena ia tahu ada mata-mata yang ternyata terlihat dan mengintip pembicaraannya bersama Alfa.
Beberapa jam kemudian Karina telah dipindahkan diruang perawatan sama halnya dengan Serena. Tama dan Alfa sengaja meminta keduanya berada dalam satu ruangan. Agar saat Karina sadar dan jika ia kembali histeris akan ada Serena yang berada didekatnya.
"Untuk apa kamu meminta maaf sayang? hmm... bagi Abang yang penting sekarang kamu cepat sembuh" ucap Alfa.
__ADS_1
"Karina salah Bang, Karina bodoh hiks... hiks... Karina tidak bisa menjaga anak kita!" ucap Karina memukul perutnya membuat Alfa menarik tangan Karina agar Karina menghentikan gerakannya dan ia segera memeluk Karina dengan erat.
"Kamu tidak salah, Abang yang lalai dan tidak mampu menjaga kalian! kamu jangan menyalahkan diri sendiri Karina, ini ujian buat kita sayang. Kita harus kuat menghadapinya!" ucap Alfa.
"Bang Serena Bang, gimana keadaan Serena Bang hiks...hiks..." tangis Karina mengingat sosok Serena yang tadi pergi bersamanya.
Tama menyingkirkan tirai pembatas dan membuat Karina bisa dengan mudah bertemu Serena. "Aku nggak apa-apa Ren!" ucap Serena tersenyum lembut dengan wajah bersimbah air mata.
Tama mengambil tisu basah dan mengusapkannya ke wajah istrinya. Serena kembali memeluk Tama saat pintu tiba-tiba terbuka. Tama tahu saat ini istrinya masih mengingat kejadian itu dan membuatnya terlihat sangat ketakutan.
Ternyata yang masuk tergesa-gesa dalam ruangan ini adalah Sakti dan Herlina. Karina melihat kedatangan Herlina tangisnya semakin tumpah. Herlina segera memeluk Karina dan ia duduk diatas ranjang agar bisa memeluk putri bungsunya itu.
__ADS_1
"Mama, anak Karina nggak ada lagi Ma" adu Karina.
"Mama tahu ini berat untu kamu nak, tapi kamu itu anak Mama yang kuat. Kamu pasti menghadapi semua ini!" ucap Herlin.