
Karina bangkit dari kesedihannya, sudah satu minggu ini ia telah mulai bekerja dan Alfa selalu berusaha menjemput dan mengantar Karina kemanapun Karina pergi. tapi jika Alfa sedang sibuk bekerja, Serena yang akan selalu menemani Karina. Alfa tidak membiarkan Karina pergi sendirian sebelum pelaku pengancaman itu tertangkap.
Sebenarnya Alfa sudah memiliki beberapa orang yang menjadi tersangka pengancaman dan juga dalang dibalik kebangkrutan perusahaan orang tua Karina. Namun Alfa belum memiliki banyak bukti dan saat ini ia sedang mengumpulkannya agar pelaku itu mendapatkan hukuman yang berat. Paling tidak Alfa bisa menyeretnya dengan pasal berlapis hingga bisa menjeratnya dengan hukum pidana.
Hari ini Karina akan pergi melihat keadaan Mamanya yang saat ini dirawat di Rumah sakit jiwa. Karina pergi ditemani Serena karena Alfa sedang pergi bertugas. Karina merasa jantungnya berdetak kencang karena ia akan menemui Mamanya. Karina sebenarnya sangat khawatir jika Herlina tidak mengenalnya. Ia pasti akan merasa sangat sedih apalagi jika Herlina menolak bertemu dengannya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakti Karina hanya diam dan menatap jalanan membuat Serena bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan Karina. Sahabatnya itu memang harus ia temani jika tidak ia pasti akan selalu khawatir apalagi sengan kondisi Karina yang seperti ini. Mereka sampai di Rumah sakit jiwa. Serena dan Karina segera turun dari taksi dan melangkahkan kakinya masuk kedalam Rumah sakit.
"Ren kalau Mama nggak kenal aku, gimana ya? atau Mama nggak mau ketemu aku lagi Ren?" tanya Karina sendu membuat Serena menghela napasnya.
"Jangan berpikiran buruk dulu Rin!" ucap Serena memeluk Karina dan mencoba meyakinkan Karina agar berani menghadapi apapun yang terjadi nanti.
"Ren, aku tidak ingin Mama histeris Ren. Hari ini kita lihat Mama dari jauh aja ya Ren!" ucap Karina membuat Serena menganggukkan kepalanya karena ia setuju jika saat ini pilihan yang terbaik adalah melihat Herlina dari jauh.
"Oke Rin, kita harus ketemu dokter yang menangani Tante Herlina. Kalau keadaan Tante Herlina telah membaik baru kamu bisa menemui Mamamu!" ucap Serena.
"Iya Ren" ucap Karina menghapus air matanya yang menetes memikirkan kondisi Mamanya.
__ADS_1
Hati Karina menjerit merasa tidak tega Mamanya dirawat di Rumah Sakti jiwa seperti ini. Apalagi ketika ia melihat beberapa pasien rawat yang berada disini memiliki kondisi yang berbeda-beda. Ada yang merasa menjadi anak kecil umur lima tahun padahal ia telah berumur kira-kira empat puluh tahun. Serena yang penasaran bertanya kepada salah satu dokter yang ternyata merupakan teman Serena. Dokter itu menjelaskan jika wanita itu telah kehilangan putrinya berumur lima tahun hingga ia merasa terguncang dan menganggap dirinya adalah putrinya.
"Dia ini Karina ya Ren?" tanya Dokter tampan itu.
"Iya" ucap Serena.
"Perkenalkan saya Abi" ucapnya tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya.
"Karina" ucap Karina menyambut uluran tangan Abi.
Melihat kebingungan Karina membuat Serena tersenyum "Dia ini Rin, anaknya prof Agung" ucap Serena membuat Karina ingat sosok seorang laki-laki yang pernah menyatakan cintanya padanya saat di kampus.
"Karina mana ingat karena dulu yang nembak dia itu banyak banget. Sama kayak kamu ya Ren banyak yang suka sejak SMA tapi karena takut sama bapaknya Serena semua pada mundur hehehe" ucap Abi terkekeh.
"Ingat kok kamu itu yang dulu kamu tiba-tiba bilang suka sama aku dan pengen aku jadi pacar kamu?" ucap Karina membuat Abi menganggikan kepalanya sambil tersenyum.
"Wah.... kalian ternyata memiliki kisah kasih tak sampai" ucap Serena "Tapi Bi kamu terlambat, Karina sudah menikah lo kalau kamu berharap bisa dekat lagi sama Karina" goda Serena.
__ADS_1
"Hahaha nggaklah, kalau udah ditolak pantang bagi saya buat mengejar perempuan yang pernah menolak saya Ren" tawa Abi.
"Sok cakep lo Bi" ucap Serena.
"Ngomong-ngomong kenapa Dokter Karina dan Dokter Serena datang kemari?" tanya Abi.
"Mama saya dirawat disini" jelas Karina sendu.
"Siapa namanya?" tanya Abi.
"Herlina" ucap Serena saat melihat Karina lagi-lagi menundukkan kepalanya dan air matanya menetes membuat Serena segera menjawab pertanyaan Abi.
"Mari ikut aku kebetulan aku adalah dokter yang menangani Ibu Herlina!" ucap Abi.
tbc...
Selamat idul Adha mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏
__ADS_1