Karina Dan Alfa

Karina Dan Alfa
Kekahwatiran Karina


__ADS_3

Karina dan Serena melangkahkan kakinya mengikuti Dokter Abi kedalam ruangannya. Abi menjelaskan kondisi Herlina saat ini. Herlina mengalami Gangguan pasca-trauma (post-traumatic stress disorder/PTSD)  adalah gangguan mental yang terjadi setelah seseorang mengalami kejadian yang traumatis, seperti kematian anggota keluarga yang dicintai secara tiba-tiba, pelecehan seksual, atau bencana alam.


Herlina mengalami gangguan jiwa karena kematian suaminya dan gangguan ini bertambah berat karena juga ada rasa bersalah yang membuatnya merasa jika ia telah kehilangan putrinya sekaligus suaminya, orang yang sangat berarti baginya.


Setelah mendengar penjelasan Dokter Abi, Karina memutuskan untuk melihat Herlina dari jauh hingga kondisinya membaik. Abi menjelaskan beberapa hari ini Herlina sudah stabil hanya saja saat ini ia sering melamun dan membutuhkan beberapa waktu lagi untuk pulih.


Saat ini Karina dan Serena sedang melihat Herlina yang sedang duduk sendirian ditaman sambil menatap lurus kedepan tanpa ekspresi. Karina bisa melihat wajah pucat Mamanya. "Mama Ren hiks... hiks... " tangis Karina pecah membuat Serena meneluk Karina.


"Sabar Rin, ingat kata Dokter Abi. Mamamu bisa sembuh dan sudah stabil, hanya perlu beberapa waktu lagi agar membuatnya menerima semuanya Rin!" ucap Serena.


"Apa dia akan mengenaliku Ren?" tanya Karina.


"Tentu saja Rin, dia ternyata sangat menyayangimu Rin. Buktinya dia selalu memujimu ketika dia stres berat seperti saat jni. Kamu adalah putri yang sangat dia sayangi dan dia banggakan" ucap Serena.


Sakti baru saja datang untuk melihat Mamanya dana ia melihat Serena sedang memeluk Karina membuatnya mempercepat langkahnya mendekati Karina dan Serena. Karina melihat kedatangan Sakti dan ia segera melepaskan pelukan Serena. Ia menatap Sakti dengan tatapan sendu dan wajah bersimbah air mata. Saat Sakti berada tepat dihadapanya Karina segera memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Tangis Karina kembali pecah membuat Sakti mengelus kepala Karina dengan lembut. "Kok nangis lagi dek?" ucap Sakti.


"Kak... Karin nggak sanggup ngeliat Mama kita yang selalu tampak cantik seperti itu hiks... hiks... Karin kangen Mama Kak" ucap Karina. "Maaf Kak kalau Karin, terlalu cengeng" ucap Karina memnuat Sakti menghela napasnya.


"Karin harus percaya Mama pasti sembuh!" ucap Sakti.


"Iya Kak" ucap Karina. "Kakak berhasil mendapatkan bantuan untuk menyelamatkan perusahaan Papa?" tanya Karina karena ia khawatir dengan kondisi Sakti saat ini. Apalagi cita-cita Kakaknya untuk melanjutkan kuliah diluar negeri telah dibatalkan karena Sakti ingin menyelamatkan perusahaan keluarganya.


"Iya Karin, kamu nggak usah kahwatir sekarang fokus sama resepsi pernikahan kamu!" ucap Sakti membuat Karina menganggukkan kepalanya.


Sakti tidak pernah berpikir akan menjalankan pernikahan bisnis. Ternyata apa yang dilakukan Mamanya kepada Karina akhirnya menimpa dirinya. Sakti tidak ingin Karina tahu tentang pernikahannya ini dan merahasiakanya karena tidak ingin Karina khawatir.


"Rumah kita disita, Kakak sekarang tinggal dimana?" tanya Karina khawatir karena pengacara mendatanginya dan mengatakan tentang rumah orang tuanya yang telah disita bank.


"Rumah kita baik-baik saja, masalah hutang telah Kakak selesaikan Karin dan kamu tidak usah khawatir!" jelas Sakti. Serena merasa legah karena setidaknya masalah sahabatnya telah berkurang.

__ADS_1


"Kak... Suami Karin sering menghubungi Kakak?" tanya Karina.


"Iya" ucap Sakti menepuk-nepuk pelan kepala Karina.


"Kok Kakak jarang menghubungi Karina Kak? tanya Karina.


"Karena Kakak hanya ingin memastikan kepada Alfa jika dia bisa dipercaya untuk menjaga kamu!" ucap Sakti. Itu memang salah satu alasanya tapi alasanya yang lain sebenarnya juga untuk menyelesaikan kasus pengancaman itu. "Nanti sore saja Kakak kesini lagi, sekarang ayo Kakak antar kalian pulang!" ucap Sakti.


"Aku pulang sendiri saja soalnya aku mau kerumah calon mertua!" ucap Serena.


"Nggak apa-apa Ren biar Kakak sekalian antar kamu kesana!" ucap Sakti.


"Nggak usah Kak, aku naik taksi aja soalnya ada yang mau dibeli juga!" ucap Serena.


"Yaudah hati-hati ya Ren!" ucap Karina tersenyum membuat Serena mengangkat jari jempolnya dan ia segera pamit lalu pergi meninggalkan Sakti dan Karina.

__ADS_1


tbc...


__ADS_2